Bulan April coy, siapa yang sempet kena april MOP hayooo. Hahahaha. Sebenernya saya nggak pernah ngalamin sendiri sih, dikerjain atau pun ngerjain orang pada saat april MOP. Tapi ya lucu aja ketika ada orang yang lagi apes dikerjain abis-abisan sama temennya. Antara emang nggak tahu kalo hari itu adalah tanggal 1 april atau pura-pura bego aja, kan kasian effort temen-temennya yang udah ngerjain kalo sampe gagal.
Nah kemarin saya juga sempet nih mau di kerjain ala-ala april MOP. Tapi emang dasarnya saya memiliki intelegensi yang tinggi, dih tapi Matematika dapet 6 di ujian negara, akhirnya bisa saya katakan april MOP itu pun gagal. Oknum yang bermaksud ngerjain saya itu adalah rekan sekerja saya yang akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu bersama saya. Karena dia baru saja resign dari tempat kerja saya, akhirnya saya mau tidak mau ya merasa kehilangan juga. Nggak mau ngakuin sih sebenarnya. Pada saat 1 april itulah dia ngasih kabar ke saya kalo tiba-tiba malam ini dia harus pulang ke Jogja, kota asalnya. Alibi nya sih udah di beliin tiket sama bapaknya. Percaya nggak percaya ya semua informasi yang dia berikan saya iya in aja. Biar kesannya cool kan.
Selidik punya selidik, asik bahsa saya asli kayak sastra 90-an, alih-alih pulang ke Jogja, dia malah lagi nemenin rekan kerja kami ke acara pernikahan. Kan sinting. Mana saya taunya dari junior saya dikantor lagi. Ceritanya dia nggak sadar kalo ternyata junior saya itu juga diundang ke pernikahan yang sama. Kan bego. Ya udah sih gitu aja.
Ngerasa keselnya soalnya ganggu banget, saya waktu itu yang lagi karaokean jadi kepikiran abis. Mau nggak percaya tapi kalo beneran ya kehilangan juga. Sampe terbesit keinginan untuk nyamperin ke Airport ala-ala Cinta dan Rangga. Tapi saya yang jadi pramugarinya yang lewat di belakang mereka. Ya pokoknya begitu lah. Dan hubungan kami yang retak habis sudah, luluh lantak tak berbekas. Ini apa coba. Hahahahaha
Oh iya gaes, saya lupa kalo cerita ke Lombok bulan lalu masih to be continued. Kemarin ceritanya sampe tarif penyebrangan ke Gili. Oke sekarang kisahnya udah sampe Gili nih. Hahahahaha. Gili Trawangan adalah sebuah pulau yang menyenangkan. Dengan pasir putih yang diselimuti buih ombak berwarna putih yang saling bertabrakan membuat suasana pantai yang panas menjadi tetap panas sih. Tapi asik aja buat tetep stay disana, selfie-selfie sampe mampus. Bisa kalian bayangkan tiga pria dewasa tengah asik selfie sendiri-sendiri di pinggiran pantai. Kan aneh. Tapi demi stabilitas eksistensi di dunia sosial media akhirnya semuanya disah-sahin aja. Parah ya. Kasian.
Selain keelokan semua tempat yang nampak bagus di foto dari sisi mana pun dan oleh siapa pun, Gili Trawangan juga menawarkan paket wisata yang beragam. Dari paket snorkling 3 pulau yang dibandrol dari harga 100 ribu selama 5 jam yaitu dari jam 11 siang sampe jam 4 sore, sampe penyewaan sepeda atau delman untuk sekedar menikmati keseluruhan pulau Gili Trawangan.
Kami sampai di Gili Trawangan di jam yang nanggung. Nanggung karena mau ikut snorkling 3 pulau Gili udah kesiangan dan mau party di pantai juga masih kepagian. Alhasil kami hanya mengitari pulau dengan berjalan kaki sampai turtle point, dan berenang-renang dengan asyik sampai agak sore. Setelah agak puas, agak karena sepertinya kami tidak akan pernah puas dengan Gili Trawangan, kami pun memutuskan untuk mencari makan. Sebenarnya kami masih bingung antara mau menginap di Gili Trawangan atau kembali ke Lombok mengingat waktu yang kami miliki sangatlah terbatas.
Sambil makan seadanya di pinggiran pantai dekat penyebrangan kami pun berdiskusi panjang mengenai nasib kami bertiga. Mau dibawa kemanakah hubungan ini. Lah salah cerita. Opsinya adalah menghabiskan malam di Gili Trawangan, mencari penginapan murah dan berpesta sampai pagi atau kembali ke Lombok menginap di pantai senggigi lalu paginya lanjut berkelana di Lombok.
Setelah makan nasi goreng seharga 25 ribu rupiah dan cukup mengenyangkan serta lezis kami pun sepakat untuk meninggalkan pulau Gili Trawangan. Sayang juga rasanya tidak bisa menikmati pulau tersebut lebih lama, namun kami tidak mau hanya menghabiskan waktu di Gili saja, kami ingin melihat tempat indah lain di sekitaran pulau Lombok. Dih, maruk ya. Isu keuangan sih yang jadi penyebab nomer dua. Hahahaha.
Nah ini baru sampe Gili Trawangan ya teman-teman. Ini belum sampai ke eksploring Lombok menggunakan sepeda motor yang lumayan menghitamkan kulit. Tapi saya mesti balik kerja dulu. Hahahaha. Maklum pegawai ala-ala, ngantor isinya ya cuma numpang ngenet doang. Terima kasih atas kebersediaannya untuk menyimak blog saya dan sampai jumpa.
Thursday, 7 May 2015
Thursday, 19 March 2015
Lombok Lombok an #1
Selamat bulan maret kawan-kawan semua. Bagaimana bulan maret kalian?Biasa saja kah?Hahahaha. Nggak tau kenapa ya tapi bulan ini kerasa nya begitu cepat berlalu. Seperti kehadiranmu yang berbanding lurus dengan berjalannya bulan ini. Haseeek.
Pada awal bulan maret ini saya sudah didatangi oleh teman-teman baik saya. Memang sih ini bukan musim liburan, tapi karena sisa libur saya juga banyak jadi ya saya senang-senang saja menemani mereka liburan di Bali. Alhasil saya pun mengambil libur 4 hari agar bisa menyambut teman-teman saya ini. 5 hari sih sebenarnya sama hari minggu. Dan menjadi guide sih lebih tepatnya daripada menyambut. Tapi sungguh menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama mereka mengingat sudah beberapa bulan belakangan ini saya cukup disibukkan dengan pekerjaan saya yang nggak sibuk-sibuk amat sih sebenarnya.
Tidak berhenti refreshing di Bali saja, kami pun yang memang dari awal berencana travelling bersama akhirnya memutuskan untuk ke pulau Lombok. Kami hanya memiliki 2 hari untuk menghabiskan waktu disana. Berangkat dari Bali dengan mengendarai sepeda motor, kamipun menyebrang ke Lombok pada pukul 10 malam. Ini sudah kami perhitungkan agar keesokan paginya kami bisa langsung menyambangi Gili Trawangan.
Keberuntungan berada di pihak kami. Tidak sampai 10 menit menunggu, kami pun naik ke dalam kapal fery yang mengangkut berbagai jenis manusia dan kendaraan. Tarif penyeberangan adalah 125 ribu per motor. Menyeberang dari pelabuhan Padang Bai ke pelabuhan Lembar menghabiskan waktu 4 jam. Beruntungnya kami punya teman yang tinggal di Lombok dan tempat tinggalnya pun sangat dekat sekali dari pelabuhan Lembar. Maklum lah ia bekerja di PELINDO jadi ya kosannya nggak jauh-jauh amat dari laut. Yah ala-ala gadis pelabuhan lah ya. Setelah sampai di pelabuhan Lembar kami pun memutuskan untuk menginap di tempat teman kami tersebut. Tidur berdempet-dempetan pun tidak jadi masalah karena memang judul travelling kita kali ini adalah lowbudget-travelling. Kali ini? Kayak nya baru ini deh kali pertama kami bepergian bersama. Hahaha.
Ketika pagi datang dan kami telah bersiap, kami pun memilih Gili Trawangan sebagai tujuan pertama kami. Perjalanan dari Lembar menuju pelabuhan Bangsal menghabiskan waktu sekitar 2 jam melewati pusat kota Mataram. Untuk masalah makan jangan khawatir, ada banyak warung pinggiran yang tersedia. Rata-rata makanan disini dibandrol dengan harga 10 ribu rupiah, yah maklum lah keliatan banget kalo lagi jalan-jalan jadi sudah pasti dikenakan harga wisatawan oleh ibu-ibu warung yang gampang diajak becanda itu. Kami sebenarnya belum tahu mau menginap dimana, jadinya kami hanya membawa satu tas penuh pakaian dan peralatan hidup untuk satu hari.
Sampai di Bangsal kami menitipkan motor di penitipan motor setempat. Walaupun Lombok terkenal dengan issue curanmor yang marak terjadi tetapi penitipan disini dijamin aman. Hal ini dikarenakan bentuknya berupa rumah warga setempat yang disulap menjadi garasi besar. Jadi nggak khawatir motor akan kehujanan atau kepanasan apalagi hilang. Tarif penitipan motor adalah 5 ribu untuk setengah hari, dan 10 ribu untuk sehari.
Penyeberangan dari pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan pun tidak mahal, Hanya merogoh kocek 15 ribu per orang plus 3 ribu untuk retribusi pariwisata. Perjalanan menyebrang pun tidak terlalu lama, hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Tapi harus diingat bahwa kapal tersebut adalah kapal kayu yang digerakkan oleh tenaga motor. Jadi ayunan gelombang sangatlah berasa, apalagi kalo emang ombaknya lagi gede. Maka sediakanlah tas plastik jika kalian tidak tahan dengan gelombang laut. Dan satu lagi, jika badan kalian tergolong besar maka ada baiknya untuk memperhatikan keseimbangan kapal. Cari deretan yang sekiranya tidak penuh sesak karena keseimbangan kapal sangatlah penting untuk keselamatan bersama. Keliatan ngeri ya, padahal biasa aja sih. Cuma riweuh aja jadi omongan penumpang yang lain kalo kapal berat sebelah gara-gara kita.
Baru menyeberang saja mata kita langsung disuguhi dengan pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Warna biru muda dan hijau tosca melebur menjadi satu diantara gunung-gunung yang terlihat dari kejauhan. Beberapa pulau pun terlihat ketika perjalanan sampai di menit ke 30. Pulau dengan pohon-pohon hijau yang tumbuh lebat di atas pasir pantai yang berwarna putih bersih. Kalian akan merasa berada di dunia lain. Terus keinget lagi kalo masih ada di Indonesia ketika mencium bau badan bapak-bapak yang entah darimana asalnya yang duduk disamping kalian. Hahahha. Mohon maklum karena kapal ini adalah transportasi umum warga-warga sekitar yang berjualan atau tinggal di Gili Trawangan. Kalo mau lebih VIP ada kok fast boat yang hanya memakan waktu 15 menit. Dibandrol dengan harga 85 ribu perorang. Heii ingat, ini adalah lowbudget travelling ya.
Eh gila, kalo saya mau ceritain semuanya bisa abis puluhan paragraf kayaknya. Untuk menjaga stabilitas panjang blog saya, sepertinya cerita saya harus bersambung dulu. Yaah ala-ala sinetron tersanjung lah ya. Biar seru, sembari nyari sponsor tambahan. Hahhaha. Ya sudah, ceritanya saya lanjut nanti lagi ya temans. Saya mau siap-siap nyepi dulu. Alih-alih ikutan nyepi, saya malah heboh mikirin mau escape kemana selama nyepi berlangsung. Hamsyong juga kalo mau diem dikosan sendirian.
Begitu dulu sepenggal kisah bepergian saya bersama kawan-kawan SMA saya yang tabu untuk disebutkan namanya satu persatu. Selamat menyambut hari raya Nyepi bagi yang merayakan, dan selamat berlong weekend bagi yang tidak merayakan. Daaaagh.
Pada awal bulan maret ini saya sudah didatangi oleh teman-teman baik saya. Memang sih ini bukan musim liburan, tapi karena sisa libur saya juga banyak jadi ya saya senang-senang saja menemani mereka liburan di Bali. Alhasil saya pun mengambil libur 4 hari agar bisa menyambut teman-teman saya ini. 5 hari sih sebenarnya sama hari minggu. Dan menjadi guide sih lebih tepatnya daripada menyambut. Tapi sungguh menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama mereka mengingat sudah beberapa bulan belakangan ini saya cukup disibukkan dengan pekerjaan saya yang nggak sibuk-sibuk amat sih sebenarnya.
Tidak berhenti refreshing di Bali saja, kami pun yang memang dari awal berencana travelling bersama akhirnya memutuskan untuk ke pulau Lombok. Kami hanya memiliki 2 hari untuk menghabiskan waktu disana. Berangkat dari Bali dengan mengendarai sepeda motor, kamipun menyebrang ke Lombok pada pukul 10 malam. Ini sudah kami perhitungkan agar keesokan paginya kami bisa langsung menyambangi Gili Trawangan.
Keberuntungan berada di pihak kami. Tidak sampai 10 menit menunggu, kami pun naik ke dalam kapal fery yang mengangkut berbagai jenis manusia dan kendaraan. Tarif penyeberangan adalah 125 ribu per motor. Menyeberang dari pelabuhan Padang Bai ke pelabuhan Lembar menghabiskan waktu 4 jam. Beruntungnya kami punya teman yang tinggal di Lombok dan tempat tinggalnya pun sangat dekat sekali dari pelabuhan Lembar. Maklum lah ia bekerja di PELINDO jadi ya kosannya nggak jauh-jauh amat dari laut. Yah ala-ala gadis pelabuhan lah ya. Setelah sampai di pelabuhan Lembar kami pun memutuskan untuk menginap di tempat teman kami tersebut. Tidur berdempet-dempetan pun tidak jadi masalah karena memang judul travelling kita kali ini adalah lowbudget-travelling. Kali ini? Kayak nya baru ini deh kali pertama kami bepergian bersama. Hahaha.
Ketika pagi datang dan kami telah bersiap, kami pun memilih Gili Trawangan sebagai tujuan pertama kami. Perjalanan dari Lembar menuju pelabuhan Bangsal menghabiskan waktu sekitar 2 jam melewati pusat kota Mataram. Untuk masalah makan jangan khawatir, ada banyak warung pinggiran yang tersedia. Rata-rata makanan disini dibandrol dengan harga 10 ribu rupiah, yah maklum lah keliatan banget kalo lagi jalan-jalan jadi sudah pasti dikenakan harga wisatawan oleh ibu-ibu warung yang gampang diajak becanda itu. Kami sebenarnya belum tahu mau menginap dimana, jadinya kami hanya membawa satu tas penuh pakaian dan peralatan hidup untuk satu hari.
Sampai di Bangsal kami menitipkan motor di penitipan motor setempat. Walaupun Lombok terkenal dengan issue curanmor yang marak terjadi tetapi penitipan disini dijamin aman. Hal ini dikarenakan bentuknya berupa rumah warga setempat yang disulap menjadi garasi besar. Jadi nggak khawatir motor akan kehujanan atau kepanasan apalagi hilang. Tarif penitipan motor adalah 5 ribu untuk setengah hari, dan 10 ribu untuk sehari.
Penyeberangan dari pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan pun tidak mahal, Hanya merogoh kocek 15 ribu per orang plus 3 ribu untuk retribusi pariwisata. Perjalanan menyebrang pun tidak terlalu lama, hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Tapi harus diingat bahwa kapal tersebut adalah kapal kayu yang digerakkan oleh tenaga motor. Jadi ayunan gelombang sangatlah berasa, apalagi kalo emang ombaknya lagi gede. Maka sediakanlah tas plastik jika kalian tidak tahan dengan gelombang laut. Dan satu lagi, jika badan kalian tergolong besar maka ada baiknya untuk memperhatikan keseimbangan kapal. Cari deretan yang sekiranya tidak penuh sesak karena keseimbangan kapal sangatlah penting untuk keselamatan bersama. Keliatan ngeri ya, padahal biasa aja sih. Cuma riweuh aja jadi omongan penumpang yang lain kalo kapal berat sebelah gara-gara kita.
Baru menyeberang saja mata kita langsung disuguhi dengan pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Warna biru muda dan hijau tosca melebur menjadi satu diantara gunung-gunung yang terlihat dari kejauhan. Beberapa pulau pun terlihat ketika perjalanan sampai di menit ke 30. Pulau dengan pohon-pohon hijau yang tumbuh lebat di atas pasir pantai yang berwarna putih bersih. Kalian akan merasa berada di dunia lain. Terus keinget lagi kalo masih ada di Indonesia ketika mencium bau badan bapak-bapak yang entah darimana asalnya yang duduk disamping kalian. Hahahha. Mohon maklum karena kapal ini adalah transportasi umum warga-warga sekitar yang berjualan atau tinggal di Gili Trawangan. Kalo mau lebih VIP ada kok fast boat yang hanya memakan waktu 15 menit. Dibandrol dengan harga 85 ribu perorang. Heii ingat, ini adalah lowbudget travelling ya.
Eh gila, kalo saya mau ceritain semuanya bisa abis puluhan paragraf kayaknya. Untuk menjaga stabilitas panjang blog saya, sepertinya cerita saya harus bersambung dulu. Yaah ala-ala sinetron tersanjung lah ya. Biar seru, sembari nyari sponsor tambahan. Hahhaha. Ya sudah, ceritanya saya lanjut nanti lagi ya temans. Saya mau siap-siap nyepi dulu. Alih-alih ikutan nyepi, saya malah heboh mikirin mau escape kemana selama nyepi berlangsung. Hamsyong juga kalo mau diem dikosan sendirian.
Begitu dulu sepenggal kisah bepergian saya bersama kawan-kawan SMA saya yang tabu untuk disebutkan namanya satu persatu. Selamat menyambut hari raya Nyepi bagi yang merayakan, dan selamat berlong weekend bagi yang tidak merayakan. Daaaagh.
Tuesday, 24 February 2015
Kisah Cinta Lainnya
Berjalan mundur ke akhir bulan Februari, horeee sudah mau masuk bulan maret dimana saya punya rencana vacation di bulan tersebut. Kalo jadi sih, hehe. Masih dari perantauan yang penuh sesak dengan kadatangan turis cina yang selalu stabil jumlahnya. Dan masih juga dari sudut ruangan saya, dibalik meja kerja saya yang udah kayak meja dapur karena ada gelas, toples gula, sendok plastik, dan beberapa kantung teh yang tergeletak begitu saja.
Di postingan sebelumnya saya menulis kisah tentang kedua adik junior saya yang akhirnya berhasil menyatukan hati mereka dalam ikatan kekasih. Nah sekarang saya mau bercerita tentang kisah cinta yang lain. Masih menyangkut junior saya yang memendam perasaan pada kakak angkatannya alias teman saya seangkatan. Junior saya ini wanita dengan rambut lurus yang mengembang, tinggi badan dibawah rata-rata, dan berat badan sedikit lebih dari kata proporsional. Ia merupakan mahasiswa jurusan IT yang berasal dari sisi barat kota Semarang. Logatnya yang medok dan akhir kalimat yang bernada adalah ciri khas nya. Pertama kali saya mengenalnya adalah ketika diadakan audisi untuk lomba paduan suara. Waktu itu ia masih pendiam dan tidak banyak tingkah. Berbeda dengan sifat aslinya yang baru saya ketahui beberapa bulan kemudian.
Perjalanan cintanya bisa dikatakan kurang beruntung. Selama saya mengenalnya saya tidak pernah melihatnya pacaran dengan seorang pria. Bukan berarti dia lesbian yaaa, jangan underestimate gitu, buat seorang wanita dari sisi kota seperti junior saya ini bukanlah hal yang mengagetkan jika selama hidupnya belum pernah berpacaran. Pasalnya norma sangat dijunjung tinggi di masyarakat dan control dari orang tua bisa dikatakan lebih protektif mengingat pergaulan yang semakin ekstrim saat ini. Aseek sok jadi pengamat pergaulan remaja. Hahahahha.
Namun ketika berada ditahun ketiganya di universitas, junior saya ini bertemu dengan teman saya. Seorang aktivis organisasi yang bersifat dingin dan lebih banyak menghabiskan waktunya di depan laptop daripada bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Mereka tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan yang sama. Dari sanalah benih-benih cinta itu tumbuh. Mereka suka makan bersama, pergi bersama, curhat, serta melakukan hal-hal yang mengasyikkan bersama. Walaupun tidak hanya berdua saja, namun dari terbiasa akhirnya junior saya ini jadi kecanduan. Seakan-akan hala yang dilakukan akan lebih berkesan jika ada teman saya ini yang ikut di dalamnya.
Banyak hal yang mereka lalui bersama. Itu semua membuat mereka jadi saling mengenal karakter masing-masing, walau sering tidak sepaham namun pada akhirnya hubungan mereka tidak pernah terputus. Teman saya ini memang dikenal sebagai pria yang tidak peka, selalu berpikiran positif, dan memiliki jalan pikiran yang lain dari orang kebanyakan. Hal yang membuat junior saya jadi kelabakan untuk menggapai hatinya. Dulu sekali pernah saya katakan sebuah kemungkinan yang membuat dia sedikit membuka hatinya, bagaimana jika seandainya adik junior saya menaruh hati padanya. Hal yang ditanggapinya dengan senyuman geli dan dengan serta merta menampik pemikiran saya itu.
Saya tidak tahu pasti kenapa banyak orang yang memilih saya sebagai partner curhat mereka. Ada yang bilang saya bijaksana, ada yang bilang saya enak diajak bicara, tapi menurut saya itu semua hanya isapan jempol belaka. Ya supaya saya nggak banyak protes ketika mereka mulai bercerita tentang itu ini kepada saya. Saya pun sebenarnya tidak keberatan, karena hobi saya adalah ikut campur dalam kehidupan orang lain. Saya ingin menjadi penting untuk orang lain. Sakit ya saya. Tapi ya gimana lagi, udah terlanjur juga. Hahahahaha.
Tapi kemudian api cinta adk junior saya ini harus segera ia padamkan sendiri. Hal ini dikarenakan besarnya gengsi mengalahkan basarnya rasa cintanya sendiri. Saya sudah berkali-kali memberikan saran untuk mengutarakan perasaan nya secara langsung, namun ia terus saja menolak saran saya. Sampai pada akhirnya mereka lulus satu persatu dan memulai karier pada perusahaan masing-masing. Saya pun mulai disibukkan dengan pekerjaan saya sehingga tidak mengikuti perkembangan hubungan mereka berdua.
Saya pun sering kepo postingan mereka di media sosial. Sama sekali tidak ada postingan yang menggambarkan mereka bertemu atau hang out bersama. Memang sih mereka bekerja di kota yang lumayan jauh, namun setiap bulan mereka pasti ke Semarang mengingat komunitas kami memanglah disana. Sampai suatu ketika bertemulah mereka disebuah acara perkawinan teman baik saya yang memang mengharuskan mereka untuk datang. Saya? Oh jangan ditanya, karena pekerjaan dan jarak yang paling jauh diantara semuanya, saya tidak bisa hadir di acara tersebut.
Usut punya usut, duh mulai lagi rumpinya, walaupun mereka bertemu namun tidak ada komunikasi langsung yang terjadi diantara mereka. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat itu, namun junior saya sudah menggadang-gadangkan bahwa dia sudah bisa move on, dan teman saya memang pada dasarnya gengsi berat sehingga tidak mungkin ia akan memulai interaksi terlebih dahulu. Jadilah mereka seperti dua orang anak gadis ala-ala yang memperebutkan laki-laki yang sama. Jika bertemu akan saling memperhatikan namun gengsi untuk menyapa. Mungkin juga dengan dagu yang diangkat sejengkal kali ya. Hahahahha. Pokoknya rame abis kalo dibayangin. Nggak inget jaman kuliah deh, kemana-mana bareng, makan bareng, tidur kadang sebelahan, cerita ngalor ngidul, ehh dalam hitungan jari tiba-tiba mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal.
By the way, saya harus balik kerja. Hahahaha, kasian amat wi-fi kantor malah saya pakai buat ngepost blog. Tapi jangan sedih, yang ini masih ada lanjutannya. Jadi ya terus follow blog saya, masukin saya dalam lingkaran kalian di google plus dan +1 kalo bisa, dishare juga boleh karena semua tulisan saya sudah mendapatkan ijin dari objeknya. Sekian dulu ngomongin cintanya. Garis besarnya adalah, kalian yakin mau curhat dan minta solusi ke saya? Orang kisah cinta saya sendiri aja berantakan and gak jelas gini. Hihihihihi. Sampai ketemu lagi. Tabi'!!
Di postingan sebelumnya saya menulis kisah tentang kedua adik junior saya yang akhirnya berhasil menyatukan hati mereka dalam ikatan kekasih. Nah sekarang saya mau bercerita tentang kisah cinta yang lain. Masih menyangkut junior saya yang memendam perasaan pada kakak angkatannya alias teman saya seangkatan. Junior saya ini wanita dengan rambut lurus yang mengembang, tinggi badan dibawah rata-rata, dan berat badan sedikit lebih dari kata proporsional. Ia merupakan mahasiswa jurusan IT yang berasal dari sisi barat kota Semarang. Logatnya yang medok dan akhir kalimat yang bernada adalah ciri khas nya. Pertama kali saya mengenalnya adalah ketika diadakan audisi untuk lomba paduan suara. Waktu itu ia masih pendiam dan tidak banyak tingkah. Berbeda dengan sifat aslinya yang baru saya ketahui beberapa bulan kemudian.
Perjalanan cintanya bisa dikatakan kurang beruntung. Selama saya mengenalnya saya tidak pernah melihatnya pacaran dengan seorang pria. Bukan berarti dia lesbian yaaa, jangan underestimate gitu, buat seorang wanita dari sisi kota seperti junior saya ini bukanlah hal yang mengagetkan jika selama hidupnya belum pernah berpacaran. Pasalnya norma sangat dijunjung tinggi di masyarakat dan control dari orang tua bisa dikatakan lebih protektif mengingat pergaulan yang semakin ekstrim saat ini. Aseek sok jadi pengamat pergaulan remaja. Hahahahha.
Namun ketika berada ditahun ketiganya di universitas, junior saya ini bertemu dengan teman saya. Seorang aktivis organisasi yang bersifat dingin dan lebih banyak menghabiskan waktunya di depan laptop daripada bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Mereka tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan yang sama. Dari sanalah benih-benih cinta itu tumbuh. Mereka suka makan bersama, pergi bersama, curhat, serta melakukan hal-hal yang mengasyikkan bersama. Walaupun tidak hanya berdua saja, namun dari terbiasa akhirnya junior saya ini jadi kecanduan. Seakan-akan hala yang dilakukan akan lebih berkesan jika ada teman saya ini yang ikut di dalamnya.
Banyak hal yang mereka lalui bersama. Itu semua membuat mereka jadi saling mengenal karakter masing-masing, walau sering tidak sepaham namun pada akhirnya hubungan mereka tidak pernah terputus. Teman saya ini memang dikenal sebagai pria yang tidak peka, selalu berpikiran positif, dan memiliki jalan pikiran yang lain dari orang kebanyakan. Hal yang membuat junior saya jadi kelabakan untuk menggapai hatinya. Dulu sekali pernah saya katakan sebuah kemungkinan yang membuat dia sedikit membuka hatinya, bagaimana jika seandainya adik junior saya menaruh hati padanya. Hal yang ditanggapinya dengan senyuman geli dan dengan serta merta menampik pemikiran saya itu.
Saya tidak tahu pasti kenapa banyak orang yang memilih saya sebagai partner curhat mereka. Ada yang bilang saya bijaksana, ada yang bilang saya enak diajak bicara, tapi menurut saya itu semua hanya isapan jempol belaka. Ya supaya saya nggak banyak protes ketika mereka mulai bercerita tentang itu ini kepada saya. Saya pun sebenarnya tidak keberatan, karena hobi saya adalah ikut campur dalam kehidupan orang lain. Saya ingin menjadi penting untuk orang lain. Sakit ya saya. Tapi ya gimana lagi, udah terlanjur juga. Hahahahaha.
Tapi kemudian api cinta adk junior saya ini harus segera ia padamkan sendiri. Hal ini dikarenakan besarnya gengsi mengalahkan basarnya rasa cintanya sendiri. Saya sudah berkali-kali memberikan saran untuk mengutarakan perasaan nya secara langsung, namun ia terus saja menolak saran saya. Sampai pada akhirnya mereka lulus satu persatu dan memulai karier pada perusahaan masing-masing. Saya pun mulai disibukkan dengan pekerjaan saya sehingga tidak mengikuti perkembangan hubungan mereka berdua.
Saya pun sering kepo postingan mereka di media sosial. Sama sekali tidak ada postingan yang menggambarkan mereka bertemu atau hang out bersama. Memang sih mereka bekerja di kota yang lumayan jauh, namun setiap bulan mereka pasti ke Semarang mengingat komunitas kami memanglah disana. Sampai suatu ketika bertemulah mereka disebuah acara perkawinan teman baik saya yang memang mengharuskan mereka untuk datang. Saya? Oh jangan ditanya, karena pekerjaan dan jarak yang paling jauh diantara semuanya, saya tidak bisa hadir di acara tersebut.
Usut punya usut, duh mulai lagi rumpinya, walaupun mereka bertemu namun tidak ada komunikasi langsung yang terjadi diantara mereka. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat itu, namun junior saya sudah menggadang-gadangkan bahwa dia sudah bisa move on, dan teman saya memang pada dasarnya gengsi berat sehingga tidak mungkin ia akan memulai interaksi terlebih dahulu. Jadilah mereka seperti dua orang anak gadis ala-ala yang memperebutkan laki-laki yang sama. Jika bertemu akan saling memperhatikan namun gengsi untuk menyapa. Mungkin juga dengan dagu yang diangkat sejengkal kali ya. Hahahahha. Pokoknya rame abis kalo dibayangin. Nggak inget jaman kuliah deh, kemana-mana bareng, makan bareng, tidur kadang sebelahan, cerita ngalor ngidul, ehh dalam hitungan jari tiba-tiba mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal.
By the way, saya harus balik kerja. Hahahaha, kasian amat wi-fi kantor malah saya pakai buat ngepost blog. Tapi jangan sedih, yang ini masih ada lanjutannya. Jadi ya terus follow blog saya, masukin saya dalam lingkaran kalian di google plus dan +1 kalo bisa, dishare juga boleh karena semua tulisan saya sudah mendapatkan ijin dari objeknya. Sekian dulu ngomongin cintanya. Garis besarnya adalah, kalian yakin mau curhat dan minta solusi ke saya? Orang kisah cinta saya sendiri aja berantakan and gak jelas gini. Hihihihihi. Sampai ketemu lagi. Tabi'!!
Monday, 9 February 2015
Kasih Tak Bertepuk Sebelah Tangan
Memasuki bulan februari yang penuh kisah klasik mengenai hari kasih sayang dan sebagainya. Bulan yang penuh pro dan kontra karena cuma di bulan ini postingan media sosial mulai sedikit SARA dengan opini masing-masing. Yasudahlah ya, hidup kok dibikin susah, tinggal jalani saja apa yang diyakini kan beres. Jadi keinget lagunya Lorde yang 'Everybody wants to rule the world', kalo dipikir-pikir bener juga ya. Hmmm namanya juga manusia, apa-apa dibikin repot.
Kalau bicara mengenai kasih sayang tampaknya kisah yag patut saya ceritakan adalah kisah dari teman saya sendiri. Mulai deh ya nyinyir ngomongin orang. Hahahaha. Alkisah dulu sekali waktu saya termehek-mehek sama seseorang, teman saya ini juga termehek-mehek sama orang yang lainnya. Intinya kami tidak termehek-mehek dengan orang yang sama ataupun saling termehek-mehek, Bukan. Karena kami adalah sama-sama lelaki. Dia adalah junior saya dikampus yang lebih mirip sebagai adik bontot yang manjanya nggak ketulungan.
Dulu dia memiliki semacam perkumpulan unik yang memiliki zodiak yang sama. Saya yang tidak memiliki zodiak yang sama awalnya jarang ikut ataupun diikutkan dalam acara kumpul-kumpul mereka. Tapi karena sosok saya yang tampan, bijaksana, tukang nyinyir, dan tukang dandanin orang jadilah saya sering diikutkan dalam kegiatan mereka. Duh kegiatan, udah kayak ibu2 PKK aja bahasanya. Bukan acara arisan, demo masak, kunjungan ke pabrik, atau seminar cara merawat buah hati. Bukan. Namun kegiatan harian yang simple tapi asyik jika dilakukan bersama. Seperti makan.
Dari sana lah saya jadi dekat dengan junior saya ini sampai dia sering berkeluh tentang kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya saya juga kenal dengan wanita yang menjadi tambatan hatinya, dia junior saya juga dan kami juga sering makan bersama. Seorang wanita berkulit kuning langsat yang pernah saya daulat menjadi model foto produk untuk skripsi saya. Sebenarnya mereka pasangan yang biasa saja, hehe, tapi terkadang ada chemistry yang membuat iri saat mereka bersama.
Si wanita sebenarnya memiliki masalah tersendiri dengan kata move on. Ia sangat mengagumi mantan kekasihnya dan sedikit berharap untuk kembali. Namun hidup harus terus berjalan, walau sulit tapi ia tetap membuka hati pada semua laki-laki yang coba mendekatinya. Duh bahasa saya udah kayak penulis novel aja ya.
Nah kalo junior saya yang laki ini kekeuh ngedeketin dari yaa sekitar tahun 2012. Saya inget betul tahun itu karena saya mendamba cinta yang sama tapi dari wanita yang berbeda. Junior saya ini manjadi dekat dengan saya karena yaaa sebut saja senasib. Banyak hal yang ia ceritakan mengenai kisah cintanya, sebagian bahagia dan sebagian yang lain ngenes. Berbanding terbalik dengan saya yang sebagian besar adalah ngenes. Eh ini mau cerita tentang teman saya kok malah saya juga ikut curcol ya. Sorry salah fokus.
Banyak moment yang menggambarkan kedekatan mereka berdua. Walaupun si wanita masih enggan menerima perasaan junior saya, namun ia juga tidak pernah mengambil jarak cukup jauh dengan junior saya ini. Pada satu kesempatan saya pernah bertanya mengenai karakter yang didambakan si wanita tentang pria idaman nya. Secara fisik junior saya tidak masuk kedalam kriteria tersebut namun jika bicara masalah kesetiaan dan tanggung jawab, junior saya masih punya harapan.
Tahun 2012 berlalu tanpa ada kepastian cinta, namun junior saya pantang menyerah. Tahun 2013 ia masih berjuang. Mereka sering mengambil kelas yang sama karena memang jurusan dan angkatan mereka sama. Selain itu mereka juga mengikuti organisasi yang sama sehingga bisa dikatakan mereka sering bersama. Pepatah jawa yang mengatakan 'Trisno jalaran seko kulino' atau cinta datang karena terbiasa itu ada benarnya juga. Mereka tidak hanya dekat sebagai seorang teman tapi lebih dari itu. Saya masih ingat bagaimana ekspresi si wanita ketika junior saya membelikannya sepatu dengan warna favoritnya sebagai hadiah ulang tahun. Ekspresi yang tidak saya dapatkan ketika saya memberikan sesuatu kepada wanita yang saya kagumi. Duh, jadi curcol lagi.
Tahun berganti, demikian juga dengan perasaan. Sampai pada tahun 2014 saya mendapatkan berita dari teman-teman saya di Semarang mengenai kedekatan mereka berdua yang semakin intens. Bahkan tersiar kabar bahwa mereka berdua pacaran. Sebagai biang dari segala issue dan gosip yang menyebar, saya pun tidak mau ketinggalan sehingga saya langsung mengkonfirmasi tentang kebenaran gosip tersebut. Dan benar saja, ketika saya sudah mengibarkan bendera putih pada perjuangan saya, junior saya justru mengibarkan bendera kemenangan. Mereka akhirnya bersama sebagai sepasang kekasih.
Semua usaha pasti ada hasilnya, tidak ada yang sia-sia. Dalam kasus saya sih sebenarnya hal itu tidak terjadi namun dalam kasus junior saya hal tersebut benar-benar terjadi. Tidak ada yang lebih berkesan dari hidup seorang pria selain berhasil mendapatkan wanitanya. Jadi bisa dikatakan bahwa hidup saya belum begitu berkesan bagi saya sendiri. Nah kok saya lagi, duh. Dan kali ini kedekatan mereka benar-benar membuat iri. Tidak hanya saya yang mengharapkan hal yang sama namun juga para jombloers lain yang hanya bisa nyinyir dari belakang. Kalo yang terakhir tadi saya tidak termasuk.
Saya ikut bahagia dengan hasil perjuangan junior saya itu. Berita bersatunya hati mereka itu menjadi salah satu berita teratas dalam pencarian moment abadi dalam hidup saya. Hahahaha, berlebihan banget ya. Tapi itulah saya, manusia yang sering dikatain rempong oleh teman sejawat karena memiliki pemikiran yang berbeda. Ya jadi begitulah cerita cinta yang bisa saya share di bulan kasih sayang ini. Untuk kalimat yang terakhir kalo ada yang nggak setuju diem aja, nggak usah banyak komen, ini lho blog pribadi saya jadi ya suka-suka saya mau nulis apa. Baik selamat merayakan tahun baru cina bagi yang merayakan dan selamat menempuh hidup baru bagi yang baru saja menikah. Sekian cuap-cuap saya di awal bulan februari ini. Adios amigos persyempreee. Assalammuallaikum!!
Kalau bicara mengenai kasih sayang tampaknya kisah yag patut saya ceritakan adalah kisah dari teman saya sendiri. Mulai deh ya nyinyir ngomongin orang. Hahahaha. Alkisah dulu sekali waktu saya termehek-mehek sama seseorang, teman saya ini juga termehek-mehek sama orang yang lainnya. Intinya kami tidak termehek-mehek dengan orang yang sama ataupun saling termehek-mehek, Bukan. Karena kami adalah sama-sama lelaki. Dia adalah junior saya dikampus yang lebih mirip sebagai adik bontot yang manjanya nggak ketulungan.
Dulu dia memiliki semacam perkumpulan unik yang memiliki zodiak yang sama. Saya yang tidak memiliki zodiak yang sama awalnya jarang ikut ataupun diikutkan dalam acara kumpul-kumpul mereka. Tapi karena sosok saya yang tampan, bijaksana, tukang nyinyir, dan tukang dandanin orang jadilah saya sering diikutkan dalam kegiatan mereka. Duh kegiatan, udah kayak ibu2 PKK aja bahasanya. Bukan acara arisan, demo masak, kunjungan ke pabrik, atau seminar cara merawat buah hati. Bukan. Namun kegiatan harian yang simple tapi asyik jika dilakukan bersama. Seperti makan.
Dari sana lah saya jadi dekat dengan junior saya ini sampai dia sering berkeluh tentang kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya saya juga kenal dengan wanita yang menjadi tambatan hatinya, dia junior saya juga dan kami juga sering makan bersama. Seorang wanita berkulit kuning langsat yang pernah saya daulat menjadi model foto produk untuk skripsi saya. Sebenarnya mereka pasangan yang biasa saja, hehe, tapi terkadang ada chemistry yang membuat iri saat mereka bersama.
Si wanita sebenarnya memiliki masalah tersendiri dengan kata move on. Ia sangat mengagumi mantan kekasihnya dan sedikit berharap untuk kembali. Namun hidup harus terus berjalan, walau sulit tapi ia tetap membuka hati pada semua laki-laki yang coba mendekatinya. Duh bahasa saya udah kayak penulis novel aja ya.
Nah kalo junior saya yang laki ini kekeuh ngedeketin dari yaa sekitar tahun 2012. Saya inget betul tahun itu karena saya mendamba cinta yang sama tapi dari wanita yang berbeda. Junior saya ini manjadi dekat dengan saya karena yaaa sebut saja senasib. Banyak hal yang ia ceritakan mengenai kisah cintanya, sebagian bahagia dan sebagian yang lain ngenes. Berbanding terbalik dengan saya yang sebagian besar adalah ngenes. Eh ini mau cerita tentang teman saya kok malah saya juga ikut curcol ya. Sorry salah fokus.
Banyak moment yang menggambarkan kedekatan mereka berdua. Walaupun si wanita masih enggan menerima perasaan junior saya, namun ia juga tidak pernah mengambil jarak cukup jauh dengan junior saya ini. Pada satu kesempatan saya pernah bertanya mengenai karakter yang didambakan si wanita tentang pria idaman nya. Secara fisik junior saya tidak masuk kedalam kriteria tersebut namun jika bicara masalah kesetiaan dan tanggung jawab, junior saya masih punya harapan.
Tahun 2012 berlalu tanpa ada kepastian cinta, namun junior saya pantang menyerah. Tahun 2013 ia masih berjuang. Mereka sering mengambil kelas yang sama karena memang jurusan dan angkatan mereka sama. Selain itu mereka juga mengikuti organisasi yang sama sehingga bisa dikatakan mereka sering bersama. Pepatah jawa yang mengatakan 'Trisno jalaran seko kulino' atau cinta datang karena terbiasa itu ada benarnya juga. Mereka tidak hanya dekat sebagai seorang teman tapi lebih dari itu. Saya masih ingat bagaimana ekspresi si wanita ketika junior saya membelikannya sepatu dengan warna favoritnya sebagai hadiah ulang tahun. Ekspresi yang tidak saya dapatkan ketika saya memberikan sesuatu kepada wanita yang saya kagumi. Duh, jadi curcol lagi.
Tahun berganti, demikian juga dengan perasaan. Sampai pada tahun 2014 saya mendapatkan berita dari teman-teman saya di Semarang mengenai kedekatan mereka berdua yang semakin intens. Bahkan tersiar kabar bahwa mereka berdua pacaran. Sebagai biang dari segala issue dan gosip yang menyebar, saya pun tidak mau ketinggalan sehingga saya langsung mengkonfirmasi tentang kebenaran gosip tersebut. Dan benar saja, ketika saya sudah mengibarkan bendera putih pada perjuangan saya, junior saya justru mengibarkan bendera kemenangan. Mereka akhirnya bersama sebagai sepasang kekasih.
Semua usaha pasti ada hasilnya, tidak ada yang sia-sia. Dalam kasus saya sih sebenarnya hal itu tidak terjadi namun dalam kasus junior saya hal tersebut benar-benar terjadi. Tidak ada yang lebih berkesan dari hidup seorang pria selain berhasil mendapatkan wanitanya. Jadi bisa dikatakan bahwa hidup saya belum begitu berkesan bagi saya sendiri. Nah kok saya lagi, duh. Dan kali ini kedekatan mereka benar-benar membuat iri. Tidak hanya saya yang mengharapkan hal yang sama namun juga para jombloers lain yang hanya bisa nyinyir dari belakang. Kalo yang terakhir tadi saya tidak termasuk.
Saya ikut bahagia dengan hasil perjuangan junior saya itu. Berita bersatunya hati mereka itu menjadi salah satu berita teratas dalam pencarian moment abadi dalam hidup saya. Hahahaha, berlebihan banget ya. Tapi itulah saya, manusia yang sering dikatain rempong oleh teman sejawat karena memiliki pemikiran yang berbeda. Ya jadi begitulah cerita cinta yang bisa saya share di bulan kasih sayang ini. Untuk kalimat yang terakhir kalo ada yang nggak setuju diem aja, nggak usah banyak komen, ini lho blog pribadi saya jadi ya suka-suka saya mau nulis apa. Baik selamat merayakan tahun baru cina bagi yang merayakan dan selamat menempuh hidup baru bagi yang baru saja menikah. Sekian cuap-cuap saya di awal bulan februari ini. Adios amigos persyempreee. Assalammuallaikum!!
Sunday, 25 January 2015
Wedding's Ring
Selamat pagi bulan Januari dengan sisa-sisa hujan yang labilnya ngalahin emosi anak ABG. Hari ini tepat hari senin 26 Januari 2015. Tepat setahun sejak saya memutuskan untuk hijrah ke Bali dan tepat sehari setelah pernikahan teman baik saya dari SMA sampai Kuliah sampai lulus kuliah sampai kerja dan sampai kapan pun kayaknya. Sebenarnya belum banyak hal yang bisa saya banggakan atas kehijrahan saya di pulau Bali ini. Ya paling nggak saya nggak ngerasa depresi kayak tahun lalu lah ya, yang galau antara mau usaha apa jadi suami janda kaya. Namun kabar buruknya adalah saya jadi merasa terlalu nyaman sebagai pekerja. Kenapa bisa? Karena memang kondisi pekerjaan saat ini bikin PW, rasanya pengen disini selama-lama-lamanya. LAY! Tapi senyaman-nyaman nya saya lebih nyaman lagi kalo ada kamu di sisi saya, kamu, iya kamu, kamu yang brewokan itu. GUBRAK!?
Ngomong-ngomong tentang brewok, kemarin teman baik saya baru saja menikah dengan kekasihnya yang tidak punya brewok. Sorry kalo intermezo nya agak maksa dikit, eh banyak, Mereka sudah berpacaran dari jaman batu kalau tidak salah, jadi pantas saja jika awal tahun ini mereka memutuskan untuk melepas masa lajangnya. Sedikit sedih sebenarnya karena tidak bisa hadir memeriahkan pernikahan mereka, Padahal saya sudah menyiapkan paling tidak 10 lagu untuk menghibur para tamu. Termasuk diantaranya 2 musikalisasi puisi dan 1 tari persembahan bertajuk ronggeng dusun kawuh. Dih ini nikahan apa perpisahan anak SD ya.
Jadi pada jaman SMA saya punya sekumpulan teman yang sampe saat ini masih setia berkabar. Dulu kami disatukan karena sama-sama memiliki IQ dibawah rata-rata dengan kelakuan minus serta hobinya bikin malu orang tua. Kami adalah siswa kelas sosial yang menurut pendapat sebagian besar orang memiliki masalah tersendiri. Entah itu di cap nakal, bandel, badung, pemberontak, dan sebagainya. Itulah citra yang orang lain tangkap tentang makhluk-makhluk penghuni kelas sosial seperti kami. Tapi masa depan seseorang tidak bisa ditentukan dari komentar orang lain dong ya.
Tapi jujur kami beda dari anggapan orang-orang tersebut. Kami walau suka bolos tapi tidak pernah di mata pelajaran yang penting dan riskan. Kami suka cabut dari kelas tapi tidak setiap saat, hanya sebelum bel istirahat berbunyi dan sebelum jam pulang. Kami suka merokok tapi tidak di sembarang tempat, hanya di tempat-tempat tertentu yang jauh dari jangkauan guru. Pokoknya kami masih memiliki jiwa-jiwa patuh pada peraturan selama tidak ketahuan. Tapi itulah yang membuat masa SMA kami cukup berkesan sampai saat ini.
Sekarang pun demikian, walaupun sudah bekerja dan terpisah jarak dan waktu, kelakuan kami sering minus. Contohnya suka bikin kehebohan di caffe yang kami kunjungi. Itu hal wajar kan ya, saya rasa semua orang juga pasti begitu. Namun karena masalah jarak itu tadi alhasil banyak diantara kami yang tidak dapat hadir pada pernikahan teman baik kami tersebut. Salah satunya adalah saya yang kalo ditanya mengapa saya tidak datang, pasti saya akan menjawab dengan alasan yang berbeda-beda, tergantung siapa yang bertanya. Hehe. Padahal kalo dibandingkan dengan teman saya yang lain, teman saya ini yang paling dekat dengan saya. Alhasil saya mendelegasikan kakak dan ibu saya untuk mewakili saya. Aseek udah kayak rapat OSIS aja, pake delegasi segala.
Kalo mau di ingat-ingat teman saya ini adalah sosok yang paling cheerful, yah 11 12 lah ya dengan anggota wanita yang lain. Jadi bisa dibayangkan dong bagaimana hebohnya saat mereka semua berkumpul. Dia memiliki semangat yang tinggi, itulah sebabnya dia masih saja bertahan berkarier menjadi supervisi marketing di salah satu bank ternama di Indonesia. Saking semangatnya dia, dulu waktu saya sempat naksir dengan orang, dialah yang memberi saya ide tentang bagaimana cara menembak. Dari diantar membeli kura-kura di pasar hewan sampai mencari bocoran tentang apa saja yang disukai oleh orang yang saya taksir itu. Walaupun hasilnya kandas seperti cerita cinta saya yang lain, tapi effort nya dia patut diberi jempol lah.
Dia dulu dan sekarang tentunya mengalami banyak sekali perubahan. Selain badannya yang semakin tambun, kulitnya yang semakin bersih, rambutnya yang semakin tertata rapi, ia juga memiliki gaya hidup yang bisa dibilang lebih tinggi. Tapi dia tidak pernah berubah dimata kami, tetaplah seorang teman yang memiliki seribu satu cerita untuk diungkapkan dan memiliki jutaan ekspresi yang tak jarang membuat kami terkekeh. Hal yang sedikit banyak menjadi magnet dan daya tarik tersendiri. Jadi beruntunglah si suami yang mendapatkan teman kami tersebut.
Kini berkurang sudah satu teman kami yang kalo ngomong panjang banget kayak lintasan kereta api. Semoga setelah menikah ia menjadi istri alim, pendiam, dan kalo tertawa nggak terlalu lebar mulutnya. Hahahaha. Yah walaupun saya berada jauh disini namun saya tetap setia berdoa semoga menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera baik lahir atau pun batin. Mempunyai anak-anak yang sehat dan lucu nantinya, kalo cute ntar boleh-boleh aja dijodohin sama anak saya yang setengah bule. Ngarep polll. Hahahaha. Saya masih terus berangan-angan punya istri kaukasian biar anak-anak saya bisa kece-kece. Kan enak tinggal saya orbitin jadi artis deh gedenya, lumayan hari tua tinggal ongkang-ongkang kaki. Hehe, ekploitasi anak pol, kalo begini tujuannya nggak bakal di ijabah sama tuhan deh kayaknya.
Oke sekian dulu cuap-cuap nggak penting saya di akhir bulan Januari yang menegangkan ini. Menegangkannya adalah, kira-kira udah dapet bonus kerja belom ya. Hahahaha, parah ih. Maklum lah, sekarang jadi pekerja yang hidupnya ketergantungan sama gaji dan tunjangan. Kasian ya saya. Tapi ya semua butuh proses, berlian aja berasal dari batu yang buluk dulu baru bisa diasah berkali-kali supaya bisa jadi berlian yang indah. Begitu juga manusia, so do the best ajalah kayaknya. Sudah ah, capek saya. Good bye. Tabi'!!
Ngomong-ngomong tentang brewok, kemarin teman baik saya baru saja menikah dengan kekasihnya yang tidak punya brewok. Sorry kalo intermezo nya agak maksa dikit, eh banyak, Mereka sudah berpacaran dari jaman batu kalau tidak salah, jadi pantas saja jika awal tahun ini mereka memutuskan untuk melepas masa lajangnya. Sedikit sedih sebenarnya karena tidak bisa hadir memeriahkan pernikahan mereka, Padahal saya sudah menyiapkan paling tidak 10 lagu untuk menghibur para tamu. Termasuk diantaranya 2 musikalisasi puisi dan 1 tari persembahan bertajuk ronggeng dusun kawuh. Dih ini nikahan apa perpisahan anak SD ya.
Jadi pada jaman SMA saya punya sekumpulan teman yang sampe saat ini masih setia berkabar. Dulu kami disatukan karena sama-sama memiliki IQ dibawah rata-rata dengan kelakuan minus serta hobinya bikin malu orang tua. Kami adalah siswa kelas sosial yang menurut pendapat sebagian besar orang memiliki masalah tersendiri. Entah itu di cap nakal, bandel, badung, pemberontak, dan sebagainya. Itulah citra yang orang lain tangkap tentang makhluk-makhluk penghuni kelas sosial seperti kami. Tapi masa depan seseorang tidak bisa ditentukan dari komentar orang lain dong ya.
Tapi jujur kami beda dari anggapan orang-orang tersebut. Kami walau suka bolos tapi tidak pernah di mata pelajaran yang penting dan riskan. Kami suka cabut dari kelas tapi tidak setiap saat, hanya sebelum bel istirahat berbunyi dan sebelum jam pulang. Kami suka merokok tapi tidak di sembarang tempat, hanya di tempat-tempat tertentu yang jauh dari jangkauan guru. Pokoknya kami masih memiliki jiwa-jiwa patuh pada peraturan selama tidak ketahuan. Tapi itulah yang membuat masa SMA kami cukup berkesan sampai saat ini.
Sekarang pun demikian, walaupun sudah bekerja dan terpisah jarak dan waktu, kelakuan kami sering minus. Contohnya suka bikin kehebohan di caffe yang kami kunjungi. Itu hal wajar kan ya, saya rasa semua orang juga pasti begitu. Namun karena masalah jarak itu tadi alhasil banyak diantara kami yang tidak dapat hadir pada pernikahan teman baik kami tersebut. Salah satunya adalah saya yang kalo ditanya mengapa saya tidak datang, pasti saya akan menjawab dengan alasan yang berbeda-beda, tergantung siapa yang bertanya. Hehe. Padahal kalo dibandingkan dengan teman saya yang lain, teman saya ini yang paling dekat dengan saya. Alhasil saya mendelegasikan kakak dan ibu saya untuk mewakili saya. Aseek udah kayak rapat OSIS aja, pake delegasi segala.
Kalo mau di ingat-ingat teman saya ini adalah sosok yang paling cheerful, yah 11 12 lah ya dengan anggota wanita yang lain. Jadi bisa dibayangkan dong bagaimana hebohnya saat mereka semua berkumpul. Dia memiliki semangat yang tinggi, itulah sebabnya dia masih saja bertahan berkarier menjadi supervisi marketing di salah satu bank ternama di Indonesia. Saking semangatnya dia, dulu waktu saya sempat naksir dengan orang, dialah yang memberi saya ide tentang bagaimana cara menembak. Dari diantar membeli kura-kura di pasar hewan sampai mencari bocoran tentang apa saja yang disukai oleh orang yang saya taksir itu. Walaupun hasilnya kandas seperti cerita cinta saya yang lain, tapi effort nya dia patut diberi jempol lah.
Dia dulu dan sekarang tentunya mengalami banyak sekali perubahan. Selain badannya yang semakin tambun, kulitnya yang semakin bersih, rambutnya yang semakin tertata rapi, ia juga memiliki gaya hidup yang bisa dibilang lebih tinggi. Tapi dia tidak pernah berubah dimata kami, tetaplah seorang teman yang memiliki seribu satu cerita untuk diungkapkan dan memiliki jutaan ekspresi yang tak jarang membuat kami terkekeh. Hal yang sedikit banyak menjadi magnet dan daya tarik tersendiri. Jadi beruntunglah si suami yang mendapatkan teman kami tersebut.
Kini berkurang sudah satu teman kami yang kalo ngomong panjang banget kayak lintasan kereta api. Semoga setelah menikah ia menjadi istri alim, pendiam, dan kalo tertawa nggak terlalu lebar mulutnya. Hahahaha. Yah walaupun saya berada jauh disini namun saya tetap setia berdoa semoga menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera baik lahir atau pun batin. Mempunyai anak-anak yang sehat dan lucu nantinya, kalo cute ntar boleh-boleh aja dijodohin sama anak saya yang setengah bule. Ngarep polll. Hahahaha. Saya masih terus berangan-angan punya istri kaukasian biar anak-anak saya bisa kece-kece. Kan enak tinggal saya orbitin jadi artis deh gedenya, lumayan hari tua tinggal ongkang-ongkang kaki. Hehe, ekploitasi anak pol, kalo begini tujuannya nggak bakal di ijabah sama tuhan deh kayaknya.
Oke sekian dulu cuap-cuap nggak penting saya di akhir bulan Januari yang menegangkan ini. Menegangkannya adalah, kira-kira udah dapet bonus kerja belom ya. Hahahaha, parah ih. Maklum lah, sekarang jadi pekerja yang hidupnya ketergantungan sama gaji dan tunjangan. Kasian ya saya. Tapi ya semua butuh proses, berlian aja berasal dari batu yang buluk dulu baru bisa diasah berkali-kali supaya bisa jadi berlian yang indah. Begitu juga manusia, so do the best ajalah kayaknya. Sudah ah, capek saya. Good bye. Tabi'!!
Thursday, 25 December 2014
Cinta Ketiga
Selamat sore semuanya, selamat natal juga bagi yang merayakan, semoga damai natal menyertai kalian semua. Masih berkutat di bulan desember yang syahdu, dimana hujan turun hampir setiap hari. Kadang pagi-pagi udah hujan, kadang sorean, kadang juga tengah malem. Datengnya nggak disangka-sangka gitu, sama kayak cinta yang bisa datang kapan aja. Asseeek. Kayak pernah ngerasain cinta aja.
Tapi kalo mau ngomongin soal cinta terkadang lucu juga. Masalahnya setiap kata atau tindak-tanduk kita itu jadi reflek, uncontrol, dan terkadang malu-maluin. kita menyebutnya dengan salting. Dan semakin kita bilang kalo itu biasa, semakin itu nggak biasa, ya kan? Contohnya nih, kalo ketemu gebetan pas kita bareng temen-temen. Pasti dong temen-temen yang emang ditakdirkan untuk resek itu bakal banyak mulut dan ngeciehin kita. Dan secara responsif kita akan melakukan hal-hal yang diluar kendali kita tapi dengan warna kuping atau warna muka yang memerah. Dan setelah semua itu terjadi baru deh kita ngerasa kalo kita baru aja melakukan beberapa tindakan bodoh. Misal, jalannya dipercepat tanpa menoleh, atau mungkin malah marah-marah nggak jelas, atau mungkin malah sok asik dan ngerangkul si gebetan sehingga sorak sorai semakin heboh. Pokoknya hal yang bakal disesalin deh.
Tapi dari itu semua hal yang paling bikin nyesel adalah ketika udah terlalu banyak salah tingkah dan terlalu banyak teman yang tahu siapa gebetan kita eh tau-taunya si gebetan ternyata udah punya pacar. Duh sesek rasanya. Kalo mau diumpamakan itu kayak lagi masak nasi di ricecooker, udah ditungguin lama dengan perut keroncongan, ketika setengah jam kemudian di cek lagi ternyata tombol cook nya belum dipencet, kecewa dan kesel dan lucu dan pengen banting tuh rice cooker secara bersamaan.
Sesuatu hal yang bikin galau adalah ketika udah terlanjur bahagia dan dapat respon yang dianggap positif eh terhambat sama status do'i yang ternyata udah nggak single. Mau dilanjutin takut nantinya main hati, tapi pastinya sih bakal pake hati walau niat utamanya mau having fun, dan yang kedua kalo mau langsung putus hubungan, yaelah sayang banget, udah dapet chemistry, udah enak ngobrol sama becandaan nya. Kudu nunggu 3 tahun deh biar bisa dapet yang model begini lagi. Mampus nggak tuh, pusingnya itu udah ngalahin mbak Peggy Melati Sukma Harum Mewangi Sepanjang Hari Seperti Bidadari Titisan Dari Kali . . . . . . . .udah apalnya sampe situ doang.
Kalo udah begini permasalahannya saran saya sih mending segera kabur. Masalahnya kalo udah terlanjur nyaman pasti dong kita pengennya lebih. Perasaan ingin memiliki pastilah ada. Tapi nggak bakal kesampaian, bisa sih sebenarnya kalo kemampuan nikung kalian tingkat dewa bujana, tapi kalo buat kalian yang masih abal-abal dan amatir dalam kisah percintaan, mending back off. Nantinya perasaan cinta kalian bakal dibuat mandi sama gebetan kalian yang udah punya pacar itu. "Emang nggak bisa ya kalo temenan aja?" Kalo udah ada pertanyaan kayak gini bisa salto depan belakang deh kalian. Karena sejatinya seseorang itu haus akan perhatian, jadi ya kalo ada yang ngasih atensi lebih sayang banget ditolak. Tapi kalo udah ditembak aja, beuh, kekeuh deh sama pacarnya dengan berbagai macam pertimbangan. Yah nasib jadi penghibur kekasih orang ya begitu bray. I've been there soalnya.
Sebenarnya itu semua balik lagi sih ke masing-masing individu. Karena ada yang hatinya sensitif yang jarang banget dapet seseorang yang bikin sreg, tapi ketika ketemu seseorang itu langsung pengen memiliki. Ada juga yang hatinya baek aja, kayak baja gitu, mau gimana juga dia enjoy-enjoy aja. Yang penting dapet making love lah ya, jadi ya Do what you love and Love what you do. Asal nggak sampe ngerusak taneman aja deh, macam ayam yang nggak dikandangin.
Yasudahlah, saya pamit dulu. Mau menata hati agar nggak ambyar berantakan lagi, ntar susah ngumpulinnya. Hahahaha, nggak ding. Saya mau merengreng pengeluaran bulanan saya dulu ditambah ada biaya taun baru dan biaya tak terduga pada tanggal merah di bulan Januari. Bisa hamsyong ngurusin duit yang udah kayak oksigen. Sekian cuap-cuap saya yang masih tidak berbobot ini, semoga liburan kalian menyenangkan dan hidup kalian aman sejahtera bahagia lahir dan batin. Amien. Mari ki' di'!!!
Tapi kalo mau ngomongin soal cinta terkadang lucu juga. Masalahnya setiap kata atau tindak-tanduk kita itu jadi reflek, uncontrol, dan terkadang malu-maluin. kita menyebutnya dengan salting. Dan semakin kita bilang kalo itu biasa, semakin itu nggak biasa, ya kan? Contohnya nih, kalo ketemu gebetan pas kita bareng temen-temen. Pasti dong temen-temen yang emang ditakdirkan untuk resek itu bakal banyak mulut dan ngeciehin kita. Dan secara responsif kita akan melakukan hal-hal yang diluar kendali kita tapi dengan warna kuping atau warna muka yang memerah. Dan setelah semua itu terjadi baru deh kita ngerasa kalo kita baru aja melakukan beberapa tindakan bodoh. Misal, jalannya dipercepat tanpa menoleh, atau mungkin malah marah-marah nggak jelas, atau mungkin malah sok asik dan ngerangkul si gebetan sehingga sorak sorai semakin heboh. Pokoknya hal yang bakal disesalin deh.
Tapi dari itu semua hal yang paling bikin nyesel adalah ketika udah terlalu banyak salah tingkah dan terlalu banyak teman yang tahu siapa gebetan kita eh tau-taunya si gebetan ternyata udah punya pacar. Duh sesek rasanya. Kalo mau diumpamakan itu kayak lagi masak nasi di ricecooker, udah ditungguin lama dengan perut keroncongan, ketika setengah jam kemudian di cek lagi ternyata tombol cook nya belum dipencet, kecewa dan kesel dan lucu dan pengen banting tuh rice cooker secara bersamaan.
Sesuatu hal yang bikin galau adalah ketika udah terlanjur bahagia dan dapat respon yang dianggap positif eh terhambat sama status do'i yang ternyata udah nggak single. Mau dilanjutin takut nantinya main hati, tapi pastinya sih bakal pake hati walau niat utamanya mau having fun, dan yang kedua kalo mau langsung putus hubungan, yaelah sayang banget, udah dapet chemistry, udah enak ngobrol sama becandaan nya. Kudu nunggu 3 tahun deh biar bisa dapet yang model begini lagi. Mampus nggak tuh, pusingnya itu udah ngalahin mbak Peggy Melati Sukma Harum Mewangi Sepanjang Hari Seperti Bidadari Titisan Dari Kali . . . . . . . .udah apalnya sampe situ doang.
Kalo udah begini permasalahannya saran saya sih mending segera kabur. Masalahnya kalo udah terlanjur nyaman pasti dong kita pengennya lebih. Perasaan ingin memiliki pastilah ada. Tapi nggak bakal kesampaian, bisa sih sebenarnya kalo kemampuan nikung kalian tingkat dewa bujana, tapi kalo buat kalian yang masih abal-abal dan amatir dalam kisah percintaan, mending back off. Nantinya perasaan cinta kalian bakal dibuat mandi sama gebetan kalian yang udah punya pacar itu. "Emang nggak bisa ya kalo temenan aja?" Kalo udah ada pertanyaan kayak gini bisa salto depan belakang deh kalian. Karena sejatinya seseorang itu haus akan perhatian, jadi ya kalo ada yang ngasih atensi lebih sayang banget ditolak. Tapi kalo udah ditembak aja, beuh, kekeuh deh sama pacarnya dengan berbagai macam pertimbangan. Yah nasib jadi penghibur kekasih orang ya begitu bray. I've been there soalnya.
Sebenarnya itu semua balik lagi sih ke masing-masing individu. Karena ada yang hatinya sensitif yang jarang banget dapet seseorang yang bikin sreg, tapi ketika ketemu seseorang itu langsung pengen memiliki. Ada juga yang hatinya baek aja, kayak baja gitu, mau gimana juga dia enjoy-enjoy aja. Yang penting dapet making love lah ya, jadi ya Do what you love and Love what you do. Asal nggak sampe ngerusak taneman aja deh, macam ayam yang nggak dikandangin.
Yasudahlah, saya pamit dulu. Mau menata hati agar nggak ambyar berantakan lagi, ntar susah ngumpulinnya. Hahahaha, nggak ding. Saya mau merengreng pengeluaran bulanan saya dulu ditambah ada biaya taun baru dan biaya tak terduga pada tanggal merah di bulan Januari. Bisa hamsyong ngurusin duit yang udah kayak oksigen. Sekian cuap-cuap saya yang masih tidak berbobot ini, semoga liburan kalian menyenangkan dan hidup kalian aman sejahtera bahagia lahir dan batin. Amien. Mari ki' di'!!!
Friday, 5 December 2014
Cheese Cake
Hai selamat datang bulan Desember alias gede-gedene sumber. Dimana hujan hampir setiap hari turun di penjuru tanah air. Asyik bahasa saya udah kayak pembawa acara berita aja. Bulan Desember kali ini Bali juga nggak mau ketinggalan nge-hits hujannya sama daerah-daerah lain. Kalo minggu lalu hujannya masih irit-irit dan cenderung panas cuacanya, minggu ini hujannya udah mulai gede-gede kayak batu cincin. Ya tepat sepulangnya saya dari Semarang. Jadi Di Semarang udah ujan dari kapan taun, di Bali masih newbie gitu ujan nya.
Bulan Desember menjadi bulan yang menegangkan kalau menurut saya. Kenapa demikian, hal ini dikarenakan pada bulan ini setiap orang pasti sudah memiliki ancang-ancang untuk improvement di tahun berikutnya, termasuk saya. Sisi menegangkannya adalah, bulan ini semacam menjadi bulan intropeksi dimana kita akan mengkoreksi segala rencana kita di tahun lalu. Apakah sudah terwujud semua atau bahkan nihil, hanya berupa isapan jempol dan angin lalu.
Bulan yang berada di penghujung tahun ini sudah seperti cheesecake yang tinggal potongan terakhir. Antara sayang dan ketagihan ketika mau ngehabisin. Udah harganya mahal, kecil pula, dan jadinya ya nggak kerasa tahu-tahu udah mau habis aja. Duileh yang biasanya makan bekel lauk mendoan aja pake ngomongin cheesecake segala.
Tapi ini serius, bulan ini tuh berasa seperti titik puncak akhir tahun. Penyesalan bakal tumbuh jadi satu deh di bulan ini. Terutama kalau target tahun ini sampai tidak terwujud. Alhasil mencoba ikhlas dan mengulanginya di tahun berikutnya. Tapi ya sampai kapan begitu terus, keburu kiamat. Tapi itu dia enaknya merasakan kehidupan. Toko aja punya target sales perhari, masa kita let it flow aja tanpa embel-embel target dalam hidup kita. Tapi ya balik lagi sih sama prinsip masing-masing orang.
Kira-kira minggu lalu saya sempat pulang ke Semarang. Kota asal saya dimana saya merasakan hidup disana. Banyak cerita yang saya dapatkan namun yang paling berkesan adalah ketika saya secara kebetulan datang ke acara mantan organisasi saya di universitas yaitu paduan suara. Sebenarnya tidak pernah terbesit dibenak saya untuk datang ke acara tersebut karena yang ada dalam otak saya hanyalah family time. Saya pulang karena rindu keluarga. Namun ternyata tuhan berkata lain, saya seperti dipertemukan dengan berbagai kebetulan sehingga saya bisa datang ke acara tersebut.
Seperti yang pernah saya bicarakan bahwa organisasi ini adalah bagian dari hidup saya. Pun orang-orang yang ada di dalamnya. Disanalah saya merasakan bahwa hidup adalah sesuatu yang bisa kita jalani dengan baik asalkan kita tahu apa yang kita inginkan dan kita butuhkan. Bukan seperti cewek-cewek ABG yang kalo ditanyain mau kemana jawabnya terserah, mau makan apa jawabnya terserah, kayak nggak ngerti gitu maunya apa. Kalo kita ngerti apa yang kita inginkan sudah pasti kita akan cari cara untuk mewujudkannya. Seperti saya yang merasa keluarga bukanlah sepenuhnya hidup saya sehingga saya ingin menggunakan waktu yang saya punya untuk orang-orang yang ada dihidup saya termasuk orang-orang dalam organisasi ini. Dari keinginan itu akhirnya munculah jalan sehingga saya bisa menemui mereka satu persatu dan memberikan kontribusi kecil pada organisasi paduan suara tersebut.
Dunia kerja dan pergaulan yang jelas berubah tidak menyurutkan niat kami untuk bertemu. Karena dimanapun tempatnya yang penting adalah manusianya. Saya yakin akan hal tersebut karena saya merasakannya. Pergi ke sebuah caffe akan berbeda rasanya ketika kita datang sendiri, bersama pacar, bersama keluarga, dan bersama teman. Walaupun di satu caffe yang sama. Bersama teman pun bisa berbeda suasananya ketika kita pergi dengan 2 rombongan yang berbeda. Karena tidak semua orang bisa menerima karakter asli yang kita miliki. Sangat sulit menunjukan karakter asli ketika kita bertemu orang-orang baru sehingga pilihannya adalah kita menjadi orang seperti yang mereka duga atau mengikuti ekspektasi mereka tentang bagaimana diri kita. Perlu berbagai moment dan waktu yang tidak sedikit sehingga kita bisa menunjukan taring dan borok kita terhadap seseorang. Dan teman-teman paduan suara saya sudah mengenal bagaimana saya dengan segala kejelekan dan kekurangan saya namun tidak pernah mempermasalahkannya.
Saya cukup terharu juga ketika di setiap tahun ketika saya memberikan refleksi tentang pertemanan itu sendiri, saya bisa membuat teman-teman saya terharu. Karena sebenarnya yang membentuk karakter dan pribadi kita bukanlah orang tua, bukan juga guru, namun teman. Jadi sebenarnya kita saling mempengaruhi. Namun itulah hidup, tidak semua orang bisa mengerti dan menerima diri kita apa adanya. Kalo saya cuekin aja udah, toh juga saya tidak begitu peduli dengan pandangan orang lain.
Berbicara mengenai masalah pencapaian, justru saya merasa belum puas dengan apa yang saya dapatkan sekarang. Bersyukur bukan berarti puas dengan yang kita dapatkan. Sehingga dari sekarang saya sudah asyik menyusun rencana untuk tahun depan. Atau istilah kece nya saya sudah menabung untuk membeli cheese cake yang lebih enak. Jadi ya walaupun porsi nya tetep kecil, karena kalau kebanyakan eneg juga ya, tapi rasanya lezis abis sehingga terkenang di udara. Tapi entah juga, bisa jadi ntar persediaan cheese cake yang lebih enak itu habis trus cuma kedapetan croissant tawar. Ya pokoknya berdoa dan berusaha sajalah supaya dapat yang terbaik. Karena kata dosen saya otak manusia itu sesungguhnya memiliki daya yang besar untuk mempengaruhi alam semesta. Contohnya, kalau dari rumah kita yakin sepanjang perjalanan akan dapat lampu hijau terus di setiap traffic light pasti hal itu akan terjadi. Ya semacam sugesti, saya pernah mengalaminya, dan iya memang benar, Tapi memang dasar manusia pasti memiliki keragu-raguan dan rasa takut sehingga hal tersebut bisa melunturkan keoptimisan kita.
Ya sudahlah, sekian dahulu, aseeek dahulu coy bahasanya, saya akan lanjutkan menikmati penghujung tahun yang nampaknya bakal sibuk dengan kerjaan dan target sales yang puluhan milyar itu. Terimakasih. Tabi'.
Bulan Desember menjadi bulan yang menegangkan kalau menurut saya. Kenapa demikian, hal ini dikarenakan pada bulan ini setiap orang pasti sudah memiliki ancang-ancang untuk improvement di tahun berikutnya, termasuk saya. Sisi menegangkannya adalah, bulan ini semacam menjadi bulan intropeksi dimana kita akan mengkoreksi segala rencana kita di tahun lalu. Apakah sudah terwujud semua atau bahkan nihil, hanya berupa isapan jempol dan angin lalu.
Bulan yang berada di penghujung tahun ini sudah seperti cheesecake yang tinggal potongan terakhir. Antara sayang dan ketagihan ketika mau ngehabisin. Udah harganya mahal, kecil pula, dan jadinya ya nggak kerasa tahu-tahu udah mau habis aja. Duileh yang biasanya makan bekel lauk mendoan aja pake ngomongin cheesecake segala.
Tapi ini serius, bulan ini tuh berasa seperti titik puncak akhir tahun. Penyesalan bakal tumbuh jadi satu deh di bulan ini. Terutama kalau target tahun ini sampai tidak terwujud. Alhasil mencoba ikhlas dan mengulanginya di tahun berikutnya. Tapi ya sampai kapan begitu terus, keburu kiamat. Tapi itu dia enaknya merasakan kehidupan. Toko aja punya target sales perhari, masa kita let it flow aja tanpa embel-embel target dalam hidup kita. Tapi ya balik lagi sih sama prinsip masing-masing orang.
Kira-kira minggu lalu saya sempat pulang ke Semarang. Kota asal saya dimana saya merasakan hidup disana. Banyak cerita yang saya dapatkan namun yang paling berkesan adalah ketika saya secara kebetulan datang ke acara mantan organisasi saya di universitas yaitu paduan suara. Sebenarnya tidak pernah terbesit dibenak saya untuk datang ke acara tersebut karena yang ada dalam otak saya hanyalah family time. Saya pulang karena rindu keluarga. Namun ternyata tuhan berkata lain, saya seperti dipertemukan dengan berbagai kebetulan sehingga saya bisa datang ke acara tersebut.
Seperti yang pernah saya bicarakan bahwa organisasi ini adalah bagian dari hidup saya. Pun orang-orang yang ada di dalamnya. Disanalah saya merasakan bahwa hidup adalah sesuatu yang bisa kita jalani dengan baik asalkan kita tahu apa yang kita inginkan dan kita butuhkan. Bukan seperti cewek-cewek ABG yang kalo ditanyain mau kemana jawabnya terserah, mau makan apa jawabnya terserah, kayak nggak ngerti gitu maunya apa. Kalo kita ngerti apa yang kita inginkan sudah pasti kita akan cari cara untuk mewujudkannya. Seperti saya yang merasa keluarga bukanlah sepenuhnya hidup saya sehingga saya ingin menggunakan waktu yang saya punya untuk orang-orang yang ada dihidup saya termasuk orang-orang dalam organisasi ini. Dari keinginan itu akhirnya munculah jalan sehingga saya bisa menemui mereka satu persatu dan memberikan kontribusi kecil pada organisasi paduan suara tersebut.
Dunia kerja dan pergaulan yang jelas berubah tidak menyurutkan niat kami untuk bertemu. Karena dimanapun tempatnya yang penting adalah manusianya. Saya yakin akan hal tersebut karena saya merasakannya. Pergi ke sebuah caffe akan berbeda rasanya ketika kita datang sendiri, bersama pacar, bersama keluarga, dan bersama teman. Walaupun di satu caffe yang sama. Bersama teman pun bisa berbeda suasananya ketika kita pergi dengan 2 rombongan yang berbeda. Karena tidak semua orang bisa menerima karakter asli yang kita miliki. Sangat sulit menunjukan karakter asli ketika kita bertemu orang-orang baru sehingga pilihannya adalah kita menjadi orang seperti yang mereka duga atau mengikuti ekspektasi mereka tentang bagaimana diri kita. Perlu berbagai moment dan waktu yang tidak sedikit sehingga kita bisa menunjukan taring dan borok kita terhadap seseorang. Dan teman-teman paduan suara saya sudah mengenal bagaimana saya dengan segala kejelekan dan kekurangan saya namun tidak pernah mempermasalahkannya.
Saya cukup terharu juga ketika di setiap tahun ketika saya memberikan refleksi tentang pertemanan itu sendiri, saya bisa membuat teman-teman saya terharu. Karena sebenarnya yang membentuk karakter dan pribadi kita bukanlah orang tua, bukan juga guru, namun teman. Jadi sebenarnya kita saling mempengaruhi. Namun itulah hidup, tidak semua orang bisa mengerti dan menerima diri kita apa adanya. Kalo saya cuekin aja udah, toh juga saya tidak begitu peduli dengan pandangan orang lain.
Berbicara mengenai masalah pencapaian, justru saya merasa belum puas dengan apa yang saya dapatkan sekarang. Bersyukur bukan berarti puas dengan yang kita dapatkan. Sehingga dari sekarang saya sudah asyik menyusun rencana untuk tahun depan. Atau istilah kece nya saya sudah menabung untuk membeli cheese cake yang lebih enak. Jadi ya walaupun porsi nya tetep kecil, karena kalau kebanyakan eneg juga ya, tapi rasanya lezis abis sehingga terkenang di udara. Tapi entah juga, bisa jadi ntar persediaan cheese cake yang lebih enak itu habis trus cuma kedapetan croissant tawar. Ya pokoknya berdoa dan berusaha sajalah supaya dapat yang terbaik. Karena kata dosen saya otak manusia itu sesungguhnya memiliki daya yang besar untuk mempengaruhi alam semesta. Contohnya, kalau dari rumah kita yakin sepanjang perjalanan akan dapat lampu hijau terus di setiap traffic light pasti hal itu akan terjadi. Ya semacam sugesti, saya pernah mengalaminya, dan iya memang benar, Tapi memang dasar manusia pasti memiliki keragu-raguan dan rasa takut sehingga hal tersebut bisa melunturkan keoptimisan kita.
Ya sudahlah, sekian dahulu, aseeek dahulu coy bahasanya, saya akan lanjutkan menikmati penghujung tahun yang nampaknya bakal sibuk dengan kerjaan dan target sales yang puluhan milyar itu. Terimakasih. Tabi'.
Subscribe to:
Posts (Atom)