Saturday, 19 March 2016

TrioLogis

     Good evening fellas. Yes ini malem minggu yak, buat kalian yang punya pacar selamat merayakan malam minggu kalian bersama pacar masing-masing. Buat kalian yang hobi selingkuh, ya selamat menikmati malam minggu sama pacar orang. Dan buat kalian yang jomblo, kelaut aja. Yaaah sama saya dong kelautnya, nggak papa ya, kita berjemur dan renang bareng. Siapa tau jodoh. Ehh Prapto apa an lu senyum-senyum, saya ngomong sama pembaca cewek ya, bukan sama lu. Zzzzz
     Malam ini saya sedang menikmati greentealatte di salah satu coffeshop di daerah Sanur. Saya beberapa kali pernah bilang kalau saya punya satu tempat favorit buat melepas stress dan kepenatan. Cailaaaah bahasa saya udah ala-ala puisinya Cinta AADC ya. Ya tapi ini serius, dari semenjak 2 tahun yang lalu saya selalu datang ke tempat ini, walau tidak rutin namun selalu tempat ini lah yang paling mengerti saya. Ya panteeees, gimana mau dapet jodoh kalo begini pemikirannya.
      Ini adalah kali pertama kedatangan saya ke coffe shop ini setelah pulang dari Jakarta. Dan amazing, malam ini banyak banget customer local yang menggunakan tempat ini sebagai tempat berpacaran. Ohh noooo, mereka telah menodai kesucian tempat ini. Bahkan di tempat duduk favorit saya, alias di pojokan dekat pintu belakang, dipake juga buat pacaran. Aduh, kan ganggu ya, pake ada acara ketawa-ketawa genit gitu lagi. Nahkaaan jadi nyinyir mulutnya. Nyinyir sambil iri dengki sih sebenarnya. Dan yak baristanya baru, dan sepertinya ini greentea latte tertidak enak yang pernah saya minum. Saya kurang paham sama mixing nya sih, tapi nggak enak aja bawaannya. Sama kayak hubungan, nggak tau gimana racikannya, yang kerasa nggak enak aja di dalam hati. Kayak nggak nyaman tapi nggak tau di sisi mananya. Yaelaaaah malah curhat lah gue.
       Okey, biarin aja perasaan saya berkecamuk nggak jelas, nggak usah kita bahas lagi. Karena pasti akan membosankan. Lebih baik kita membicarakan bagaimana social life saya disini. Mari kita mulai dengan membahas satu grup wanita karier yang merupakan grup yang paling menarik dalam social life saya di Bali. Grup ini berisikan partner kerja saya di perusahaan yang dulu. Namun sekarang kami sudah move on dari perusahaan tersebut dan bekerja di perusahaan yang berbeda-beda. Hanya tersisa satu yag bertahan di perusahaan tersebut, yaa gimana lagi udah punya buntut pasti pertimbangannya banyak buat move ke perusahaan baru. Tapi beda kantor tidak membuat kami menjauh. Justru semakin jauh kami terpisah, semakin banyak bahan obrolan yang bisa kami share. Ya allah, ujung-ujungnya geng nyinyir juga. Ya udahlah, nikmatin aja sis.
       Grup ini berisikan 3 orang wanita dewasa (kecuali saya) yang usianya semua di atas saya. Ya bisa dibilang saya yang paling muda di grup ini. Bagaimana grup nyinyir nomer satu di kantor ini bisa terbentuk? Karena waktu itu saya masih anak baru jadi begitu bertemu ya tau-tau mereka bertiga udah klop aja gitu. Kalo denger dari cerita mereka sih, yang mana saya juga nggak yakin kebenarannya, mereka masuk di perusahaan tersebut hampir bersamaan namun di divisi yang berbeda. Hal yang menyatukan mereka adalah ketidakdisiplinan. Yes thats right, mereka sering bertemu di smoking area di luar kantor pada jam kerja. Berawal dari saling nyinyirin sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bertegur sapa dan finally patungan untuk membeli sebungkus rokok untuk bertiga. Proses banget ya. Ya itulah takdir, kita tidak akan pernah tau dengan siapa kita akan bertemu dan bagaimana orang itu bisa mempengaruhi hidup kita ke depannya.
       Kalo saya sendiri dekat dengan mereka juga membutuhkan proses, tidak langsung SKSD hanya karena mereka se gank. Dan kayaknya gank paling asik gitu ya, kegiatannya nyinyirin orang. Awalnya saya dekat dengan wanita paling dewasa di gank itu, duh nggak enak kalo bilang paling tua, nah itu bilaaaaang, kan contoh. Hahahaha. Dia adalah partner kerja saya di kantor dan ketika bertemu langsung nyambung aja gitu kayak kabel telpon. Sedikit susah sebenarnya bagi saya untuk langsung klop dengan seseorang, karena saya kalo temenan itu terkenal pilih-pilih. Milih yang kedepannya bermanfaat bagi saya. Tapi ini serius, ini penting bagi nusa dan bangsa, karena tanpa kalian sadari siapa kita saat ini adalah hasil dari pergaulan dan lingkungan kita yang dulu. Terima kasih Mom and Dad karena memberi saya lingkungan yang baik. Mom Dad lah, biasanya juga Pakne Bune,hedeuh.
       Lanjut ke topik, diantara partner kerja yang lain saya paling dekat dengan wanita cina satu ini. Dia mengajarkan saya banyak mengenai pekerjaan dan juga yaaa sedikit tentang kehidupan. Setelah mengenalnya saya kemudian mengenal wanita kedua. Kalo saya bilang sih dia adalah karyawan paling cantik sekantor pada saat itu. Kulitnya sawo matang, dengan rahang yang tegas, pinggang yang kecil kemudian membesar di bagian pinggul. Hal yang sempurna bagi laki-laki mana saja yang melihatnya. Dia juga sangat attractive ketika berbicara. Banyak hal-hal sarkas yang keluar dari bibir tipisnya, namun ajaibnya semua itu terdengar menarik. Coba kalo kata-kata sarkas itu keluar dari mulut saya, udah ditabok sana sini kalik.
       Saya bertemu dengannya dan intens mengobrol ketika kami datang ke acara surprise ulang tahun yang diadakan untuk partner cina saya tadi. Yah, setelah memiliki seorang anak dan sedang mengandung ini adalah kali pertama baginya mendapat kejutan ulang tahun dari suaminya. Kocak ya, mana pas makan mukanya bete lagi karena kebanyakan yang diundang malah temen si suami bukan temen-temennya dia. langsung kepikiran deh tuh jumlah bill hasil kejutan sekali seumur hidup ini. Hahahahaha. Dasar cinak!?
        Kemudian wanita ketiga adalah mojang pahriyangan yang berbadan tambun dan kalo ngerokok udah kayak kereta api. Nggak berhenti-berhenti, terus nyambung kayak sinetron Ellies. Kalo sama dia awalnya gara-gara sering ketemu ketika saya kabur sendiri ke smoking area. Dia kayak penjaga disana dah. Setiap kali saya kesana selalu ada dia. Jam berapapun itu. Nggak pagi, siang, sore, malam. Kayaknya dia diam-diam menjabat sebagai pak bon alias penjaga bangunan itu deh, kayak sekolah gitu ada penjaganya. Tapi ini serius, dari keseringan itu akhirnya kami mulai sharing meja, sharing rokok, sampai akhirnya sharing minum dan sekarang kadang juga sharing kasur. Life.
        Ketiganya memiliki kisah sendiri-sendiri. Dan yak siapa lagi yang menjadi pendengar yang setia selain kedua telinga saya ini. Nah sekarang mereka akan balas dendam dengan memberitahu kesepuluh jari saya mengenai apa saja yang telah mereka dengar. Sebenarnya postingan saya yang berjudul Sekompi Peri Cinta saya peruntukan bagi mereka bertiga, namun saat itu saya malah lebih tertarik untuk membahas hubungan sesama jenis. Duh sakit ya saya. Untuk lebih detailnya, tapi nggak terlalu detail juga sih, ntar mereka kebongkar lagi semua aibnya, akan saya ceritakan di postingan berikutnya. Sekarang saya mau browsing aja deh, capek nulis mulu, yang lain jarinya ngeraba-raba paha pacarnya, eh saya malah ngeraba keyboard laptop. SHAKIT. Yaudah, selamat bermalam minggu semua. Tabi'!?

Monday, 14 March 2016

Gu(a)ys

        Good evening everyone. Bulan maret kali ini terasa panjaaaang banget kayak rambutnya Jessica Iskandar. Dan saat ini udah lebih dari sebulan saya berada KEMBALI di pulau Bali. Pekerjaan saya berjalan lancar tanpa hambatan. Hambatannya adalah capek, lelah, betis kaku, migrain, dan keluhan lainnya yang sebenarnya sih masih bisa saya handle dengan baik. Kasian ya, derita seorang pekerja yang single di kota besar. Mau pegel lah mau capek lah mau linu lah paling cuma bisa dipijit. Dipijet sama siapa? Sama koyo lah. Siapa lagi. Pake nanya!?
         Udah move on nih ceritanya dari kota Jakarta yang hiruk pikuk, walaupun ada beberapa hal sih yang gatel banget ingin saya curahkan. Minyak kali ah dicurahkan. Seperti pertemuan saya dengan teman semasa SMA, pertemuan dengan junior saya dikampus yang officially memberikan saya banyak bahan untuk blog saya ini, dan juga pertemuan dengan seorang wanita cantik yang saat ini resmi saya kencani. Tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan mengenai objek terakhir. Karena apa yang terjadi diantara kami, biarlah terjadi diantara kami. Aseeek. Lagian kalian kan juga lebih tertarik mengetahui kisah orang-orang di sekitar saya daripada kisah saya pribadi. Ya kaaan.
          Bekerja di dunia fashion bukanlah sesuatu yang mudah. Jika kita tidak memiliki prinsip hidup yang kuat yaa siap-siap terlena dan hanyut kedalam pusaran pergaulan sekitar. Karena tidak bisa dipungkiri fashion identik dengan wanita, identik dengan keindahan, kecantikan identik dengan faminimitas dan alhasil identik dengan gay. Yah, hal yang tidak asing bagi saya karena berkat seseorang saya belajar banyak mengenai bagaimana bergaul dengan gay. Tidak susah karena kita semua adalah manusia.
          Beberapa hari yang lalu saya pernah melihat video dari chanel youtube seorang ekspatriat tentang bagaimana reaksi orang indonesia terhadap kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisex, Transgender) dan lebih dari 60% responden nya mengatakan bahwa mereka sangat terganggu dengan keberadaan kaum ini. Saya juga sempat mendengarkan kotbah sholat Jum'at tentang hal yang sama, dan cara islam memerangi kaum ini. Tidak perlu saya ceritakan secara detail karena takut menyinggung berbagai pihak. Cieeh yang lagi baca ikut tersinggung. Sante broo nggak akan ketahuan juga, takut banget jadi bahan omongan, eh tapi lebih baik terbuka ding daripada tau-tau ntar ketahuan busuknya, kan malah malu ya. Langsung Hap deh kayak bang ipul. Hahahaha
          Beberapa hal yang kalian harus ketahui adalah seorang gay pasti memiliki alasan tersendiri mengapa ia memilih jalan tersebut. Bukan lantas ikut-ikut karena trend ya. Ini bukan gelang powerbalance ya gaes. Alasan yang terkuat adalah karena pengalaman masa lalu. Hal yang sama yang pernah saya ceritakan di blog sebelumnya. Lalu faktor kedua karena pergaulan. Nah ini nih mengapa saya bilang prinsip hidup kalian harus kuat. Jelas kemana bermuaranya. Nggak abu-abu. Nggak setengah-setengah. Tapi saya juga yakin sih kalo teman-teman saya juga bodo amat sama orientasi seks seseorang. Ngurusin hidup sendiri aja kesusahan mau sok-sok an ngurusin hidup orang lain. Jadi ya ketika mereka tahu bahwa saya straight, yaudah berarti ada beberapa tempat dan bahan obrolan yang nggak akan nyambung dengan saya. Simple kan. Saya juga tipe orangnya sesimple itu kok.
          Tapi memang sih, lingkungan pergaulan saya lebih banyak dengan wanita. Jadi ya pembicaraan yang sering mereka bicarakan kurang lebih sama, seputar lelaki. keuangan, keluarga, dan berbagi bermacam gosip. Hal yang jarang dibicarakn jika sedang berkumpul dengan teman lelaki. Paling pol ngobrolinnya masalah cewek, games, olahraga. Kalau udah best buddy banget baru deh bisa ngomongin sampe masalah percintaan dan planning di masa depan. Cukup berbeda kan pembahasannya. Kalo saya mah kayak air di daun talas, mau di goyang kemana aja saya bisa. Ke perkumpulan ibu-ibu, ayo aja, ke arisan bapak-bapak, monggoh kerso, dan sekarang ada tambahan lagi ke gank homosexual, yuk mari. Yang terpenting adalah bagaimana kita membawa diri kita dengan baik.
         Yah ngikut pepatah aja yang mengatakan banyak teman banyak rejeki. Jadi kalo tanggal tua dan uang menipis tinggal calling sana sini buat numpang makan. Ekonomis ya hidup saya. Hahahaha. Yah intinya kita sesama manusia memiliki kewajiban menghargai manusia lain. Bahkan kita tidak berhak menjudge seseorang karena latar belakang keluarganya, pekerjaan nya, ras, agama, bahkan orientasi seksualnya. Hidup ini indah dan tuhan sudah memplanning dengan siapa saja kita akan bertemu di dunia ini. Menjadi apatis dan skeptis tidak akan membawa manfaat atau faedah apa-apa bagi hidup kita. Jadi kurangi rokok dan makan berat di malam hari agar tubuh kalian segar ketika bangun di pagi hari. Apa sih ini agak nggak nyambung. Yaudah lah, ini udah terlalu larut buat ngebacot. Selamat malam, dan sun sayang untuk orang di samping anda, mau itu cowok apa cewek terserah deh. Hahahaha. Tabi'!?
       

Monday, 7 March 2016

Sekompi Peri Cinta #2

          Selamat malam para korban hubungan LDR. Yang kalo ngubugin duluan dikira nggak ada kerjaan, tapi kalo nggak ngubungin duluan malah dapet omelan dan cacian posesif. Bener-bener hubungan yang aneh. Okay daripada saya ngomongin kisah cinta saya yang rapuh bak guci keramik punya nenek, lebih baik saya cerita tentang manusia-manusia rapuh. Mmmm sama-sama rapuh sih, tapi nggak tau kenapa ngomongin orang itu lebih asik daripada ngomongin diri sendiri. Hahahaha. Thanks Mom buat darah nyinyir yang mengalir dalam tubuh semampai ku ini. Jijik!?
         Jakarta sekarang tinggalah kenangan, karena saya sudah kembali lagi ke pulau Bali. Senang? ya iyalaaaah BALI, gila apa kalo nggak senang. Senang nya adalah nggak perlu bangun subuh-subuh hanya untuk siap-siap berangkat kerja, nggak perlu stress macet berjam-jam pas pulang kantor, dan yang paling senang adalah nggak akan ngelihat mantan roommate saya galau-galau an di kamar setiap hari. Ya ini ni, yang menyebabkan saya berkesimpulan bahwa ekspektasi saya mendapatkan room mate yang ceria dan menghibur jadi gagal 80%(Baca: http://juldenzol.blogspot.co.id/2016/02/jekardah-2.html)
         Ini kisah bukan tentang saya, tapi entah kenapa saya selalu berada disekitar kisah cinta macam begini ya. Mungkin ini pertanda. Pertanda saya harus menjadi biksu. Amitaba! Jadi saya punya seorang mentor di perusahaan baru saya ini. Ya jadi setiap karyawan baru akan mendapatkan satu mentor untuk mengajarkan segala sesuatu mengenai jobdesk, rutinitas, fungsi, dan tempat-tempat bagus buat nongkrong. Nggak ding, yang terakhir bonus karena mentor saya hobinya ngajakin nongkrong.
         Sebenarnya saya males sih kalo disuruh mendeskripsikan sosok mentor saya ini. Yang pasti dia pria, tinggi hampir sama dengan saya yang mungkin sekitar 175cm, berkulit putih bersih yang kontras dengan warna kulit saya, dan kacamata yang membingkai matanya yang sipit, sama kayak saya sipitnya, bedanya kalo dia dua duanya sipit nah kalo saya satu doang. Fak.
         Tidak ada satu hal pun yang spesial dari mentor saya. Tapi beda orang beda kepala. Bagi room mate saya mentor saya itu begitu spesial. Tolong digaris bawahi ya gender mereka berdua. Yo'i braaay, sama-sama cowok. Makanya saya suka kesel sendiri, kenapa saya kayak selalu berada ditengah-tengahnya. Menjadi pengamat yang baik. Nyinyir sana nyinyir sini, terus tulis deh di blog. Hmmm mampus, siap-siap deh saya mati dibunuh dikosan gara-gara bocor mulutnya. Astaghfirullahaladzim. Amit amit dah.
         Seperti punuk merindukan bulan, ternyata si mentor saya ini tidak menyambut perasaan room mate saya dengan baik. Dari depan sih keliatannya begitu, tapi nggak tau ya kalo dibelakang gimana. Eh bilang nggak suka nggak suka taunya main cubit-cubitan aja dikasur. Ehh mulut-mulut. Nggak ding. Itu kisah saya sendiri yang bosan dengan kesendirian yang tak berujung ini sampe akhirnya cubit-cubitan sama kue. Jadi deh kue cubit. APA SIH!?
         Tapi salute deh sama room mate saya ini, mau orang bilang apa kek, ada gosip tentang mentor saya yang jelek-jelek kek, dia tetep aja kekeuh cinta mati sama mentor saya ini. Nah tapi akhirnya saya juga yang kebagian getahnya, siangnya dapet teriakan dari mentor saya, malemnya denger tangisan dari ranjang sebelah. Belum lagi dapet sindiran-sindiran dari si dia yang ada di seberang sana gara-gara belum selese chattingan malah udah tepar duluan. Ya sallam!?
          Ya itu deh kisah cinta yang underground, yang sini drama yang sana pura-pura. Haduh beruntung sekarang udah balik ke kota masing-masing, jadi udah nggak terjebak lagi dalam awkward moment bertiga di kamar hotel. Dimana yang sana ngajak ngomong tentang kerjaan dengan hebohnya, yang sini diem tiduran main hape, kayak cemburu nggak diajak ngomong tapi nggak mau memulai obrolan. Hadeuh pusing kepala Ariel. Hmmm tiba-tiba jadi mermaid lah gue.
          Begitulah adanya kisah cinta yang entah bagaimana menamainya. Yah itulah pertemuan ya, kadang menyenangkan, kadang terkenang sampai kapanpun, kadang kayak nasib yang buruk, tapi kadang juga kita menyebutnya dengan cinta. Haseeeek kata-kata saya biasa aja ya?? Hmmm sudah kudugong. Okey sekian kisah dari Jakarta Selatan. Semoga bulan maret kalian ceria dan diberkahi banyak rejeki. Eh ngomong-ngomong besok lusa Nyepi lhooo. Saya sih sudah nyiapin DVD belasan keping. Hmmm bukannya nyiapin bahan makanan lah, malah nyiapin tontonan. Biasalah anggota paguyuban debus ya gini ini. Keping DVD kasih sambel aja udah cukup lah. Ya semoga damai selalu menyertai hidup kita dan orang-orang di sekitar kita deh, amien. Permisi semua, Tabi'!?

Friday, 5 February 2016

Jekardah (2)

    Adios amigos. Hmm dari pembukaan udah ketahuan lah tontonan masa kecilnya. Yang tau Pedro, Santiago, dkk pasti tau nih telenovela wahid di jamannya. Tapi tenang aja, kali ini saya nggak akan membahas tentang telenovela ini. Saya akan lebih membahas perjalanan karier, percintaan, serta keuangan saya. Yaah walaupun nggak penting-penting amat tapi setidaknya lumayan lah buat mengisi kekosongan waktu kalian; Daripada saya ngomongin orang mulu, hayo, enak dikalian dapet hiburan. Nah saya, cuma kebagian dosa.
    Jadi ceritanya nih saya udah move dari pekerjaan yang lama ke pekerjaan yang baru. Masih berkutat di dunia retail fashion dan tentunya masih stay di dunia visual merchandising. Saya resign dari perusahaan yang lama sekitar pertengahan bulan November dan langsung masuk ke perusahaan yang baru dikeesokan harinya. Aseeek udah kayak pekerja keras banget nih saya. Tipis sih antara kerja keras apa emang kejar setoran. Sama tipisnya kayak perhatian kamu, antara sayang apa cuma kasian. Astaga sok romantis banget. Mbloo mblooo.
   Dan disinilah saya, di ibukota Jakarta, dimana lalu lintas udah kayak susunya Jupe yang padet dan udaranya kayak bodinya Farah Quin yang hot. Saya menjalani masa training di Jakarta selama 3 bulan. Yah akhirnya kesampaian juga deh saya tinggal dan bekerja di Jakarta.Walaupun cuma 3 bulan tapi lumayanlah untuk ngerasain polusi dan bisingnya jalanan kota Jakarta. Dan kocaknya lagi, store tempat saya training berada di bilangan Gandaria yang merupakan tempat saya pertama kali menginjakkan kaki ke Kota Jakarta sebagai pengangguran (baca: http://juldenzol.blogspot.co.id/2013/10/jekardah.html)
    Benar saja,kehidupan di kota Jakarta ini seperti layaknya bola yang meluncur kencang. Pergantian hari terasa begitu cepat, dan tahu-tahu saya sudah masuk ke bulan kedua masa training. Dan selama hampir 2 bulan ini banyak sekali yang terjadi dalam hidup saya, dan lingkungan di sekitar saya, Cieeeh mulai lagi mulutnya suka nyinyirin orang.
 
    Jakarta hari pertama, siapa kan ya yang nyangka bisa ngerasain kerja di ibu kota yang hiruk pikuk nya ngalahin pasar inpres. Udah bener-bener di Bali, nyium bau dupa setiap hari, eh malah diajak ke Jakarta buat nyium bau asap knalpot bajaj. Dalam masa training ini saya diberi akomodasi gratis berupa penginapan yang alhamdulillah masih layak huni. Walaupun penampakannya udah kayak hotel kelas melati ala-ala tapi ya tetep bersyukurlah karena masih ada AC dan air panas nya. Ceilah peres banget ya bersyukur, padahal water heater nya sering mati dan AC berisik banget. Yah namanya juga pencitraan jadi ya seolah-olah bersyukur aja sih.
     Sebelum berangkat training saya sudah mendapat info bahwa saya tidak sendiri. Ada beberapa orang yang akan ikut training yang sama bersama saya. Dan otomatis saya akan mendapatkan room mate. Yeeee akhirnya punya temen yang bisa diajak ngobrol di kamar jadi nggak akan kesepian lagi dan nggak akan sibuk dengan social media dan laptop bapuk saya ini lagi. Setidaknya itu lah ekspektasi saya ketika tahu akan mendapatkan room mate.
      Namun ternyata itu semua hanyalah fatamorgana semata, impian si miskin, dan angan-angan yang nol besar. Pada saat sampai di Jakarta Raya yang megah ini saya dipertemukan oleh sesosok princess yang kadang suka mengeluarkan statement statement kocak namun terbungkus dalam sosok seorang pria. Ya benar, kadar feminimitas roommate saya lebih tinggi puluhan persen dari saya. Namun pada saat bertemu pertama kali, saya yakin pasti hari saya akan sangat ceria karena terhibur oleh ulah tingkah dari roommate saya ini. Dan lagi-lagi perkiraan saya itu meleset 90 derajat. Ya udah lah ya, terima aja sis, lagian lumayan jadi ada yang nemenin bobok dan ngebangunin buat kerja di pagi hari.
     Hari-hari saya terasa lebih produktif daripada dulu ketika saya bekerja pada perusahaan yang lama. Saking produktifnya sampai sampai untuk posting blog aja saya harus benar-benar nekat. Karena nggak ada waktu luang. Social media saya terbengkalai, teman-teman saya pada unfriend semua, pokoknya ngenes lah. Yah fake banget ya temenannya, cuma gara-gara nggak pernah posting atau komen langsung di unfriend. Hmmm kenal banget yang sifatnya begini. Siapa hayoooo, itu tu kamuu, iya kamuuu, yang brewokan tapi kalo dikagetin latah ayam ayam. Hahahahaha.

      Selain kemacetan lalu lintas yang bikin pala barbi pusing, ada juga isu yang sangat esensial, Yaitu kenyataan bahwa sebagai anak rantau saya harus teliti dalam memilih makanan yang layak di konsumsi. Ceilaaaah, macem anak orang kaya ya saya. Kalo makan sembarangan bakal muntah-muntah 7 hari 7 malem. Ya ampun itu muntah apa tahlilan orang meninggal ya sampe harus 7 hari 7 malem banget. Bukannya sok higienis atau sok berkasta, bukaaan, tapi setiap mau jajan sembarangan sugesti yang terpatok di alam bawah sadar saya udah skeptis duluan. Pasti dia pake formalin deh, pasti dia pake boraks, pewarna tekstil, dan sebagainya. Kan serem ya, walaupun sebenernya makanan itu higienis dan enak, tapi namanya juga udah sugesti, jadi berasanya mules mulu. Thanks lho reportase investigasi.
      Dan yang bikin hati capek adalah, tinggal di Jakarta itu godaan nya melimpah. Godaan belanja. Godaan jajan mahal. Godaan hangover. Sampe godaan ngegodain laki orang. Hahahahaha. Nggak ding yang terakhir bohongan. Yah bisa dikatakan  bahwa kalo kalian nggak tahan dengan godaan nya, maka kartu debit dan kartu kredit kalian akan menjadi korbannya. Yah contoh simple nya adalah saya, sedih ya mnegakui diri sendiri boros. Yah gimana dong. Refreshingnya cuma dari mall ke mall, nggak ada pantai nggak ada bukit nan hijau, ada ding, tapi ya gitu, bukannya nambah happy malah tambah stress ngeliat kondisinya. Jadi ya nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan. Alhasil baju cakep dikit, geseeeek, sepatu murah dikit, geseeeek. Terus aja digesek sampe bol, saldonya. Hahahhaha
     
      Yah begitulah gambaran singkat tinggal di kota Jakarta. Yah beruntung banget sih cuma bisa merasakan Jakarta sampe bulan februari doang. Kalo lebih lama bisa tinggal tulang sama sendi sama kulit kali badan saya. Sekarang aja udah turun banget berat badannya. Untungnya adalah ada beberapa celana yang udah agak nggak muat akhirnya muat kembali horeee. busuknya adalah, pipi saya jadi kempot kayak junkies. Udah kantung mata menghitam, mata sipit sebelah, pipi kempot, fix deh saya bak anak-anak korban broken home yang stress dan memilih narkoba untuk melupakan kemarahan saya.
     Okey, sekian postingan saya yang agak nggak penting ini. Semoga bulan februari cepat datang dan opening store di Bali bisa lancar kayak keluarnya feses dipagi hari. Bye, take care ya gaes. Selamat berngapain aja. Tabi'!?

Friday, 23 October 2015

Sekompi Peri Cinta #1

    Selamat malam wahai penikmat libur sabtu minggu yang menyenangkan. Sebenarnya ini sudah terlalu larut malam menjelang pagi dan entah kenapa saya semakin tidak bisa tidur cepat. Yah seperti over thinking akan sesuatu hal yang absurd. Mungkin sudah saatnya saya memiliki pasangan kali ya. Hahahaha, kesian amat, siapa juga yang mau. Ada sih yang mau, tapi cowok, deileh ngenes abis nasib ane gan. Sundul gaaan.
    Malam ini saya mau membicarakan sedikit, emmm banyak deh tentang cinta. Yah sebenarnya walaupun sepi dalam kisah percintaan, ehh bacanya biasa aja jangan sambil nahan ketawa gitu, tapi banyak orang yang mempercayakan kisah cintanya kepada saya. Kalau kata temen saya sih, saya itu tipe pendengar yang baik, karena saya bukan tipe orang sok tahu yang akan memberikan saran ini itu. Ya, saya hampir tidak pernah mengomentari curhatan teman-teman saya kecuali diminta. Mereka nggak tahu aja kalo saya sebenarnya nggak pernah menyimak cerita mereka. Yeee kasian.


   
    Kisah pertama adalah tentang cerita seorang wanita yang sangat mencintai seniornya di kampus. Cerita yang epik, begitu mainstream dan full of drama. Namun kalau cerita itu kemudian dikejutkan dengan kehadiran seorang pria lain pasti nggak jadi mainstream dong ya. Masih mainstream juga? Pria tersebut memiliki hubungan khusus dengan senior si wanita di kampus. Yang mana adalah seorang pria juga. So, this is like an awkward triangle love. And let me begin this story.
    Saya adalah seorang mahasiswa jurusan seni yang bisa di bilang jarang ke kampus. Sebagian besar waktu, saya habiskan di rumah dan di cafe ber-wifi kencang. Yah tugas yang begitu banyak dan menumpuk membuat saya harus selalu setia dengan pensil, kuas, dan internet. Saya pergi ke kampus hanya untuk mengumpulkan tugas lalu sedikit ramah tamah dengan manusia-manusia kampus dan sisanya kembali ke rumah untuk menyelesaikan tugas yang lainnya.
    Begitu pun hari itu. Saya sedang berkutat dengan pensil saya ketika tiba-tiba nada pesan masuk berbunyi dari ponsel saya. Saya tidak menghiraukannya dan masih asyik dengan sketsa bangunan yang saya buat. Namun nada tersebut berbunyi berkali-kali seakan ada berita penting yang sangat mendesak. Hal itu membuat konsentrasi saya menjadi menurun. Daripada sketsa bangunan saya malah menjadi sketsa tubuh wanita akhirnya saya putuskan untuk beristirahat sejenak.
     Saya meraih ponsel saya yang tergeletak di atas kasur. Dengan penuh rasa penasaran saya pun segera mengecek beberapa pesan yang masuk. "Brian? Heboh banget BBm nya." Saya pun merebahkan diri ke kasur dengan mata tetap tertuju pada layar ponsel. Saya mengambil posisi senyaman mungkin untuk mencerna setiap kata yang Brian tuliskan di dalam pesan nya.
     Di dalam pesan itu Brian menanyakan sesuatu yang tidak biasanya. Ia menanyakan tentang sebuah buku dengan judul yang sedikit rancu, 'Lelaki Terindah'. Dari judulnya saya sebenarnya sudah menduga-duga tentang apa yang ada di dalam buku itu, namun saya pendam perasaan sok tahu itu dan menanyakan tentang maksud Brian menanyakan buku tersebut kepada saya.
    Saya memang dikarunia gerak gerik yang feminim dan memiliki perhatian lembut yang tdak sewajarnya dimiliki seorang pria. Hal ini membuat banyak orang memiliki persepsi yang keliru tentang diri saya. Ya sebagian besar dari mereka mengira saya adalah seorang Gay atau penyuka sesama. Hal yang tidak serta merta saya tampik dengan emosi karena saya tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada semua orang yang mendeskreditkan orientasi seksual saya. Saya memilih diam dan tersenyum dan membiarkan mereka tenggelam pada tanda tanya besar yang sebenarnya tidak ada manfaatnya juga bagi mereka.
    Hal itu berlaku kepada Brian, dia adalah orang yang saya kenal di kampus. Namun kami tidak berasal dari jurusan yang sama. Saya mengenalnya dari acara kampus yang pernah kami ikuti bersama. Pesan yang saya kirimkan dengan tanggap dibalas oleh Brian dalam hitungan detik. Ia juga enggan menceritakan isi dari buku tersebut. Alih-alih menceritakan isi dari buku itu, ia malah menyuruh saya untuk mencari tahu sendiri di internet.
    Rasa penasaran membawa saya beranjak dari posisi nyaman saya dan berpindah duduk di depan laptop pribadi saya. Ketika saya mengetikkan tulisan 'Lelaki Terindah' pada search engine, saya memastikan bahwa lingkungan sekitar aman. Tidak ada anggota keluarga saya yang mungkin masuk secara tiba-tiba ke dalam kamar saya. Kening saya tiba-tiba mengernyit ketika melihat gambar-gambar pria tanpa busana yang muncul di laptop saya. Dengan segera saya membalas pesan dari Brian dan menanyakan apa maksud sesungguhnya darinya.
    Seketika itu Brian menceritakan sebuah hal yang tidak saya duga sebelumnya. Cerita tentang orang yang kami kenal. Levi, seorang pria yang akhir-akhir ini dekat dengan Brian. Saya mengenal mereka berdua, bahkan saya lebih mengenal Levi daripada Brian. Levi sering menemani saya dalam membuat tugas-tugas kampus saya yang tidak pernah ada habisnya. Brian menulis beberapa hal yang membuatnya curiga kepada Levi. Ia mencurigai bahwa Levi adalah seorang gay. Hal yang saya tanggapi dengan sangat serius.
    Dari Brian lah saya baru tahu bahwa Levi selama ini menyukai laki-laki. Dan dari Brian lah saya juga tahu bahwa selama ini Levi berbohong tentang destinasi kunjungannya ke Jakarta. Levi memiliki seorang 'sponsor' di Jakarta. Hal yang sengaja saya perhalus karena saya tidak menyangka bahwa Levi sanggup melakukan hal ini.
   Saya tidak pernah beranggapan bahwa Levi itu salah atau keliru. Dan saya tidak pernah menyudutkan Levi hanya karena saya mengetahui tentang rahasianya. Justru cerita dari Brian membuat saya bersimpatik kepada Levi. Bagaimana dia bisa bertahan dari guncangan emosi yang pasti ia rasakan. Tanpa ada seorang pun yang bisa diajak sharing ataupun berkeluh kesah tentang kisah cintanya.
   Brian menceritakan banyak hal yang membuatnya curiga tentang seorang Levi. Dan cerita-cerita itu justru membuat saya semakin bersimpatik kepadanya. Pada saat Brian lancar bercerita tentang Levi, sebenarnya saya justru menaruh curiga kepada Brian. Apa tujuannya Brian menceritakan semua ini kepada saya. Apa untungnya bagi saya? Dan satu lagi, jika Brian sudah lama mencurigai Levi sejak dulu, lalu lantas kenapa Brian masih intens bergaul dengan Levi. Jika ia laki-laki normal, pasti ia akan menjauh dari Levi atau bahkan menghilang dari kehidupan Levi. Hal yang sampai saat ini masih menjadi misteri.

   Brian bukanlah teman yang langganan mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia hanya datang sesaat untuk memberitahu dugaannya terhadap Levi. Namun tentu saja hal itu tidak membuat saya lantas menjauhi Levi. Sedikit banyak saya juga seperti Levi. Dicurigai banyak orang sebagai orang yang memiliki orientasi seksual yang menyimpang atau bahasa kasarnya tidak normal. Sehingga saya berkesimpulan bahwa menjauhi Levi tidak akan ada manfaatnya.
    Carla adalah salah satu teman wanita saya yang hobi sekali membagi cerita kesehariannya. Dan sebagian besar ceritanya adalah mengenai Brian. Seniornya di kampus. Carla sudah lama tertarik dengan Brian dan merasa bahwa Brian pun juga tertarik padanya. Namun sifat Brian yang dingin dan cuek membuat hubungan mereka berdua stuck. Hanya sebagai teman nongkrong, teman bepergian, dan teman jika ada perlu. Carla terlalu takut untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Brian. Sedangkan Brian, terlalu tinggi untuk melamar Carla menjadi pacarnya.
    Brian tidak pernah bercerita mengenai wanita kepada saya. Yang ia ceritakan melulu mengenai Levi. Hal yang membuat saya semakin curiga. Saat ini Brian dan Levi seperti dua sisi koin. Saling bertolak belakang dan tidak pernah bertemu. Padahal seingat saya dulu, mereka banyak menghabiskan waktu berdua. Bermain games bersama atau saling menumpang tidur dan makan di rumah masing-masing. Hal yang menurut saya wajar karena hampir semua laki-laki memiliki buddies, teman baik yang dibawa sampai mati.
    Hari ini Carla berbeda, ia menceritakan versinya tentang Levi kepada saya. Ya kami semua mengenal Levi, namun tidak seterbuka saya. Carla tidak mengetahui mengenai dugaan saya dan Brian mengenai orientasi seks Levi. Setidaknya tidak sekarang. Carla mengeluhkan tentang ketidakakuran Levi dan Brian. Mereka bertiga memiliki ketertarikan yang sama terhadap musik, hal yang membuat mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Namun sekarang Carla harus rela bersolo karier, menghabiskan waktunya hanya dengan saya, karena entah kenapa Brian dan Levi akhir-akhir ini jarang bisa diajak bertemu.
    "Sis, gimana nih, aku kangen banget sama Brian." Carla memiliki cairan diotak yang berlebih sehingga dengan lantang ia memanggil saya dengan sebutan sis hampir di setiap kesempatan. Hal yang membuat saya risih sebenarnya namun karena sudah terbiasa jadinya saya tidak begitu mempermasalahkannya lagi. "Memang kenapa sama kalian? Ada masalah?" Saya mencoba menjadi penetral suasana. Setidaknya menetralkan suasana hati Carla yang terlalu sering merengek tentang segala sesuatunya. "Nggak, tapi aku jadi jarang ketemu sama Brian. Levi aku BBm juga jarang bales." Ya tidak salah lagi. Sedang terjadi sebuah perselisihan antara Levi dan Brian. Saya tidak tahu apa penyebabnya, namun jika boleh saya berhipotesa ria pasti penyebabnya adalah adanya orang ketiga. Ya orang ketiga antara Levi dan Brian tentunya. Bisa jadi 'sponsor' yang dimiliki Brian, bisa jadi juga adanya Carla diantara hubungan terselubung mereka.

    Suatu waktu saya pernah menanyakan kepada Brian tentang hubungan mereka berdua. Berdua dengan Levi maksud saya. Sebuah pertanyaan serius yang saya tanyakan dengan iseng. "Bri, ada alasan khusus kenapa kamu bisa sedekat itu sama Levi. Padahal kamu tahu dia bisa saja suka sama kamu." Sebuah pertanyaan menyelidik yang tidak bisa ditampik oleh Brian. Dia lah yang memulai babak baru perseteruan dengan Levi, dan dia memilih saya sebagai perantaranya. "Aku kasihan melihat Levi, dan aku harus bisa membuat dia normal." Sebenarnya ini adalah alasan klise bagi orang-orang yang secara tidak sadar tertarik dengan sesama jenis. Selalu mengatasnamakan simpatik dan ingin mengembalikannya menjadi normal. Orientasi seksual bukanlah sebuah besi bengkok yang bisa diluruskan dengan berbagai macam cara. Banyak hal yang mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Salah satunya adalah pengalaman di masa kecil. Hal-hal apa saja yang telah seseorang lalui dimasa kecilnya. Hal itu sangat berpengaruh terhadap watak dan sifat seseorang di masa mendatang.
     Brian hanya asal bicara. Ia mencoba mencari pembenaran atas apa yang ia lakukan selama ini. Sebenarnya membongkar rahasia Levi sama juga bunuh diri baginya. Karena manusia-manusia kritis seperti saya tidak akan berhenti pada satu jawaban menggantung. Saya bisa menemukan jawaban yang memuaskan rasa penasaran saya sendiri. Ya sendiri dengan berbagai macam cara.

    "Lev, Carla dan Brian sepertinya makin dekat ya. Bagaimana jika seumpamanya mereka jadian. Pasti lucu ya." Saya mengatakan hal tersebut di satu kesempatan ketika bertemu dengan Levi. "Iya, kadang aku ngerasa diperalat selama ini." Levi berdiri disebelah saya. Kemejanya yang putih membuat sinar matahari di pagi itu semakin silau. "Diperalat?" saya membalikkan badan melihat mata Levi yang menerawang jauh menembus pepohonan di sekitar villa. "Ya, hanya agar mereka bisa jalan berdua. Carla tahu kalau Brian akan ikut kemanapun aku pergi. Jadi Carla mengajakku terlebih dahulu." Levi tersenyum simpul. Saya membuang pandangan jauh mengikuti arah pandangan mata Levi. "Carla tidak pernah mengajak Brian langsung?" Levi menggeleng dan menjauhi teras villa yang sedang kami tempati. "Lalu jika mereka jadian?" Saya masih bersikeras menanyakan hal yang sama. "Selamat bagi mereka berdua." Levi benar-benar pergi menjauh. Saya hanya bisa melihat punggung nya yang lebar tenggelam di balik korden pintu kaca berwarna putih.
    Inilah yang sebenarnya dirasakan Levi. Ia dekat dengan Brian bukan tanpa alasan. Levi tertarik pada Brian secara seksual dan emosional. Namun Brian tidak terima jika Levi masih tinggal di dunia gelapnya dan berhubungan dengan sponsor nya tersebut. Sedangkan Brian tidak memberi pilihan untuk Levi menyalurkan hasratnya kepada Brian, sehingga Levi tidak pernah mengindahkan saran yang selalu diberikan oleh Brian. Tabrakan, yah terjadi tabrakan emosional diantara mereka berdua. Dan aksi Brian waktu itu hanyalah ungkapan dari kekesalannya pada Levi. Man can be comfort with another man, but not in love with another man because they're not suppose to be live happily together ever after.
                                                                       ..................

Monday, 28 September 2015

Pria Idaman

    Hai semua, wih lumayan lama ya saya nggak nulis di blog saya ini. Produktivitas saya dalam menulis mulai menurun nih kayaknya. Ide buat nulis sih masih banyak dan mungkin banget buat di eksplore. Tapi apa daya, waktu nggak ada, aseeek, sok sibuk banget saya ya. Selain itu duit juga nggak ada, hmmm malah curhat pribadi.
    Beberapa bulan terakhir ini tidak banyak yangterjadi di dalam kehidupan saya maupun orang-orang di sekitar saya. Ada sih satu temen saya yang akhirnya mengakhiri masa jomblo nya. Hahahaha, bukan saya lho ya, kalian jangan berharap terlalu tinggi. Temen saya ini juga bekerja di Bali. Sebenarnya kami tidak begitu dekat dulu. Dia dulu satu SMA dengan saya, tapi ya begitu-begitu saja, jarang bertinteraksi. Kalau dari sudut pandang saya dulu sih, dia adalah seorang cowok yang most-wanted, entah dia yang populer apa dia aja yang doyan speak sana speak sini. Saya nggak terlalu paham soalnya. Tapi yang saya tahu adalah dia pernah memacari cewek-cewek satu genk. Kerenkan.
    Emang sih dia bukan playboy yang sekali pacaran bisa sama beberapa cewek sekaligus, sepengetahuan saya lho ya, tapi dia macarin mereka satu-satu. Kelar sama yang ini ganti pacaran sama yang lain, putus lagi, macarin lagi yang lain. Dan lucunya cuma cewek-cewek di satu genk itu aja. Kalo saya? boro-boro macarin cewek-cewek satu genk. Macarin satu cewek aja nggak dapet-dapet. Duh. Kebayang masa SMA saya ngapain aja, bisa sampe nggak pernah pacaran. Paling cuma deket sama si anu si itu si ini, tapi hanya berakhir di SMS doang. Malah curhat pribadi lah. Ngenes abis.
    Nah si temen SMA saya ini ternyata juga penempatan di Bali. Dia udah lebih lama setahun stay di Bali daripada saya. Awal bertemu di Bali juga yang masih canggung gitu. Ya canggung aja pasalnya dulu kan nggak pernah keluar bareng. Eh ternyata setelah kenal orangnya seru juga. Kayaknya dia lebih cocok ikut genk saya deh daripada genk SMA nya dia. Eh tapi jangan ding, genk saya kan isinya orang-orang unik, mana pada jomblo lagi. Termasuk saya. Bisa hang ntar otak dia kalo gabung sama kami. Ini aja saya coba berobat dimana-mana tetep miring gini otak saya. Parah kan imbas dari pergaulan di genk kami. Makanya lebih baik jangan.
    Tau kan genk SMA saya yang sampai saat ini masih setia berkabar dan main bareng. Nah waktu angkatan saya di SMA tuh ada satu lagi genk yang berisikan cowok-cowok IPS sejati. Yah semua yang kalian tangkap dari karakteristik anak IPS ada semua di genk ini. Ya yang suka bolosnya lah, yang suka berantemnya lah, yang suka ngelawan gurunya lah, yang suka ngerokok nya lah, semuanya lah mereka lengkap bak toko serba ada. Sampai saat ini mereka juga seperti kami, masih setia berkabar dan main bareng. Tapi nggak tahu kenapa temen-temen saya agak males kalo harus punya acara bareng sama genk mereka. Mungkin dulu pernah sakit hati kali ya sama candaan mereka. Namanya juga genk mayoritas wanita, ya begini ini, apa-apa dibawa ke dalam perasaan. Baperan orangnya. Pantesan rata-rata jomblo.
     Nah tapi anehnya respon cewek-cewek di genk saya berbeda sama cowok yang satu ini. Walaupun dia dulu satu genk sama anak-anak cowok IPS tapi sampe sekarang dia justru jadi pria idaman di kalangan wanita-wanita jomblo di genk saya. Hmmmm yang ini nggak usah diteruskan ah siapa saja objeknya, nanti saya dapet surat memorandum lagi. Eh apa sih namanya yang surat ketidaksukaan itu lho. Duh lupa lagi namanya, antara lupa sama nggak tahu sih sebenarnya. Hahahahaha
     Jadi waktu tahu kalo temen saya ini udah punya cewek baru, sontak temen-temen saya yang lain langsung patah hati secara sepihak. Hahahahaha, gimana nggak mau sepihak orang suka nya juga diam-diam. Kayak lagunya cherrybell ya, diam-diam suka, Zzzzzz. Ya gitu aja sih, simple ya, tapi ya bisa dibilang kalo temen saya ini berarti memang most-wanted. Sebelas duabelas lah ya sama saya. hehe
     Sekian dulu deh materi saya tentang temen saya yang jadi pria idaman ini. Moga-moga nular lah ya ke saya. Tapi jangan jadi pria idaman yang di idamkan pria-pria. Please jangan, kalo itu mah udah. Hahahaha. Baiklah selamat bekerja, selamat berkarya, terus semangat walau harga dolar lagi gila. Tabi' di'!?

Thursday, 6 August 2015

Si Yes Man

       Halo semua kerabat terkasih yang suka tegang mendadak ketika lihat aura kasih, atau malah nyinyir berkepanjangan pas ngeliat make up nya aura kasih yang kadang nggak matching. Nggak kerasa juga ya ternyata saya udah lama banget nggak ngepost, hmmm kerasa sih sebenernya, tapi dibuat nggak kerasa aja biar keliatan sibuk.
       Menginjak satu setengah tahun saya hidup di Bali ya kurang lebih hidup saya gini-gini aja. Cuma ketambahan temen nongkrong aja. Jadi ada yang diajak curhat, atau lebih tepatnya diajak mencurhatkan isi hati. Soalnya bukannya saya yang cerita banyak, tapi malah saya yang dapet cerita banyak. Sebagian besar adalah masalah pribadi dan sebagian lagi yang lebih besar adalah gosip-gosip nggak menentu. Hahahaha, kalo yang ini teteplah dari jaman dulu juga udah hobi nyiyirin orang.
       Banyak hal yang terjadi di 2 bulan terakhir ini. Dari cerita liburan panjang saya di Semarang sampai cerita kemenangan lomba adik-adik paduan suara saya yang hingar bingar. Dan semua cerita-cerita itu masih jauh dari kisah romantis. Yaah seperti biasa, saya tidak punya kisah romantis untuk diceritakan. Tapi sudahlah, setidaknya cerita saya jadi tidak monoton kayak serial FTV yang predictable banget.
       Liburan panjang saya terbilang cukup panjang. Saya emang udah niat sih mau ngambil libur gila-gila an pas menjelang lebaran. Dan syukurlah niat jahat saya itu terwujud. Ya karyawan manalagi yang bisa ngambil rapel off 12 hari. Hampir setengah bulan doang saya kerja. Tapi ya gitu, nyiyiran dimana-mana. Mungkin azab tukang nyinyir kali ya, begitu berbuat sesuatu yang nyeleneh langsung balik jadi bahan omongan orang-orang. Kan lumayan jadi trending topic, diomongin orang sana-sini. Jadi populer lah walau sesaat.
      Kota Semarang sendiri sedikit banyak sudah berubah. Banyak dekorasi kota yang semakin mendetail. Seperti lampu kota yang terbentang di beberapa jalan arteri sekitaran simpang lima. Lampu tersebut mempercantik penampilan kota Semarang di kala malam. Selain itu dibangunnya beberapa taman kota yang nggak canggih-canggih amat sih kayak di Bandung, tapi lumayan lah buat pemula. Hehe. Maaf ya pak Ganjar.
      Banyaknya terrace bistro juga meramaikan khasanah kegaulan di ibu kota Jawa Tengah ini. Tapi sayang department store nya nggak ada perkembangan. Fashion trend nya nggak ada peningkatan. Hanya beberapa orang yang suka upgrading style ke Jakarta atau Jogja aja yang terlihat stylish, selebihnya ya begitu begitu aja. Kasian mereka. Apanya yang kasian coba, padahal mereka biasa aja.
      Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk berkumpul dengan teman-teman saya. Dan begitulah kami, masih sama seperti dahulu kala. Yang berubah hanya umur dan penampilan kami. Tapi itulah keistimewaan bertemu dengan kawan-kawan lama. Jika bertemu dengan teman SMA maka secara tidak sadar tingkah laku kita akan kembali seperti anak SMA kembali. Begitupun ketika berjumpa dengan teman kuliah. Segala cara bicara dan bahan obrolan akan kembali seperti jaman kuliah. Membicarakan games, hal-hal jorok seputar selangkangan, dan pacar. Sebagai catatan, pada point yang terakhir saya cuma jadi pendengar aja. Duh.
       Paling kocak ketika saya bertemu dengan sobat sekelas 3 tahun selama SMA saya. Agak ribet ya. Maksudnya adalah selama SMA kami berada di kelas yang sama selama 3 tahun berturut-turut. Entah disengajain sama si guru BK atau emang kebetulan tapi saya benar-benar tidak menikmatinya. Hahaha. Ada dua orang sih sebenernya teman saya yang selalu satu kelas sama saya, tapi saya mau nyeritain si manusia unik satu ini. Panggilannya Yes Man, pasalnya apapun juga yang kami katakan atau usulkan dia terima-terima saja. Bayangin aja kalo dia jadi ketua kelas gimana. Nurut banget orangnya kayak pembantu-pembantu baik di telenovela. Antara baik sama mudah di intimidasi sih lebih tepatnya.
        Dia memulai ceritanya mengenai rencana pernikahannya. Sebenernya sih bukan dia yang mulai, tapi lebih kepada saya yang bertanya. Hahaha, kepo tingkat dewa cyinn. Begitu denger slentingan berita dari orang-orang mengenai rencananya menikah, langsung deh buru-buru mau konfirmasi ke yang bersangkutan. Hahahaha, ini tipe saya banget.
        Dia pun menjawab setiap pertanyaan kepo yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Nggak ding, kalo yang ini bokis abis. Pertanyaan itu murni dadakan, nggak ada persiapan khusus sebelumnya. Ya masih seputaran kapan waktunya, siapa penghulunya, dimana malam pertamanya, ya gitu-gitu lah. Terus langsung deh berkesimpulan kalo yang ngebet pengen dia nikah sebenernya adalah orang tuanya. Ya dilematis sih, soalnya mereka udah pacaran dari kelas 3 SMA. Saya kenal juga kok ceweknya. Dulu adik kelas kami berdua, dia sempet juga intens chat facebook, karena saya sempet pacaran sama mantan temen saya ini. Hahaha, makan temen banget ya saya. By the way kok dari cerita ini saya terdengar brengsek ya. Ya sudahlah ya, mau gimana lagi kalo kenyataan nya begitu.
        Namun temen saya ini adalah pria yang nggak macem-macem. Seperti yang saya bilang tadi, dia adalah tipe Yes Man. Tapi entah gimana kalo sama ceweknya. Ya asal jangan nakalnya telat aja. Kalo udah nikah baru suka minum, ngegenjos, main cewek, dan sebagainya kan malah berabe. Jadi ya semoga saja dia bisa membangun keluarga harmonis yang bahagia. Walau saya nggak yakin dia bisa jadi kepala rumah tangga. Ngebayanginnya aja saya udah nggak kebayang. Bingungkan, cuma ngebayangin aja sampe nggak kebayang.
        Walau beberapa orang ada yang komentar kalo usia pria menikah di umur 25 itu terlalu muda namun itukan komentar orang. Ada yang bilang juga kalo usia segitu pria belum mapan atau apalah. Tapi saya yakin rejeki itu akan datang dengan sendirinya. Orang yang malas bekerja aja masih bisa dapet rejeki dari sana sini, apalagi kita yang masih muda dan punya cita-cita serta semangat tinggi untuk bekerja. Maka dari itu mari makan ikan. Makan ikan, sehat. Sorry tagline yang terakhir bikin drop.
       Tapi ya begitu itu, jodoh sudah ada yang mengatur, walau teman saya sudah mau menikah dan saya masih jomblo,saya sih fine-fine aja. Sorry airmata saya barusan netes ke keyboard. Jadi sukses buat rencana pernikahannya. Semoga selalu diberkati dengan rejeki dan kebahagiaan. Dan yaaah semoga bisa lebih bisa melawan jika mulut licin saya mulai mengintimidasi dengan nyinyiran nyinyiran yang luar biasa membuat takjub. Maafin mulut hamba ya allah.
       Kalo saya yang ditanya kapan mau nikah, saya sih justru tanya balik ke calon istri saya, kapan mau dinikahin. Tapi naasnya, objeknya belum ditemukan. Hahahaha, udahan ah. Soo selamat bekerja semua, semoga kerjaan yang banyak menuju akhir tahun ini bisa selesai tepat waktu. Dan sun sayang untuk orang di samping anda. Assalammuallaikum!?