Tuesday, 18 November 2014

Tem yang An ya Teman

        Selamat datang pertengahan bulan november dimana duit di dompet tinggal recehan yang agak kasihan kalo dibelanjain sembarangan. Selamat datang juga musim penghujan yang menjadi pertanda kalo saya sudah hampir setahun berada di Bali. Kalo menilik blog tahun lalu sih saya lagi hebring ngomongin masalah rencana tahun baruan. Lebih tepatnya mereview kembali siapa-siapa saja yang potensial menemani malam tahun baruan saya. Dan kayaknya tahun ini akan jadi tahun baru ke 4 dimana saya tidak memiliki kekasih. Duh, malah keceplosan. Nggak ding saya lho setiap tahun baru pasangannya gonta-ganti. Percuma lah ya, pasti pada nggak percaya.
        Sebenarnya acara yang saya nantikan ketika perhelatan malam tahun baru dimulai (dih bahasanya sok bermartabat gitu) adalah permainan truth or dare. Dimana semua pertanyaan berbau cabul dan aib mau tidak mau harus dijawab. Soalnya kalo udah lewat jam 12 malam pasti males deh ngelakuin tantangan yang bakal dikasih kalo nggak mau jawab. Lagian jam segitu kan jam-jam nya galau dimana orang gampang banget curhat mengenai kehidupan pribadinya. Jadi walaupun nggak ditanya pasti deh bakalan curhat. Ada juga yang ditanya apa tapi dia curhatnya sampe kemana-mana. Ada! Acara ini cuma jadi pancingan aja sih sebenernya.
        Tapi itu baru pembukanya aja lho gaes, karena di grup kami, kami tidak pernah mengadu jadi ya semua rahasia yang terungkap di malam hari itu akan benar-benar aman dan dibawa sampai mati. Yaaa kecuali kalo keceplosan atau nyindir-nyindir doang bedalah ya ceritanya. Sami mawon.
        Hal kedua yang sangat saya nantikan adalah pengungkapan resolusi untuk tahun berikutnya. Sedikit serius kalo ngomong masalah resolusi karena yang mendengar bukan hanya si empunya dan tuhan tapi setiap telinga orang-orang yang hadir akan mengingatnya, mengamininya kemudian mengawasinya. Agak terlihat show off memang ketika kita mengungkapkan berbagai harapan kita ditahun berikutnya. Namun sisi baiknya adalah kita jadi punya motivasi tersendiri untuk mewujudkannya. At least untuk membuktikan kepada setiap orang yang telinganya sudah kadung mendengar harapan kita untuk tahun berikutnya. Gengsi juga keleus kalo hidupnya stuck dan nggak ada yang bisa dibanggakan. Hahahaha, yang ini bukan saya lho ya.
       Saya suka tertawa sendiri ketika mengingat resolusi teman-teman saya yang beragam. Ada yang mau lulus kuliah dengan nilai yang baik (yang ini sih klasik), ada yang ingin mendapatkan pekerjaan impian (ini juga klasik tapi sedikit menantang), dan ada juga yang ingin menemukan tambatan hati (nah kalo ini mashaallah sulitnya nggak ketulungan). Hahahaha, pokoknya beragam lah walaupun tetap terdengar standar sih. Nggak ada gitu ya yang punya resolusi ingin menciptakan mesin mutakhir yang bisa menteleportasi orang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan cepat, Kan lumayan jadi nggak bete gara-gara bensin naik harga. Eh kok sampe bahas masalah bensin ya, apa-apa an saya.
     Benar juga ungkapan yang mengatakan 'Rejeki bukan hanya dinilai dari nominal, tapi teman yang baik juga rejeki dari tuhan', kalo saya sih yes. Pasalnya walaupun saya LDR an sama teman-teman saya (pengen nangis nulisnya, kan biasanya LDR sama pacar) tapi komunikasi jalan terus, semua cerita dan gosip terbaru dengan mudahnya bisa di share. Terimakasih telkomsel. Hahaha. Tapi ini serius, hampir semua berita dari teman-teman saya yang mana saja bisa sampai ke telinga saya. Kurang rumpi apalagi saya coba.
     Sekarang masing-masing dari kami sudah dipisahkan oleh jarak. Ada yang masih setia bergulat di kota Semarang, ada juga yang hidup mandiri di perantauan. Macam-macam ceritanya. Ada yang akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di bank, ada yang bekerja di BUMN, ada yang sudah mau menikah, ada yang hidupnya begitu-begitu aja, dan ada juga yang diam-diam memiliki cita-cita besar yang ingin diwujudkan perlahan. Tidak semua mimpi bisa dibagi tidak semua hal bisa diceritakan namun apapun itu teman akan selalu mendoakan. Baiklah selamat musim penghujan semuanya. Ingat pulang langsung pulang jangan nginep dikosan pacarnya, mentang-mentang udara lagi dingin dan mentang-mentang punya pacar. Huh. Sorry kalo saya terdengar sirik. Sip cir gobanggocir. Tabi'!!!

Sunday, 19 October 2014

Tol Kontor eh Kantor

   Selamat siang wahai pemuda-pemudi seluruh Indonesia. Yang kalo udah nginjek hari jumat senengnya ngalah-ngalahin lebaran dan kalo udah berada di hari minggu malam sedihnya udah kayak mau kiamat. Sebenernya jadi orang kantoran itu ada enaknya dan ada nggak enaknya juga. Orang kantoran disini maksudnya yang kerja dikantor ya, bukan yang punya kantor, apalagi yang suka ngomong kantor. Bukan. (Itu kotor pak haji!!)
    Saya mau nyebutin nggak enaknya nih ya. Oke, saking banyaknya saya jadi bingung mau nulis yang mana dulu. Pertama, kemerdekaan waktu kita terampas. Ini yang paling kerasa, karena kita diharuskan mengikuti jam reguler kantor yang 8-9 jam itu. Nggak boleh telat dan anti pulang tepat waktu, belum lagi kalo udah jam-jamnya lembur. Habis lembur sampe malem ngeberesin kerjaan besoknya? Jangan sedih, Masuk seperti biasa ya anak-anak, nggak ada deh sistem kompen-kompenan segala. Kasian ya.
    Selain waktu, yang terampas adalah pikiran. Kalo seumpama nggak kerja di kantor ya tetep mikir juga, at least mikir gimana caranya dapet duit hari itu. Hehe. Tapi kalo dikantoran pikiran kita lebih capek karena serba terbatasi. Pemikiran kita yang bisa lebih kreatif dan berkembang jadi terhalang dengan budaya kantor, peraturan yang ada, serta birokrasi. Jadi ya kalo kita bukan tipikal seorang revolusioner, kita hanya akan menjadi orang kantoran lainnya yang hidupnya bisa ditebak dari pagi sampe malam hari. Ya kayak saya sekarang ini lah.
    Sebagai orang kantoran sebenarnya kita menjadi lebih manja dan takut mengambil resiko apapun yang menyangkut masa depan kita. Menjadi lebih hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan dengan politik yang ikut main di dalam otak kita. Ya karena itu tadi. Kita jadi memiliki sifat manja. Kita hanya menunggu gaji setiap bulannya yang jumlahnya pun selalu sama. Akhirnya karena kita memiliki sifat manusiawi yang tamak jadilah kita menginginkan lebih dari yang kita dapatkan sekarang. Alhasil kita jadi hobi berpolitik di dalam kantor, Mencari aliansi dan menyenggol pihak lain yang dirasa bisa menghalangi langkah karier kita. Watch out, they're exist everywhere, maybe it's you but you didn't recognize it.
    Jadi apa ya, kalo menurut pendapat saya semua pekerjaan itu ada sisi positif negatifnya. Menjadi seorang pegawai kantoran pun juga bukan sebuah najis mugholadoh. Sama halnya mengenai pandangan miring orang umum mengenai profesi Pegawai Negeri Sipil. Apa salahnya menjadi seorang PNS yang berangkat telat pulang ontime, atau sering mengadakan workshop atau seminar yang ala kadarnya demi terselesaikannya rencana program tahunan mereka. Jika semua orang menjadi pengusaha lalu siapa yang mau buatin KTP, siapa yang mau buatin surat tanah, surat kelahiran, dan sebagainya. Jadi intinya setiap profesi itu membanggakan bagi setiap pemiliknya ataupun orang-orang yang menghargainya. Berpikir positif adalah kunci untuk tidak menjadi seorang bajingan yang suka meremehkan pekerjaan atau profesi orang lain.
    Menjadi seorang pekerja kantoran pun banyak hal positifnya. Yang pasti adalah secara finansial seorang pekerja kantoran sudah terjamin. Mau berapa pun gajinya at least yang perlu ia lakukan adalah bekerja sesuai dengan jobdesk dari hari senin ke jum'at/sabtu selama 8-9 jam perhari. Sebuah gebrakan atau revolusi tidak begitu menjadi masalah, yang penting pekerjaan yang dibebankan kepada kita sudah beres. Enak kan? Tidak perlu memutar otak dalam-dalam untuk mengembangkan usaha atau membuat inovasi karena semua tinggal dijalankan dengan baik saja.
    Selain itu jika finansial sudah terjamin sudah pasti bagi kalian para lelaki, jodoh pun tinggal main tunjuk saja. Karena apa lagi yang dibutuhkan jika setiap bulan sudah memiliki penghasilan pasti dan bisa membuat anak. Pasti jika mau serius wanita pun dapat menerima mu apa adanya, Tapi jangan ketinggian juga nyari ceweknya, sadar diri bro.
    Memiliki waktu yang termanage dengan baik. Menjadi pekerja kantoran pasti kita dibatasi dengan waktu yang ada. Seumpama jam kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, sudah pasti kita akan mengatur jam berapa harus bangun, jam berapa harus sarapan, jam berapa harus berangkat, estimasi perjalanan jika ada kemacetan, ban bocor, dan sebagainya. Begitupun jika pulang, jam berapa harus sampai rumah, lalu apa yang akan dilakukan dirumah, bersantai atau hangout bersama teman atau sekedar berbelanja bulanan. Lain halnya dengan seorang pengusaha yang bisa kebolak-balik pola hidupnya. Yang seharusnya waktu kerja malah dipakai tidur dan begitupun sebaliknya.
   Dan satu lagi, waktu libur untuk para pekerja kantoran merupakan sebuah hal yang sakral. Mereka jarang kehabisan ide untuk berlibur. Dari sekedar bersantai dirumah, membaca buku, memasak, dan sebagainya. Sampai acara travelling keluar kota/pulau/negeri. Karena bagi mereka, Work Hard Play Hard.
   So nikmati hidup yang kalian punya, apapun profesi kalian. Dan satu pesan saya, dream bigger than who you are now. Kalo kamu yang sekarang adalah wujud dari mimpimu yang terdahulu maka mimpilah lagi yang lebih besar. Jatuh tersungkur itu sudah biasa, yang salah adalah ketika kita tidak berani menentukan/memilih bagaimana kita ingin hidup.
    Sekian dulu ah obrolan kita yang tidak berbobot ini. Hahahha. Selamat bulan oktober dan selamat hari senin. Salam Olah Ramlan!! Tabi'.

Monday, 22 September 2014

Tapi Ini Serius

    Selamat pagi para kaum muda yang tengah asyik meraba masa depan. Sekali-kali meraba yang lain dong. Meraba apa kek gitu. Hehe, garing. Menuju akhir bulan september yang ternyata benar-benar ceria ini saya sebenarnya ngga punya cerita apa-apa untuk di sampaikan. Tapi karena bermaksud mengabulkan permintaan teman SMA saya yang pernah merenggut keperjakaan saya, becanda ding, akhirnya saya tulis lah post an ini.
    Sebagai tipe orang yang pasif dan menunggu saya bisa dibilang terbelakang jika berbicara masalah percintaa. Cieeh ngomongin cinta. Tapi ini serius, entah karena saya belum menemukan seseorang yang pas atau memang cara berpikir saya yang terlalu kompleks sehingga sampai saat ini pun saya betah menyendiri. Maklum lah ya waktu kecil selalu dicekokin sama minyak ikan salmon dan telur ikan salmon yang masih anakan. Kasian banget itu ikan MBA (Married By Accident).
    Akhir-akhir ini pun saya disinyalir kandas lagi dalam membina hubungan dengan lawan jenis. Orang yang saya kagumi semenjak jaman Mataram Kuno masih berdiri. Orang yang sering juga saya bahas dalam post-an blog saya yang lain. Banyak hal yang memenuhi otak saya ketika mulai membicarakan tentang cinta. Ciee galau. Tapi ini serius, saya bisa membayangkan bagaimana kalo akhirnya saya sama si A atau si B. Maklum lah ya, daya khayal saya terlamapau tinggi untuk pemuda tampang standard dan kelakuan minus macam saya.
     Terkadang saking liarnya khayalan saya, saya harus menyerahkan diri ke tempat penangkaran biar tidak ada yang terluka pada saat saya mulai berkhayal. Lebay. Tapi ini serius, saya bahkan pernah berkhayal bagaimana jika seandainya saya punya istri bule dan punya anak-anak kece yang bisa saya orbitkan menjadi artis FTv siang yang menuruni talenta luar biasa dari ayah nya ini. At least kalau nggak punya talenta, yang penting setengah bule lah, kayak ibunya. Lagi trend kan yang begituan. Yaah asal tidak terjerumus dalam dunia per-gay an aja. Lagi trend juga soalnya. Amit-amit.
    Terakhir kemarin, baru aja beberapa hari yang lalu, saya juga kedatangan duo rempina yang sangat rawan atas gosip. Kenapa saya bilang begitu, ya lebih karena jika berbicara hal-hal yang berbau aib pada mereka sama dengan berbicara melalui TOA masjid. Jadi ya nyebar aib nya, berasa nyebar brosur gitu deh. Kayaknya kalo ada acara apa-apa daripada nganggarin duit buat bikin brosur, mending beliin mereka makanan enak diresto deh lalu cerita aja detail acaranya sama mereka. Pasti lebih efektif daripada nyebar brosur deh. Hehe.
    Kedua pemuda ala-ala ini kisahnya habis travelling mahal ke Nusa Lembongan lalu pulangnya mampir bermalam di Bali satu hari. Otomatis saya yang baik dan jelita ini menjadi tour guide mereka. What? Jelita? abaikan. Bermodalkan kemampuan menyetir mobil yang dibawah rata-rata saya pun memberanikan diri mengantar duo rempina ini. Dari pusat oleh-oleh yang satu ke pusat oleh-oleh yang lain dan hinggap di salah satu beach club menarik didaerah Legian saya dicekoki berbagai issue terhangat dari Semarang. Mengapa dikatakan issue? Ya karena berita itu belum teruji kebenarannya. Hahahaha. Dasar mulut emak-emak ya begitulah.
    Dari cerita yang sebenarnya lebih kearah nge-cengin mengenai Bride To be yaitu mantan saya yang juga apesnya merupakan teman mereka dan pujaan hati saya yang juga dipuja oleh teman kami yang lain. Galau? Nggak sih, tapi lebih kepada lucu, karena pembawaan mereka saat bercerita tidak menyinggung saya sama sekali. Itulah yang benar-benar saya rindukan dengan orang-orang ini, seculas apapun mulut mereka, tapi tidak pernah sedikitpun terbesit keinginan saya untuk marah apalagi memaki mereka. Paling ya cuma ngomongin mereka dari belakang aja sih. Hehe.
   Tapi ini serius, walau saya merasa masih nyaman dengan mantan saya namun mengetahui bahwa ia akan menikah tidak membuat saya panas. Apalagi setelah mendengar cerita duo rempina yang kocak, jadilah saya semakin menunggu-nunggu hari pernikahan si Bride To Be itu. Dan masih setia berkhayal siapa yang akan saya gandeng dalam pernikahan itu. Bisa Jadi kamu, iyaa kamuuu. Hahaha. Baiklah kayaknya cukup sekian deh untuk bulan ini. Nggak terasa juga saya sudah 6 bulan nih meniti karier disini. Emang benar kata mereka, if you loved what you do, time will go so fast. Kata mereka apa kata saya ya? yang penting bukan KTM dong ah. Shit, jadi keinget sosok Inul Daratista dengan baju karet ketatnya. See you and have a wonderful life yaaa. Emmuach. Hweeks jijik. Hahahaha. Tabi'!
   
   

Monday, 1 September 2014

Khoayer Tim

       Hai, selamat memasuki bulan September teman-temin pembaca setia blog nggak berbobot ini. Bulan yang menurut lagunya sih bakalan ceria. Ya, semoga saja. Seceria senyum anak-anak tim choir saya yang tempo hari sempat berkunjung ke Bali untuk mengikuti lomba tingkat internasional.
       Canggih memang jika kita sudah kelewat tua untuk melihat perkembangan organisasi yang pernah kita ikuti bertransformasi menjadi jauh lebih baik. Disaat dulu tim choir kami hanya sebatas menjadi tim paduan suara pengisi wisuda yang tidak diperhitungkan. Disaat dulu banyak teman kampus yang bertanya apakah kepanjangan dari PSM (Paduan Suara Mahasiswa), saking tidak terkenalnya UKM paduan suara kami bahkan bagi mahasiswa lain yang notabene nya masih satu kampus. Miris memang, namun itulah hidup, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan tidak mudah puas. Sehingga sekarang, ketika saya mendengar lantunan lagu yang mereka nyanyikan di panggung internasional, hanya ada titik air yang berusaha jatuh dari kedua mata.
       Terdengar berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan. Bahkan perasaan merinding dan rindu langsung menyeruak ketika pertama kali sekali saya tidak berada di barisan paduan suara waktu wisuda karena saya berada di barisan kursi wisudawan. Mendengarkan mereka menyanyikan lagu wisuda dan lagu hiburan membuat saya ingin kembali lagi ke bangku perkuliahan dan berdiri serta bernyanyi bersama mereka. Namun itulah hidup, ada pertemuan dan ada perpisahan.
       Pada september tahun lalu saya sempat membuat post bertajuk 'Sang Primadona' dan bercerita mengenai keikutsertaan tim choir saya pada lomba tingkat nasional di Jakarta. Jika waktu itu kami mendapat Gold Medal, namun kali ini kami hanya mengantongi Silver Medal. Namun sekali lagi itulah perjuangan, banyak hal yang harus lebih dijadikan intropeksi daripada hanya sekedar kecewa dengan keputusan juri. Silver medal pun tidak jadi masalah karena perjuangan dan kebersamaan merekalah yang paling penting dari hanya sekedar medali.
       Hal kedua yang membuat saya sangat bahagia adalah mereka hadir. Ya mereka tim choir yang mewarnai hidup saya sampai sering menjadi objek tulisan di blog saya, semua hadir kesini, ke tempat saya sekarang, pulau Bali. Setelah puas dikunjungi oleh teman-teman SMA saya, kini giliran saya melepas rindu dengan tim choir saya. Orang-orang unik yang membuat keberadaan saya sangat berarti. Membuat hidup saya menjadi lebih hidup. Mereka yang saya sayangi dan juga (saya harap) menyayangi saya. Amien.
       Memang tuhan maha segalanya. Disaat saya tidak bisa pulang ke Semarang dan menemui mereka satu persatu, mereka malah datang ke kota tempat tinggal saya, bergantian, yang membuat perasaan kesepian saya sekejap langsung hilang.
      Hal ketiga yang sebenarnya membuat saya lebih merasa gelisah daripada senang adalah, sebuah pertemuan dengan pujaan hati saya. Seorang wanita yang saya kagumi sejak tahun 2012, ketika saya dan tim choir saya mengikuti lomba paduan suara di kota asal kami, Semarang. Bertemu dengannya yang memiliki banyak pemuja rahasia lain selain saya. Bahkan saya sempat jalan berdua dengannya di malam minggu yang dingin di kota Denpasar. Sebuah dream come true yang daridulu sebenarnya saya tunggu-tunggu. Pergi berdua dengannya hanya untuk sekedar menikmati makan malam bersama dan bercerita macam-macam. Tanpa ada maksud ingin menyatakan cinta atau berlutut dengan satu kaki untuk mengajak menikah. Sebuah hal yang sederhana namun tidak pernah bisa terlaksana waktu kami berada di kota Semarang.
     Disanalah hidup saya. Organisasi paduan suara. Dimana saya menemukan teman, sahabat, keluarga, serta cinta. Dimana saya bisa bertingkah seenaknya tanpa harus menjaga sikap atau menjaga image. Melakukan berbagai hal gila bersama. Membuat video gila atau mengikat teman yang berulang tahun kemudian melemparinya dengan tepung, telur, dan air bekas cuci piring kucingan depan kampus. Namun sekali lagi hidup adalah sebuah rel dan kita adalah kereta yang terus melaju. Tim choir saya hanyalah salah satu stasiun yang pernah saya lalui. Sekarang saya dalam perjalanan menuju stasiun berikutnya. Namun hal yang paling indah dari kenangan adalah sebuah kenyataan dimana kita tidak pernah dapat mengulangnya kembali.
    Sekian cuap-cuap saya, masih dari pulau Bali yang dilanda musim angin. Semoga bulan september kalian ceria seperti lagu September Ceria. Sampai jumpa lain kesempatan. Tabi'!!

Saturday, 9 August 2014

Hari Raya di Rumah Raya

     Haiiii, wuaaa its such a thousand century saya nggak berceloteh ria di blog saya. Hahaha sorry kalo masih lebay. Ya hari ini hari minggu dan saya yang kebagian piket kerja di tanggal merah ini. Ada banyak hal yang terlewat begitu saja tanpa sempat saya pergunjingkan di dalam blog ini. Maklum ibu-ibu PKK, nggak afdol kayaknya kalo nggak ngomongin orang. Tapi sebelumnya saya mau minta maaf lahiriah dan batiniah untuk semua teman-teman yang masih aja iseng ngebaca blog saya ini. Terutama teman-teman yang pernah menjadi bahan di blog saya ataupun kalian yang ngerasa menjadi bahan di blog ini. Kekurangan semua milik saya, kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Lalu inget acara Dorce Show. Krik-krik.
     Namanya lebaran pasti kalian yang merayakannya merasa benar-benar lebar. Baik lebar hatinya maupun lingkar pinggangnya. Terutama buat sobat saya yang tempo hari sempet curhat kalo dia 'Tumben' di deketin sama lawan jenis. Kenapa tumben? Ya soalnya dia yang bilang begitu, masih aja ada orang yang khilaf sampe cari perhatian lebih ke sobat saya itu.
     Tapi kali ini saya nggak mau ngebahas sobat saya yang memiliki berat badan lebih dari satu kuintal itu, soalnya dia juga nggak pernah baca blog saya. Huh, buat apa ya kan? Mending saya berceloteh aja mengenai kisah lebaran saya. Kisah yang sangat menyenangkan, mengharubiru, hingga membuat rahang terasa linu karena tidak sanggup menahan ketawa. Sorry lebay lagi. Kalo boleh saya kasih judul 'Lebaran di Pulau Lain' biar kesannya kayak sekuel-sekuel laga yang menegangkan. Ya kan? Udaaah iya in aja.
     Jadi kisahnya pada momentum lebaran kemarin saya tidak sempat pulang ke kampung halaman. Status saya sebagai pegawai kontrak tidak memberikan saya banyak waktu untuk pulang kampung alias mudik. Jadilah saya sebagai seorang perantauan yang merayakan hari besar agama di daerah minoritas. Bali memiliki banyak sekali pendatang dari berbagai daerah. Baik dalam maupun luar negeri. Baik Muslim maupun non muslim. Baik normal maupun gay. Ups sorry yang terakhir nggak sengaja kesebut. Bali sendiri memiliki banyak kampung muslim yang tentu saja didiami oleh warga pendatang maupun warga asli Bali yang sudah di mix dengan pendatang muslim. Jadi momentum lebaran di Bali tidak sesepi dan semenyedihkan yang kalian bayangkan.
      Satu-satunya hal yang paling menyedihkan yang saya rasakan adalah tutupnya berbagai gerai makanan murah dan halal karena si empunya memilih merayakan lebaran di kampung halaman nya. Bahkan sampai sekarang pun hanya beberapa saja yang sudah buka. Malang sekali nasib saya. Makan mie, makan mie dah setiap hari. Huft.
      Kalo ditanya bagaimana perasaan saya ketika merayakan lebaran sendirian di Bali bisa dikatakan lempeng-lempeng aja. Bahkan setelah sholat ied saya masih sempat molor sampai tengah hari. Untung temen sekerja saya ngotot ngubungin HP saya lantaran takut kalo saya desperate di kamar kos dan mati gantung diri di pohon pisang depan kamar. Akhirnya saya menghabiskan hari raya itu di rumah mbak raya. Hahaha, dia adalah salah satu senior saya di kantor. Sedih? Tidak sama sekali. Bahagia? Dikit karena bisa main sama anaknya si senior saya itu yang baru berumur 2 tahun sekaligus mencoba mengerti bahasa rusia yang diucapkannya. Percayalah bahwa kartun Marsha and the bear dapat mempengaruhi cara bicara anak yang belum teteh berbicara. Hahaha. Tapi makasih atas opor lebaran nya yang ngebuat saya setidaknya merasakan nuansa lebaran.
      Kisah sedihnya sih ya itu, saat saya menelpon orang tua saya untuk berminal aidzin ria, eh saya malah dicuekin lantaran banyak tamu yang bertandang ke rumah mereka. Sebelkan? itulah kenapa saya nggak sedih sama sekali harus berlebaran di pulau Bali ini. Yang ada sih cuma perasaan aneh aja, karena malam takbiran biasanya kumpul sama keluarga, ini harus ke mesjid sendirian untuk bayar zakat fitrah. Pagi-pagi bangun trus berantem sama kakak gara-gara nggak mau mandi duluan sekarang jadi harus cepet-cepet mandi gara-gara bangun kesiangan. Gitu aja sih, selebihnya yaa rindu aja sama suasana dan bau rumah yang lembab dan anyir. Heh emang tinggal di Gua!! nggak ding, pokoknya gitulah, sulit dijelaskan dengan mata telanjang. Abaikan.
      Yaah apapun itu berada dekat dengan keluarga memang lebih menyenangkan dan melegakan. Namun hidup itu penuh dengan pilihan. Seperti soal pilihan ganda di ulangan cawu. Cawu? Hadeh jaman kapan ya itu. Pokoknya kita yang ujian hanya wajib mengisi pilihan ganda nya saja tanpa harus menuliskan alasan mengapa memilih jawaban itu. Hidup tidak sekeras seperti yang kita bayangkan. Tidak sekeras 'anu' pada pagi hari. Namun tidak selembek 'itu' pada saat kehujanan juga. Pokoknya hidup serba seimbang. Kalo taun lalu cerita Lebarannya boring banget gara-gara hampir 2 minggu menjelajah berbagai kota di Jawa dengan keluarga nah tahun ini ceritanya cuma ada saya sendiri di tanah Bali ini. Kurang lebih itulah hidup. Baik buruknya siapa yang tahu, bersyukur pada Tuhan.
      Segitu dulu deh, eh akhir bulan ini rombongan paduan suara saya mau datang ke Bali untuk mengikuti kompetisi internasional loooh. Waaa nggak kerasa udah setahun semenjak kemenangan kami di Jakarta. Can't wait to see you soon guys. Ayo kita buat video fenomal lagi. Dan semoga di lomba tingkat internasional pertama kalian ini, kalian bisa nge-dapetin Gold Medal. Amiien. Baiklah, sekian serba-serbi selebriti kali ini. Sampai jumpa kapan-kapan. Tabi'!!
   

Sunday, 6 July 2014

Cinta Kepalang Tanggung

         Halo para pekerja keras yang nggak kapok-kapoknya mengejar cinta nya walau udah tau nggak bakal diterima. Duh, jadi berasa nyindir diri sendiri. Ya sudahlah. Bagaimana puasa kalian di hari ke-8 ini? atau hari ke-9 buat sebagian dari kita? Semoga lancarlah ya jangan sampe kayak saya yang udah mulai nggak balance nih puasa sama nggaknya. Hahahha. Ketahuan deh busuknya.
         Kalo tahun lalu saya berpuasa sebulan lamanya di Semarang tapi kalo sekarang saya berpuasa sebulan mokahnya di Bali. Jangan tanya mengapa. Tapi sebagai minoritas memang beda sama kalo jadi mayoritas. Bedanya adalah tujuan kita akan beribadah jadi benar-benar tampak. Ini sih saya ya, saya nggak ngomongin siapa-siapa. Kalo di Semarang karena menjadi mayoritas jadi ya terbawa. Dimana bulan puasa ikutan puasa tapi jadi sekedar ikutan aja. Soalnya kalo nggak puasa jadi merasa aneh sendiri. Yang lain pada nggak makan nggak minum nggak ngerokok, masa iya saya mau nyeleneh sendiri. Ntar dicap kafir lagi. Kalo nggak dikira atheis atau malah iluminati. Kan serem gambarnya mata satu gitu. Kayak Monster University jatuhnya.
         Tapi kalo di Bali sebagai minoritas bakal keliatan nih imannya sampe sejauh mana. Kalo tetep kekeuh puasa biar keliatan beriman sih bakal nyesel sendiri jadinya. Jadi kesannya pencitraan gitu. Kalo bisa benar-benar berpuasa karena punya keyakinan yang kuat didukung sama ibadah yang oke baru deh bisa diacungi jempol. Tapi sayangnya saya masih belum sampai ke arah sana. Aduh, kayaknya saya perlu dirukyah deh biar bisa bener-bener punya keyakinan yang tidak tergoyahkan macam benteng takeshi.
         Saya sempat ngobrol asyik ditengah hari sama rekan kerja saya. Sambil minum kopi dan ngerokok dong biar lebih asyik. Eh ketahuan deh kalo nggak puasa. Brengsek. Walaupun begitu kami justru excited banget ngebahas masalah agama. Pasalnya saya lagi dekat dengan seorang cewek beragama Budha dan rekan kerja saya itu sudah 6 tahun lamanya berpacaran dengan seorang pria nasrani. Kami sama-sama muslim tapi malah asyik ngobrol masalah agama sambil ngerokok di siang bolong di bulan puasa.
         Banyak hal yang sebenarnya menurut kami butuh waktu ekstra untuk memahaminya. Misalnya bagaimana memahami perihal mengapa seorang wanita muslim berhijab selain ada kata harus dan wajib. Lalu bagaimana hukumnya mengenai hijab-hijab ala-ala yang marak akhir-akhir ini. Bukan lagi bertujuan menutupi kecantikan supaya tidak merangsang nafsu lawan jenis namun justru bertujuan mempercantik si penggunanya. Butuh waktu ekstra untuk memahaminya. Kemudian mengapa kita bisa mengaku sebagai seorang muslim taat namun disaat seorang pemuka agama tersohor ketahuan menikah untuk yang kedua kalinya kemudian kita men-judge nya yang macam-macam kemudian membencinya. Sesuatu yang harus dipahami lagi untuk saya dan rekan kerja saya yang pengetahuan nya masih sangat cetek.
        Agak dejavu dengan obrolan saya setahun lalu yang sempat saya tulis di blog juga dengan judul "Hore Puasa". Obrolan ringan masalah agama yang menjadi sesuatu yang samar jika dibicarakan oleh 3 pemuda dari 3 agama yang berbeda. Sebenarnya konsep ketuhanan seperti apa yang bisa menjadi patokan untuk berperilaku. Pasalnya sampai sekarang pun masih banyak tindakan tidak berkeprimanusiaan yang mengatasnamakan agama. Duh bahasa saya udah yang kayak paling ngerti agama ya. Hahaha, maklum gagal masuk pesantren gara-gara naik kelas melulu. Soalnya dulu waktu kecil ibu saya ngancemnya kalo sampe nggak naik kelas bakal dimasukin pesantren. Berhubung saya takut jadinya saya rajin belajar dan menabung deh. Tuhkan, perkara alasan masuk pesantren aja masih blur sampe sekarang. Dulu saya nganggepnya kalo pesantren itu tempatnya anak-anak nakal. Maklum lah saya dulu masih polos belum terjamah era reboisasi. Globalisasi kali mas maksudnya.
        Yah tapi apapun keputusan kamu aku terima sepenuhnya kok. Eh apaan coba, jadi salah fokus begini. Ya intinya janganlah menyekat-nyekat suatu bangsa karena sebuah kepentingan yang bertamengkan agama. Apalagi sampe bertindak tidak berkeprimanusiaan. Kan Pak Pri juga manusia. Dia loh yang merestui hubungan saya dan anak gadisnya dulu, tapi kemudian kami putus. Yah teringat mantan deh, apes.
       Sekalinya bisa move on, eh bertepuk sebelah tangan. Sekalinya nggak bertepuk sebelah tangan, eh beda agama. Sekalinya dapat yang seagama, eh ternyata sejenis juga alias cowok. nggak ding, yang terakhir becanda. Lalu apa yang aim harus lakukan ya allah. Masak aim harus jadi biksu biar nggak kepikiran masalah duniawi macam begini. Harus gundul dong ntar. Nggak kece lagi dong. Hmmm kayak sekarang kece aja. Eh kalo jadi biksu berarti nggak muslim dong. Tuhkan riweuh. Kalo cinta katakan cinta doang mah nggak bakal deh bingung mikirin beginian. Sayangnya cinta nggak sesimple itu. Asik banget ya bahasa saya yang terakhir. Mencerminkan kengenesan yang amat sangat gitu dalam kisah percintaannya.
       Segitu dulu deh pesan singkat saya yang sebenernya nggak ada titik terang nya ini. Yang penting saya masih bisa hidup damai dan rukun di tanah perantauan dan syukurnya masih mampu membeli nasi. Alhamdulillah. Semoga puasa kalian selancar kisah cinta kalian yaa. Maklum kisah cinta saya nggak lancar jadi puasa nya ikutan nggak lancar. Emang ngaruh gitu? Hovd beud. Hahahha. Baiklah, hatur nuhun sadayana. Tabi' !!!

Tuesday, 24 June 2014

Kencan Gagal

      Selamat siang semua wahai penakluk hati yang tidak tanggung jawab atas hati yang tertaklukan. Iyaaa ini buat kamuuuu. Mumumumumu. Sorry absurd. Kayaknya karena terlalu betah sama kerjaan jadinya nggak kerasa aja udah bulan juni. Dan jadinya basi deh kalo mau bahas ulang tahun saya yang jatuh di akhir mei kemarin. Tapi nggak papa lah ya basi, sebelas dua belas sama yang nulis. Tuhkan basi banget.
     Jadi ceritanya saya mulai nih membuka hati untuk wanita lain. Yah gimana dong, sama yang dulu nggak kesampaian, bertepuk sebelah tangan, diberi harapan palsu, ditinggal tanpa kenangan. Duh apes banget hidup saya. Mati aja boleh?
     Lanjut. Jadi ceritanya saya ketemu sama cewek nih. Tulen. Bukan jadi-jadian. Cuma mau negesin aja sih. Nah pada dasarnya emang satu tempat kerja jadinya makin sering dong nih ketemu. Hampir setiap istirahat kerja atau berangkat atau pulang atau sehabis pulang disempet-sempetin deh nih ketemu. Nah, kalau kalian belum pada tahu bagaimana pergaulan di Bali, ini saya kasih tahu. Lanjutin baca makanya, kalo bisa di share atau di +1 juga boleh lah. Kemudian berharap.
     Pergaulan di Bali itu identik dengan kumpul kebo, kumpul sapi, kambing, kuda, naga, pegasus, dan mamalia mamalia lain nya. Jadi pergaulan bebas itu bukanlah sebuah hal yang tabu disini. Ya pada awalnya sih saya sebagai manusia yang polos, berwajah tampan, dan keturunan darah biru sempet kaget atas fenomena ini. Boleh ambil kresek item kok kalo mau muntah. Pasalnya freesex nya itu sedikit lebih parah daripada di Jakarta, Bandung, atau Semarang mungkin. Parahnya yaitu banyak kejadian hamil diluar nikah disini. Yah walaupun ujung-ujungnya dinikahin juga sih, tapi tetep aja mainnya nggak bersih.
      Maka dari itu, kalo mau nyari cewek di bali untuk serius kayaknya jadi PR deh. Kalo ndeketin buat jadi bajingan sih gampang-gampang aja. Tapi sayang saya bukan tipe kayak begitu. Saya kan image nya anak baik-baik, walau jarang sholat dan mengaji, tapi akhlaknya patut diacungi jempol. Jempol apa? Jempol apa aja boleh deh. Nah fenomena ini pun agak jadi ganjalan bagi saya ketika deket sama temen satu tempat kerjaan saya ini. Pertanyaan  besarnya  adalah apakah dia memiliki gaya hidup seperti sebagian besar orang disini?
        Ketika pertama kali menjalin hubungan dengan terbuka dia mengatakan statusnya yang masih perawan dan tidak suka melakukan kontak fisik dengan pasangannya sebelumnya. Aneh? Iya. Ajaib? Iya. Lebih anehnya lagi ketika saya menawarkan diri untuk menemaninya di kos pada pukul 8 malam, dengan senang hati ia mengamininya. Sangat bertolak belakang dengan gaya hidup yang secara tersirat ia katakan sebelumnya. Tapi kemudian seorang teman saya mengingatkan saya akan tujuan awal saya bekerja di bali. Jadi bagai sedia payung sebelum hujan. Bagai membawa sekoper penuh pakaian untuk 2 hari vacation keluar kota. Dan bagai katak dalam tempurung. Sorry yang terakhir nggak nyambung. Jadinya secara sepihak saya mencoba menjauh dari wanita tersebut. Entah dia ngerasa apa nggak, tapi yaa bisa dibilang saya benar-benar feeless saat ini.

          Lanjut cerita, sehari sebelum ulang tahun saya, kami (saya dan wanita itu) serta teman-teman kami memutuskan untuk pergi ke pantai. Yah tempat mana lagi di Bali ini yang lebih menarik daripada pantai. Kami menghabiskan waktu yang hambar sampai sekitar maghrib. Kenapa hambar? Karena bisa dibilang kalo itu disebut kencan maka itu adalah kencan yang gagal. Dia lebih banyak diam dan membiarkan saya asyik dengan dunia saya sendiri. Iya. Jadi waktu di pantai itu saya ketemu sama 2 orang cewek jepang yang pakaiannya seksi abis. Tapi saya nggak pake ngiler loh. Soalnya nggak doyan. Hahahaha, becanda ding. Singkat cerita mereka sedang sibuk membuat sebuah tulisan 'Happy 2nd anniversary' di balik tebing karang di tepi pantai padang-padang.
          Waktu itu saya yang tengah berdua sama si do'i udah kehabisan bahan pembicaraan. Aneh? iya. Pasalnya saya adalah orang yang banyak bicara alias cerewet. Kayak emak-emak pengajian yang doyannya nge-gosipin anak tetangga. Karena sudah terlalu lama kami berdiam diri saya pun jadi mengalihkan perhatian saya pada dua orang bule jepang tadi. Untung saya kesana mengajak temen satu ruangan saya, jadi ya kami berdua yang notabene nya lelaki sejati kemudian iseng mendekati dua jepang tadi.
           Tanpa bermaksud mengabaikan teman kencan saya waktu itu, kami pun (Saya dan teman seruangan saya) bergabung dengan dua jepang tadi. Lucu kan? Hmmm kedengarannya kok malah jahat ya. Hahaha. Tanpa babibu pun temen kencan saya kabur menghampiri teman-temannya yang lain. Jangan salahin saya. Dia udah disuruh gabung kagak mau. Masa iya saya harus terdiam selama 30 menit kayak lagunya Jamrud. Kan bukan saya banget.
           Matahari pun perlahan terbenam dan kami pun selesai membuay tulisan diatas pasir dengan menggunakan lampu-lampu kecil berbentuk hati. Pokoknya romantis beud lah. Setelah selesai berfoto-foto saya dan teman seruangan saya kembali menghampiri teman kencan saya. Maaf ya agak ribet ngejelasinnya. Tahu sendiri kan saya nggak pernah nyebut merk. Yaudah gitu aja sih cerita kencan gagal nya. Yaah mau gimana lagi, jangan salahkan bunda mengandung, tapi salahkan bapaknya yang ngeluarinnya di dalem. Hehe.
           Setelah kami berpisah saya dan teman seruangan saya tidak langsung pulang. Karena bete kelas berat saya pun mengajaknya nge-bar. Saya tahu dia jarang membelanjakan uang nya untuk hal-hal semacam ini. Jadilah saya yang sok baik mentraktirnya karena kebetulan juga beberapa jam lagi hari ulang tahun saya tiba. Yaah daripada sedih nggak ada yng ngasih surprise ya udah saya rayain aja sendiri. Jangan sedih.
           Bisa dikatakan ini pertama kalinya saya ulang tahun tanpa adanya keluarga yang mendampingi. Walaupun saya dulu juga sering tinggal sendiri namun pada saat hari ulang tahun saya tiba pasti orang tua saya atau minimal kakak saya akan datang ke rumah dan mengajak saya untuk makan enak setahun sekali. Yah lumayan lah biar cacing-cacing di perut saya bisa ngerasain nikmatnya makanan-makanan mahal ala eropa. Kasian mereka hari-hari makan mie sama telor mulu. Lebih kasian sama saya sih sebenernya.
          Banyak hal yang saya dan teman saya bicarakan saat di bar. Terutama tentang pergaulan yang sangat diluar perkiraan saya. Ini antara saya yang terlalu katrok atau memang pergaulan disini yang terlalu bebas. Hal itu lah yang mendasari saya untuk berpikir berkali-kali lipat untuk dekat dengan wanita bali. Bukan sok suci atau berperilaku munafik sih. Cuma saya nggak mau ada kejadian hamil diluar nikah aja dalam hidup saya. Bukan saya lho yang hamil. Tapi lebih kepada yang menghamili. Catet ya jangan sampe lupa. Hehe. Damn.
          Jadi ya semoga saja selama saya di Bali saya bisa terus konsisten akan pendirian saya sendiri. Bukan pendirian orang lain yaa. Pacaran boleh kali ya, tapi sebatas pegangan tangan aja mungkin. Hahaha, munafik nggak sih saya. Ya begitulah adanya. Dan semoga di kencan-kencan berikutnya tidak gagal lagi. Baiklah, sekian cuap-cuap alay saya yang sedikit ngenes ini. Hiks. Wassalammuallaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, jama'ah. Tabik!?