Eh sudah masuk bulan mei ma sis and ma bro. Selamat malam semua pembaca yang setia, bukan setia sama tulisan saya, tapi lebih ke setia pada kesendiriannya masing-masing. Hedeuh. Sama lah kayak saya. Hehe. Masih dari sudut kamar kos di selatan kota Denpasar. Saya masih konsisten berbagi pengalaman kepada kalian semua. Yaa pengalaman siapa saja. Lebih banyaknya sih pengalaman orang lain. Ini bukan ngomongin orang. No no no, namun lebih kepada mengkaji dan menelaah apa-apa saja yang terjadi pada mereka dan bagaimana cara mereka menghadapinya. Yaah walaupun dengan bahasa yang sedikit rumpi tapi ini tetap bukan ngomongin orang.
Sudah genap 3 bulan saya berada di perantauan. Perasaannya ya berkecamuk. Asseek bahasanya. Berkecamuknya antara bahagia bisa hidup mandiri yang bener-bener mandiri (walau kadang nelpon temen buat ngutang) dan sedih juga hidup dalam kesendirian. Idiiih, bahasa saya mellow abis gara-gara kesepian. Benar juga apa temen saya bilang tentang alasan saya menghubungi dirinya. Lantaran kesepian. Tapi kadang kesepian dan kehilangan sangat teramat sulit dibedakan lho.
Selain bahagia dan sedih kadang saya juga suka asal kangen. Asal kangen itu bukan sebuah program TV yang menyajikan sejarah akan suatu hal loh ya (itu asal usul kali bang). Asal kangen adalah perasaan kangen yang asal. Contohnya, kangen makan pempek di depan kampus sambil merhatiin cewek-cewek berkeliaran dengan berbagai dandanan. Kangen jalan-jalan pake tote bag tanpa adanya pemikiran dari orang-orang bahwa kamu adalah gay karena make tas begituan.
Berada jauh dari semua hal membuat saya benar-benar menghargai semua hal yang ada. Sekecil apa pun itu. Terutama saat menjemput temen yang kebetulan satu kos sama gebetan kita lalu secara tidak sengaja bertemu dengannya dan mendapat senyuman manisnya. Itu berharga sekali bahkan sangat berharga untuk sekedar menjadi kenangan. Aih mampus, kayaknya saya kena SPG alias Syndrom Pemuda Galau. Jadi harap dimaklumi aja kalo kadang kata-kata saya terkesan risau. Nahkan. Hahaha.
Asal kangen ini juga membuat perasaan menjadi blur loh. Bukan karena nggak pake auto fokus jadinya blur, emang kamera. Bukan. Blur maksudnya ya nggak jelas gitu. Antara perasaan kangen aja, kehilangan, dan perasaan membutuhkan yang saya namakan cinta. Hampir setiap kali saya mendengar kabar dari teman-teman saya pasti senyum bahagia tersungging dari bibir saya. Dari siapapun itu. Teman, sahabat, gebetan, mantan pacar, sampe kenalan biasa. Nggak peduli mau cewek apa cowok, bawaannya seneeeeng aja. Aduh gay detected nih kayaknya.
Tapi asli, nggak KW KW an, perasaan itu benar adanya, murni dari hati yang paling dalam. Tanpa pemanis buatan dan tanpa bahan pengawet. Jadinya ya suka bertanya sama diri sendiri. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ebusseeeet dikira lirik lagu. Hovd banget.
Ada kemungkinan besar bahwa saya merindukan semarang dan seisinya dikarenakan saya belum mendapatkan komunitas yang kurang lebih sama. Tapi itulah kegagalan tersendiri dalam hidup saya. Saya bukan tipe orang yang sekali kenal langsung bisa akrab. Jadi ya bisa jadi kalo teman-teman dan sahabat-sahabat saya yang ada di Semarang dan sekitarnya adalah manusia-manusia yang tak dapat terganti. Terutama kamu, iyaaa kamuuu, halah kamu-kamu. Sorry absurd.
Intinya adalah semua hal yang ada dan terjadi dalam hidup kita merupakan sesuatu yang sangat berharga. Sayangnya kita tidak akan menyadarinya sebelum kita benar-benar kehilangan mereka satu persatu. Maka dari itu hargailah mereka, datanglah berkumpul jika mendapat undangan karena mungkin itu saat terakhir kalian bertemu, hargailah setiap gigitan dari makanan yang kalian konsumsi siapa tahu besok kalian tidak bisa mengkonsumsi makanan yang sama lagi, hargailah waktu yang berjalan dalam hidupmu karena mungkin besok atau lusa kita sudah tak bernyawa lagi. Sekian cuap-cuap saya di awal bulan mei ini. Hidup Gemini!! Tabik, Assalmuallaikum. Semoga masih ada mendoan untuk sarapan besok ya allah. hehe
Thursday, 1 May 2014
Friday, 28 March 2014
Tuhan itu Baik
Wih, akhirnya saya kembali setelah meditasi yang panjang. Hehe. Apa kabar semua? Semoga tetep asyik kayak jargonnya acara Bando dulu. Sorry back to 90's. Yaaahh keliatan deh umurnya. Tapi asli buat kalian yang lahir tahun 90an coba deh beli bukunya generasi90. Tuh buku kocak abis. Ada jadwal tayang acara-acara tahun segitu dan kemudian di potong sampe jam 9 karena semua televisi wajib menyiarkan Dunia Dalam Berita. Ada gambar icon-icon yang khas 90an juga kayak Ari Wibowo, Bunga mawar dengan tulisan Tersayang dibawahnya, Jin dalam botol, Ade Juwita, banyak deh. Kayaknya ada twitternya juga deh, tapi saya lupa namanya. Hehehe, itulah yang membuat kenangan terasa begitu manis. Karena itu hanya kenangan dan tidak akan terulang lagi.
Ngomong-ngomong ini pertamax saya ngeblog dari kosan baru lho. Yeee. Saya sudah cerita belum ya kalau akhirnya saya keluar dari pekerjaan yang membawa saya ke pulau dewata ini? Kalo belum ya ini saya mau cerita. Jadi usut punya usut saya mulai tidak betah setelah begitu banyak cacian yang masuk ke telinga saya. Namun saya selalu ambil segi positif nya dari semua keadaan. Jika awalnya saya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja saya, namun saya kemudian kecewa akan ekspektasi saya sendiri. Saya selalu mengingatkan teman saya akan dream job, meraih pekerjaan impian yang sesuai dengan gairah mereka. Namun saya sendiri malah terperangkap di tembok penuh hujatan ini. Namun sekali lagi itulah proses.
Saya mensyukuri keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya. Walaupun hanya bertahan satu bulan lewat 2 minggu namun itu sudah cukup bagi saya untuk mengenal sedikit banyak tentang suasana kerja di Bali. Ada banyak sekali lowongan pekerjaan yang tersedia. Untuk mereka yang tidak punya skill saja bisa mendapatkan rupiah disini, apalagi yang memiliki skill. Pemikiran itulah yang meyakinkan saya untuk keluar dan mencari pekerjaan baru. Proses menganggur setelah keluar dari pekerjaan lama dan mendapatkan pekerjaan baru sangatlah berarti bagi saya.
Disana saya intropeksi diri, mengenai apa yang kurang dari diri saya dan mengapa saya bisa bertahan selama sebulan 2 minggu di tempat kerja yang lama dimana pegawai baru lainnya hanya bertahan paling lama selama seminggu disana. Kemudian tentang semua teguran dan kritik pada saya yang datang terus menerus dari bos saya, menjadi sebuah cerminan tersendiri. Pilihan nya hanya dua, apakah saya selemah itu dalam bekerja atau bos saya memiliki penyakit kejiwaan yang mengharuskannya marah-marah setiap hari tanpa terkecuali.
Dari hasil 'nyepi' itulah akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa saya harus berubah menjadi lebih baik. Namun menjadi lebih baik di kantor yang baru karena saya hanyalah tebing terjal di kantor saya yang lama. Itulah cap bagi saya yang secara sugesti benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
Saya teringat kata HRD sebuah majalah fashion internasional yang pernah saya lamar, 'Kalau kamu tertarik di dunia fashion, kenapa kamu nggak ngelamar jadi fashion stylist, malah ngelamar jadi desainer grafis.' secara tidak langsung ia memberikan saya jawaban atas apa yang sebenarnya saya inginkan selama ini. Ia menangkap passion saya sesungguhnya yang saya sendiri pun bingung untuk menjawabnya. Fashion Stylist, ya itulah saya sekarang di perusahaan yang baru. Dengan tugas yang lebih kompleks sehingga disebut sebagai Visual Merchandiser Specialist.
Jeda seminggu dari keputusan untuk keluar dari kantor periklanan, saya langsung dipanggil untuk interview di sebuah department store di salah satu mall di sepanjang pantai Kuta. Awalnya saya tidak begitu yakin tentang tugas saya sebagai VMspecialist hingga akhirnya saya diminta untuk styling/mendandani 6 manekin dengan 12 macam outfit yang berbeda. Disitulah saya, dengan sukacita melakukannya tanpa mengeluh dan tanpa keraguan sedikitpun. Hal yang bersejarah dalam hidup saya ketika saya akhirnya menemukan siapa saya sebenarnya.
Tuhan itu baik, ya saya selalu percaya pada hal itu. Demi apa saya dibawanya terbang ke Bali, di ospek selama sebulan 2 minggu untuk menemukan diri saya kemudian memberikan saya pekerjaan yang saya idamkan dengan berbagai detail yang mengejutkan saya. Saya terkadang malu akan diri saya, apakah saya pantas mendapatkannya? Namun sekali lagi tuhan itu baik, bahkan pemabuk pun masih ia beri rejeki untuk membeli alkohol.
Itulah hal yang membuat saya kagum tentang kehidupan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup itu sekedar proses menanam dan memanen. Jadi sekarang saya mau puas-puasin nanemnya. Hehe, asal apa? ya asal hama wereng tidak menyerang desa sukamajumundur. Serius sampai sekarang saya masih absurd mengenai bentuk hama wereng yang sesungguhnya. Bos saya dulu juga pernah bilang gini, 'saya tidak setuju dengan hukum tuhan yang membiarkan kita berbuat suburuk-buruknya, kemudian semua di akumulasi dan kita diberi hukuman yang sangat berat setelah semua itu terjadi. Tidak sekarang melakukan hal buruk sekarang juga menerima balasannya.' yahhh, sekali lagi tentang ilmu nanem-manen tadi. Itulah baiknya Tuhan, ia membuat kita takut melakukan keburukan karena kita tahu balasan darinya pasti akan datang sewaktu-waktu dan bisa jadi sangat berat dan bertubi-tubi. Amit-amit deh.
Ya udah sekian cuap-cuap saya yang lagi hebring dapet kerjaan baru yang lebih menjanjikan. Jangan lupa mandi, ganti baju, jalan-jalan karena 3 hari ini adalah long weekend. Aduh sedih juga nggak bisa pulang ke Semarang. Oh iya, buat saudara-saudara umat Hindu selamat menunaikan ibadah nyepi ya. Kali ini saya ikutan nyepi deh di dalem kosan. Hehe. Terima kasih. Tabi'. Adios Amigos!
Ngomong-ngomong ini pertamax saya ngeblog dari kosan baru lho. Yeee. Saya sudah cerita belum ya kalau akhirnya saya keluar dari pekerjaan yang membawa saya ke pulau dewata ini? Kalo belum ya ini saya mau cerita. Jadi usut punya usut saya mulai tidak betah setelah begitu banyak cacian yang masuk ke telinga saya. Namun saya selalu ambil segi positif nya dari semua keadaan. Jika awalnya saya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja saya, namun saya kemudian kecewa akan ekspektasi saya sendiri. Saya selalu mengingatkan teman saya akan dream job, meraih pekerjaan impian yang sesuai dengan gairah mereka. Namun saya sendiri malah terperangkap di tembok penuh hujatan ini. Namun sekali lagi itulah proses.
Saya mensyukuri keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya. Walaupun hanya bertahan satu bulan lewat 2 minggu namun itu sudah cukup bagi saya untuk mengenal sedikit banyak tentang suasana kerja di Bali. Ada banyak sekali lowongan pekerjaan yang tersedia. Untuk mereka yang tidak punya skill saja bisa mendapatkan rupiah disini, apalagi yang memiliki skill. Pemikiran itulah yang meyakinkan saya untuk keluar dan mencari pekerjaan baru. Proses menganggur setelah keluar dari pekerjaan lama dan mendapatkan pekerjaan baru sangatlah berarti bagi saya.
Disana saya intropeksi diri, mengenai apa yang kurang dari diri saya dan mengapa saya bisa bertahan selama sebulan 2 minggu di tempat kerja yang lama dimana pegawai baru lainnya hanya bertahan paling lama selama seminggu disana. Kemudian tentang semua teguran dan kritik pada saya yang datang terus menerus dari bos saya, menjadi sebuah cerminan tersendiri. Pilihan nya hanya dua, apakah saya selemah itu dalam bekerja atau bos saya memiliki penyakit kejiwaan yang mengharuskannya marah-marah setiap hari tanpa terkecuali.
Dari hasil 'nyepi' itulah akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa saya harus berubah menjadi lebih baik. Namun menjadi lebih baik di kantor yang baru karena saya hanyalah tebing terjal di kantor saya yang lama. Itulah cap bagi saya yang secara sugesti benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
Saya teringat kata HRD sebuah majalah fashion internasional yang pernah saya lamar, 'Kalau kamu tertarik di dunia fashion, kenapa kamu nggak ngelamar jadi fashion stylist, malah ngelamar jadi desainer grafis.' secara tidak langsung ia memberikan saya jawaban atas apa yang sebenarnya saya inginkan selama ini. Ia menangkap passion saya sesungguhnya yang saya sendiri pun bingung untuk menjawabnya. Fashion Stylist, ya itulah saya sekarang di perusahaan yang baru. Dengan tugas yang lebih kompleks sehingga disebut sebagai Visual Merchandiser Specialist.
Jeda seminggu dari keputusan untuk keluar dari kantor periklanan, saya langsung dipanggil untuk interview di sebuah department store di salah satu mall di sepanjang pantai Kuta. Awalnya saya tidak begitu yakin tentang tugas saya sebagai VMspecialist hingga akhirnya saya diminta untuk styling/mendandani 6 manekin dengan 12 macam outfit yang berbeda. Disitulah saya, dengan sukacita melakukannya tanpa mengeluh dan tanpa keraguan sedikitpun. Hal yang bersejarah dalam hidup saya ketika saya akhirnya menemukan siapa saya sebenarnya.
Tuhan itu baik, ya saya selalu percaya pada hal itu. Demi apa saya dibawanya terbang ke Bali, di ospek selama sebulan 2 minggu untuk menemukan diri saya kemudian memberikan saya pekerjaan yang saya idamkan dengan berbagai detail yang mengejutkan saya. Saya terkadang malu akan diri saya, apakah saya pantas mendapatkannya? Namun sekali lagi tuhan itu baik, bahkan pemabuk pun masih ia beri rejeki untuk membeli alkohol.
Itulah hal yang membuat saya kagum tentang kehidupan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup itu sekedar proses menanam dan memanen. Jadi sekarang saya mau puas-puasin nanemnya. Hehe, asal apa? ya asal hama wereng tidak menyerang desa sukamajumundur. Serius sampai sekarang saya masih absurd mengenai bentuk hama wereng yang sesungguhnya. Bos saya dulu juga pernah bilang gini, 'saya tidak setuju dengan hukum tuhan yang membiarkan kita berbuat suburuk-buruknya, kemudian semua di akumulasi dan kita diberi hukuman yang sangat berat setelah semua itu terjadi. Tidak sekarang melakukan hal buruk sekarang juga menerima balasannya.' yahhh, sekali lagi tentang ilmu nanem-manen tadi. Itulah baiknya Tuhan, ia membuat kita takut melakukan keburukan karena kita tahu balasan darinya pasti akan datang sewaktu-waktu dan bisa jadi sangat berat dan bertubi-tubi. Amit-amit deh.
Ya udah sekian cuap-cuap saya yang lagi hebring dapet kerjaan baru yang lebih menjanjikan. Jangan lupa mandi, ganti baju, jalan-jalan karena 3 hari ini adalah long weekend. Aduh sedih juga nggak bisa pulang ke Semarang. Oh iya, buat saudara-saudara umat Hindu selamat menunaikan ibadah nyepi ya. Kali ini saya ikutan nyepi deh di dalem kosan. Hehe. Terima kasih. Tabi'. Adios Amigos!
Saturday, 8 March 2014
Hello Bali!
Halo selamat malam semua. Selamat bermalam minggu bagi yang merayakan. Bagi yang tidak merayakan, kelaut aje lo. Termasuk gue dong. Hahaha. Oh iya, setelah saya telusuri, saya timbang-timbang dan saya adu dengan jangkrik teman saya, ternyata post saya yang bertajuk 'Bossy' harus saya hapus. Maaf buat kalian yang sudah terlanjur membacanya. Karena post itu terdengar, eh kan nulis kok denger, kalo terlihat juga agak fals didengernya, terbaca aja deh ya. Karena post itu terbaca tidak berbobot. Duh kayak post-post yang lain berbobot aja.
Sebenarnya saya sedang dihantui perasaan emosi yang amat sangat. Biasa dilema orang bekerja, jadi ya gitu deh. Kadang suka empet sendiri. Tapi ya bijaknya sih nggak perlu diomongin kayak yang saya lakukan kemarin. Menulisnya ke dalam post. Nggak dewasa aja gitu, malu sama kumis dan jenggot saya. Malu juga sama kelingking ngetril saya ini. Hahahaha.
Gimana nih kabarnya malam minggu ini? Masih bisa bernafas kan walau udah jomblo 3 tahun? Bagus deh. Eh malah kayak ngomongin diri sendiri deh. Sial. Saya masih setia nih di Bali, tepatnya di Kuta, tapi bukan pantai Kuta loh ya. Emang eyke cowok apa an tinggal di tempat heboh macam begitu.
Selama saya disini saya sudah mendatangi beberapa tempat yang recommended sekali untuk dijadikan tujuan wisata. Ya iyalah, Baliiiiii. Tapi kebanyakan sih ngabisin banyak uang. Contohnya, oke deh kalo mau mantai ke Kuta atau ke Sanur nggak perlu keluar duit. Tapi kalo kalian laper masa iya ngemil pasir atau njilatin bule-bule lagi berjemur. Dan harga makanan yang tersedia pun bervariasi. Saya pernah nih makan di pantai Sanur, sore-sore tapi nggak ada sunset, soalnya Sanur adalah tempat sunrise bukan sunset, catet ya. Dan makan berdua di pantai Sanur itu mencapai harga 150.000, itu pun dengan menu paling sederhana. Okelah itu wajar kalo sekali-kali, lu bayangin aja kalo makan setiap hari, 3x sehari disana. Bokek deh lu. Dan percayalah tidak ada warteg disana.
Paling asyik lihat sunset itu ya kalo nggak di Kuta dari pintu belakang Discoverry Mall ya di GWK. Soalnya romantis aja gitu. Coba kalo di Sanur bisa lihat sunset, waaah double triple bahkan kuartet romantisnya. Soalnya Sanur itu damai banget, bule yang kesana aja yang udah pada keriput, bisa kalian bayangkan kan gimana damainya.
Kalo saya akhir-akhir ini doyan banget ke Starbucks yang ada di Sanur. Bukan karena saya sok borju atau sok gaul kesana, tapi karena emang tempatnya nyaman banget buat ngabisin waktu. Saya kasih satu gambaran ya. Kalian bisa bersepeda ria di sepanjang pantai Sanur atau nyemplung ke pantai, atau tidur di resort-resort mana aja yang ada di sepanjang jalan Santriyan. Terus kalo udah capek kalian pergi aja ke Starbucks Santriyan. Bukan promo loh ya. Saya 3 kali kesana, 3 kali juga dapet baverage gratis. Bener-bener free alias nggak bayar. Mengapa bisa? Nggak tahu, saya juga heran. Good luck mungkin saya.
Yang pertama gara-gara saya beli program kartu pelanggan Starbucks, jadi saya dapet free satu baverage size tall. Terus yang kedua gara-gara saya top up voucher 100.000 jadi dapet free Americano. Nah satu lagi karena saya disuruh masuk ke situs nya mereka dan ngisi suara konsumen gitu. Ya udah deh akhirnya saya bahagia sampe sekarang. Selain itu setiap seat punya colokan listrik sendiri. Wi-fi nya tingkat dewa. Maka nikmat tuhan manalagi yang kau dustakan. Hahaha
Terus kalo saya pribadi karena emang nggak sanggup nyewa kendaraan pribadi akhirnya make transportasi umum. Namanya Sarbagita. Sistemnya kayak Trans-Jakarta gitulah. Kemana-mana cuma 3.500 perak. Dan ajaibnya angkutan ini jarang banget penumpangnya. Saya juga kurang jelas mengapa bisa demikian. Jadi kalo perjalanan jauh nggak usah takut akan kehabisan kursi. Karena boro-boro kursinya keisi, kondekturnya aja kadang-kadang ketiduran gara-gara nggak punya penumpang. Nggak ding.
Untuk saat ini baru ada dua jurusan yang beroperasi. Dari Kota Denpasar ke GWK pulang pergi, dan dari Bandara ke Batu Bulan dan Nusa Dua. Kalo saya nggak salah inget loh ya. Pokoknya jangan pernah malu bertanya kalo di Bali. Manusianya ramah-ramah, dan nggak akan diblasuke/disalaharahin alah apa sih bahasa indonesianya. Keliatan Jawa nya nih saya. Pokoknya intinya mereka siap membantu siapa pun kalian tanpa melihat naik apa, pake baju apa, atau hp nya apa.
Banyak hal yang bisa membuat akhir pekan kita sangat berarti di Bali. Tapi harus selalu diingat akan tujuan kita datang ke Bali. Wisata adalah bonus, tujuan utamanya adalah meniti karier. Jadi fokus dulu sama pekerjaan kita baru deh ketika akhir pekan tiba dan uang didompet ada kita bisa benar-benar menyegarkan kembali otak kita. Ya sudah, bukannya saya ngiming-ngimingi kalian buat kerja di Bali, tapi mindset Bali sebagai tempat wisata harus diubah. Karena Bali juga tempat yang bagus untuk mencari sekeping rupiah. Aseeeek. Oke segitu dulu deh datuk, datin. betul,betul,betul. Yu dada Babai!
Sebenarnya saya sedang dihantui perasaan emosi yang amat sangat. Biasa dilema orang bekerja, jadi ya gitu deh. Kadang suka empet sendiri. Tapi ya bijaknya sih nggak perlu diomongin kayak yang saya lakukan kemarin. Menulisnya ke dalam post. Nggak dewasa aja gitu, malu sama kumis dan jenggot saya. Malu juga sama kelingking ngetril saya ini. Hahahaha.
Gimana nih kabarnya malam minggu ini? Masih bisa bernafas kan walau udah jomblo 3 tahun? Bagus deh. Eh malah kayak ngomongin diri sendiri deh. Sial. Saya masih setia nih di Bali, tepatnya di Kuta, tapi bukan pantai Kuta loh ya. Emang eyke cowok apa an tinggal di tempat heboh macam begitu.
Selama saya disini saya sudah mendatangi beberapa tempat yang recommended sekali untuk dijadikan tujuan wisata. Ya iyalah, Baliiiiii. Tapi kebanyakan sih ngabisin banyak uang. Contohnya, oke deh kalo mau mantai ke Kuta atau ke Sanur nggak perlu keluar duit. Tapi kalo kalian laper masa iya ngemil pasir atau njilatin bule-bule lagi berjemur. Dan harga makanan yang tersedia pun bervariasi. Saya pernah nih makan di pantai Sanur, sore-sore tapi nggak ada sunset, soalnya Sanur adalah tempat sunrise bukan sunset, catet ya. Dan makan berdua di pantai Sanur itu mencapai harga 150.000, itu pun dengan menu paling sederhana. Okelah itu wajar kalo sekali-kali, lu bayangin aja kalo makan setiap hari, 3x sehari disana. Bokek deh lu. Dan percayalah tidak ada warteg disana.
Paling asyik lihat sunset itu ya kalo nggak di Kuta dari pintu belakang Discoverry Mall ya di GWK. Soalnya romantis aja gitu. Coba kalo di Sanur bisa lihat sunset, waaah double triple bahkan kuartet romantisnya. Soalnya Sanur itu damai banget, bule yang kesana aja yang udah pada keriput, bisa kalian bayangkan kan gimana damainya.
Kalo saya akhir-akhir ini doyan banget ke Starbucks yang ada di Sanur. Bukan karena saya sok borju atau sok gaul kesana, tapi karena emang tempatnya nyaman banget buat ngabisin waktu. Saya kasih satu gambaran ya. Kalian bisa bersepeda ria di sepanjang pantai Sanur atau nyemplung ke pantai, atau tidur di resort-resort mana aja yang ada di sepanjang jalan Santriyan. Terus kalo udah capek kalian pergi aja ke Starbucks Santriyan. Bukan promo loh ya. Saya 3 kali kesana, 3 kali juga dapet baverage gratis. Bener-bener free alias nggak bayar. Mengapa bisa? Nggak tahu, saya juga heran. Good luck mungkin saya.
Yang pertama gara-gara saya beli program kartu pelanggan Starbucks, jadi saya dapet free satu baverage size tall. Terus yang kedua gara-gara saya top up voucher 100.000 jadi dapet free Americano. Nah satu lagi karena saya disuruh masuk ke situs nya mereka dan ngisi suara konsumen gitu. Ya udah deh akhirnya saya bahagia sampe sekarang. Selain itu setiap seat punya colokan listrik sendiri. Wi-fi nya tingkat dewa. Maka nikmat tuhan manalagi yang kau dustakan. Hahaha
Terus kalo saya pribadi karena emang nggak sanggup nyewa kendaraan pribadi akhirnya make transportasi umum. Namanya Sarbagita. Sistemnya kayak Trans-Jakarta gitulah. Kemana-mana cuma 3.500 perak. Dan ajaibnya angkutan ini jarang banget penumpangnya. Saya juga kurang jelas mengapa bisa demikian. Jadi kalo perjalanan jauh nggak usah takut akan kehabisan kursi. Karena boro-boro kursinya keisi, kondekturnya aja kadang-kadang ketiduran gara-gara nggak punya penumpang. Nggak ding.
Untuk saat ini baru ada dua jurusan yang beroperasi. Dari Kota Denpasar ke GWK pulang pergi, dan dari Bandara ke Batu Bulan dan Nusa Dua. Kalo saya nggak salah inget loh ya. Pokoknya jangan pernah malu bertanya kalo di Bali. Manusianya ramah-ramah, dan nggak akan diblasuke/disalaharahin alah apa sih bahasa indonesianya. Keliatan Jawa nya nih saya. Pokoknya intinya mereka siap membantu siapa pun kalian tanpa melihat naik apa, pake baju apa, atau hp nya apa.
Banyak hal yang bisa membuat akhir pekan kita sangat berarti di Bali. Tapi harus selalu diingat akan tujuan kita datang ke Bali. Wisata adalah bonus, tujuan utamanya adalah meniti karier. Jadi fokus dulu sama pekerjaan kita baru deh ketika akhir pekan tiba dan uang didompet ada kita bisa benar-benar menyegarkan kembali otak kita. Ya sudah, bukannya saya ngiming-ngimingi kalian buat kerja di Bali, tapi mindset Bali sebagai tempat wisata harus diubah. Karena Bali juga tempat yang bagus untuk mencari sekeping rupiah. Aseeeek. Oke segitu dulu deh datuk, datin. betul,betul,betul. Yu dada Babai!
Sunday, 23 February 2014
Let It Glow
Selamat malam saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Bagaimana kabar kalian? Always good kan? I hope so karena satu-satunya hal yang nggak baik adalah terlalu banyak mengeluh. Ngapain kamu mengeluh macam-macam. Nikmat tuhan manalagi yang kamu dustakan. Hehe,
Kabar saya minggu ini juga baik. Saya selalu baik dan bertambah baik setiap minggu nya. Beruntunglah saya dikelilingi orang-orang baik di sekeliling saya. Sehingga saya punya motivasi berlipat-lipat untuk bisa sukses dan membalas budi baik mereka terhadap saya. Karena tanpa mereka saya hanyalah batang lidi yang terjatuh dari seonggok sapu. Hahahaha, ajaib ya perumpaan saya.
Pergi ke Bali mungkin bagi sebagian besar orang adalah sesuatu yang menyenangkan. Hal ini dikarenakan mindset kita sudah menjudge bahwa Bali adalah kota wisata. Sedikit dari kita yang berpikiran sebaliknya, bahwa Bali adalah kota yang bagus untuk mencari uang. Atau istilah keren nya untuk meniti karier.
Saya sering nih dapet banyak sekali keluhan tentang susahnya mencari pekerjaan. Tapi realitanya ada banyak sekali kesempatan kerja. Yang susah adalah mencari pekerjaan yang kita inginkan. Dan yang tersusah adalah keluar dari zona kita atau area nyaman kita sendiri. Sedikit dari kita mau pergi keluar dari rumah untuk mencari kehidupan sendiri jauh dari orang tua. Kalaupun ada keinginan itu pasti kita menggunakan seribu satu alasan untuk mematahkan keinginan tersebut. Salah satunya karena orang tua tidak mengizinkan. Yakan? Yakan? Stop mencari alasan untuk melindungi dirimu sendiri.
Hal kedua yang sangat mempengaruhi keputusan kita adalah komunitas. Kita tidak bisa jauh dari komunitas yang selalu menceriakan hari-hari kita atau weekend kita. Keluarga kedua kita yang tahu seluk beluk diri kita dan menghantui semua aplikasi sosial media kita. Kita merasa akan sangat membosankan jika kita pindah ke tempat yang baru dan kehilangan mereka semua. Kenyataan nya memang itulah yang saya rasakan. Tapi toh kita masih bisa hidup dengan tinggal jauh dari mereka. Dan saya yakin mereka pasti juga akan bahagia jika melihat kesuksesan temannya. Dan semoga aja mereka tidak akan mencibir jika temannya sampai gagal diperantauan. Amien.
Sebenarnya banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang ilmu kehidupan yang saya dapatkan disini. Banyak hal juga yang membuat saya terkekeh ketika mengingat alasan sebenarnya kepergian saya kesini. Ternyata banyak hal baru yang bisa saya pelajari disini. Kalau teman saya bilang, saya adalah orang yang unik. Jika orang lain bosan jadi pegawai, maka saya adalah orang yang bosan jadi pengusaha. Tapi hidup adalah sebuah proses, dan untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi maka harus ada proses yang lebih menantang. Menjadi seorang pegawai bukanlah sebuah goal tapi ini adalah proses. Optimis saja jika semua akan indah pada waktunya. Sekarang kita nanem, sudah pasti kita akan panen. Asal hama wereng tidak lagi menyerang desa sukamajumundur.
Hari ini saya menghbiskan waktu saya di Pantai Sanur yang tenang. Beda dengan Kuta yang kacau, macet, ramai, dan sebagainya. Sanur lebih damai dan romantis. Namun sayangnya saya jomblo. Saya ditemani oleh seorang kawan lama saya sewaktu SMP dulu. Dia orang yang awet tua, dari SMP sampe sekarang dia ya gitu-gitu aja. Nggak banyak berubah. Paling yang berubah hanyalah pemikirannya yang tentu jauh lebih dewasa. Dia cewek yang lebih tomboy daripada saya. Mengapa bisa begitu? Saya juga tidak tahu. Cara ngomong ceplas-ceplos adalah karakter dia.
Dulu sekali waktu kami masih SMP dia pernah saya comblangin dengan sepupu saya. Kalau diingat-ingat saya dulu hobi banget nyomblang-nyomblangin orang. Pantes aja kehidupan cinta saya saat ini nggak berjalan dengan baik. Lanjut cerita mereka akhirnya jadian, tapi sayangnya temen saya ini harus pindah ke Mataram sehingga kisah cinta mereka harus berakhir bukan di Januari.
Usut punya usut ternyata kisah cinta mereka bersambung kayak cinta fitri gitu deh. Tapi ini bedanya sosok Oma masih hidup dan menghantui kisah cinta mereka berdua. Apaan sih!! Lucu aja ngedengernya ketika ternyata mereka berdua sekarang diumur sekian kambali bersama. Masih belum berstatus pacar sih. Tapi sepupu saya adalah orang yang serius dan memegang komitmen jadi tinggal nunggu respon temen saya aja nih.
Mungkin kalo mereka berdua bener-bener bersama saya bisa buka biro jodoh deh. Astaghfirullah, saya khilaf. Nyari pasangan buat diri sendiri aja kesusahan, berlagak mau jadohin orang. Sorry-sorry.
Intinya apapun yang kita lakukan kita harus fokus dan tahu dengan pasti apa yang kita inginkan. Because Let It Flow udah oldskull. Sekarang jamannya buat wishlist dan targeting, kemudian capailah satu per satu keinginan itu. Perlu dicatat, semakin tinggi keinginan itu maka semakin berat proses yang harus dialami. Belajarlah dari para chinese yang ulet dan pantang menyerah. Kalo masih mau ras kita dihargai di ibu pertiwi, bukan hanya menjadi jongos, buktikan dong! Oke sekian reportase dari tanah dewata. Maaf kalo saya sok tahu, sok dewasa, sokterapi, atau sok beker. Saya cuma sharing, kalo nggak suka unfriend aja (Jadi keinget kata-kata ini sering muncul di sosial media deh, oleh temen saya sendiri lagi) hahaha. Tabi'! Suksme! Om shanti shanti om.
Kabar saya minggu ini juga baik. Saya selalu baik dan bertambah baik setiap minggu nya. Beruntunglah saya dikelilingi orang-orang baik di sekeliling saya. Sehingga saya punya motivasi berlipat-lipat untuk bisa sukses dan membalas budi baik mereka terhadap saya. Karena tanpa mereka saya hanyalah batang lidi yang terjatuh dari seonggok sapu. Hahahaha, ajaib ya perumpaan saya.
Pergi ke Bali mungkin bagi sebagian besar orang adalah sesuatu yang menyenangkan. Hal ini dikarenakan mindset kita sudah menjudge bahwa Bali adalah kota wisata. Sedikit dari kita yang berpikiran sebaliknya, bahwa Bali adalah kota yang bagus untuk mencari uang. Atau istilah keren nya untuk meniti karier.
Saya sering nih dapet banyak sekali keluhan tentang susahnya mencari pekerjaan. Tapi realitanya ada banyak sekali kesempatan kerja. Yang susah adalah mencari pekerjaan yang kita inginkan. Dan yang tersusah adalah keluar dari zona kita atau area nyaman kita sendiri. Sedikit dari kita mau pergi keluar dari rumah untuk mencari kehidupan sendiri jauh dari orang tua. Kalaupun ada keinginan itu pasti kita menggunakan seribu satu alasan untuk mematahkan keinginan tersebut. Salah satunya karena orang tua tidak mengizinkan. Yakan? Yakan? Stop mencari alasan untuk melindungi dirimu sendiri.
Hal kedua yang sangat mempengaruhi keputusan kita adalah komunitas. Kita tidak bisa jauh dari komunitas yang selalu menceriakan hari-hari kita atau weekend kita. Keluarga kedua kita yang tahu seluk beluk diri kita dan menghantui semua aplikasi sosial media kita. Kita merasa akan sangat membosankan jika kita pindah ke tempat yang baru dan kehilangan mereka semua. Kenyataan nya memang itulah yang saya rasakan. Tapi toh kita masih bisa hidup dengan tinggal jauh dari mereka. Dan saya yakin mereka pasti juga akan bahagia jika melihat kesuksesan temannya. Dan semoga aja mereka tidak akan mencibir jika temannya sampai gagal diperantauan. Amien.
Sebenarnya banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang ilmu kehidupan yang saya dapatkan disini. Banyak hal juga yang membuat saya terkekeh ketika mengingat alasan sebenarnya kepergian saya kesini. Ternyata banyak hal baru yang bisa saya pelajari disini. Kalau teman saya bilang, saya adalah orang yang unik. Jika orang lain bosan jadi pegawai, maka saya adalah orang yang bosan jadi pengusaha. Tapi hidup adalah sebuah proses, dan untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi maka harus ada proses yang lebih menantang. Menjadi seorang pegawai bukanlah sebuah goal tapi ini adalah proses. Optimis saja jika semua akan indah pada waktunya. Sekarang kita nanem, sudah pasti kita akan panen. Asal hama wereng tidak lagi menyerang desa sukamajumundur.
Hari ini saya menghbiskan waktu saya di Pantai Sanur yang tenang. Beda dengan Kuta yang kacau, macet, ramai, dan sebagainya. Sanur lebih damai dan romantis. Namun sayangnya saya jomblo. Saya ditemani oleh seorang kawan lama saya sewaktu SMP dulu. Dia orang yang awet tua, dari SMP sampe sekarang dia ya gitu-gitu aja. Nggak banyak berubah. Paling yang berubah hanyalah pemikirannya yang tentu jauh lebih dewasa. Dia cewek yang lebih tomboy daripada saya. Mengapa bisa begitu? Saya juga tidak tahu. Cara ngomong ceplas-ceplos adalah karakter dia.
Dulu sekali waktu kami masih SMP dia pernah saya comblangin dengan sepupu saya. Kalau diingat-ingat saya dulu hobi banget nyomblang-nyomblangin orang. Pantes aja kehidupan cinta saya saat ini nggak berjalan dengan baik. Lanjut cerita mereka akhirnya jadian, tapi sayangnya temen saya ini harus pindah ke Mataram sehingga kisah cinta mereka harus berakhir bukan di Januari.
Usut punya usut ternyata kisah cinta mereka bersambung kayak cinta fitri gitu deh. Tapi ini bedanya sosok Oma masih hidup dan menghantui kisah cinta mereka berdua. Apaan sih!! Lucu aja ngedengernya ketika ternyata mereka berdua sekarang diumur sekian kambali bersama. Masih belum berstatus pacar sih. Tapi sepupu saya adalah orang yang serius dan memegang komitmen jadi tinggal nunggu respon temen saya aja nih.
Mungkin kalo mereka berdua bener-bener bersama saya bisa buka biro jodoh deh. Astaghfirullah, saya khilaf. Nyari pasangan buat diri sendiri aja kesusahan, berlagak mau jadohin orang. Sorry-sorry.
Intinya apapun yang kita lakukan kita harus fokus dan tahu dengan pasti apa yang kita inginkan. Because Let It Flow udah oldskull. Sekarang jamannya buat wishlist dan targeting, kemudian capailah satu per satu keinginan itu. Perlu dicatat, semakin tinggi keinginan itu maka semakin berat proses yang harus dialami. Belajarlah dari para chinese yang ulet dan pantang menyerah. Kalo masih mau ras kita dihargai di ibu pertiwi, bukan hanya menjadi jongos, buktikan dong! Oke sekian reportase dari tanah dewata. Maaf kalo saya sok tahu, sok dewasa, sokterapi, atau sok beker. Saya cuma sharing, kalo nggak suka unfriend aja (Jadi keinget kata-kata ini sering muncul di sosial media deh, oleh temen saya sendiri lagi) hahaha. Tabi'! Suksme! Om shanti shanti om.
Saturday, 15 February 2014
Ala-Ala (Tanpa El dan Doel)
Thanks god its saturday!! Mungkin rangkaian kata ini terdengar aneh ditelinga. Tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Saya seperti kembali ke masa sekolah namun dengan jam belajar yang lebih panjang. Tidak pernah sebelumnya terbesit dalam kepala saya akan bekerja di bidang cetak mencetak. Mungkin inilah hal wajar yang dirasakan para desainer grafis seperti saya. Salah masuk kamar.
Banyak hal yang wajib dipelajari oleh seorang desainer grafis. Bukan hanya mendesain sebuah grafis seperti namanya, namun juga teknik menelejawantahkan desain tersebut kedalam sebuah media. Para desainer grafis yang masuk kedalam sebuah agency advertising bisa dikatakan sudah sesuai kamarnya. Namun yang terjebak masuk kedalam usaha jasa percetakan berkedok advertising macam saya bisa dikatakan salah masuk kamar.
Contoh nya, ketika kita menjumpai client pada agency advertising (sesungguhnya), client akan meminta dibuatkan sebuah promosi dengan budget tertentu. Disanalah kerja seorang desainer untuk menentukan konsep, media, sampai desainnya. Namun pada agency advertising (ala-ala) kita mendapat email dari client, buat flyer, booklet, spanduk, neonbox, dan lain-lain yang sudah ada desain nya. Nah kita tinggal ngelay-out terus diproduksi sesuai perintah client. Itulah kenapa saya bilang saya salah kamar.
Tapi setiap hal yang buruk pasti ada sisi baiknya. Maklum orang jawa, udah sugesti mikir kayak gitu. Orang kecopetan apa tabrakan aja masih ada untungnya. Untung STNK nggak di dompet, untung kepalanya nggak kebentur aspal. Padahal posisi udah kena musibah. Hehe. Tapi itulah. Karena bekerja di agency advertising ala-ala ini saya bisa mengasah kemampuan ngelay-out saya yang masih payah rupanya. Ngelay-out beda sama ngedesain loh ya. Ngelayout itu cuma ngatur file biar bisa gampang di produksi, nggak makan bahan banyak, dan memudahkan tukang finishing motong atau ngejilid hasil cetakan.
Oh iya, satu lagi mamen, saya jadi bisa ngutak-atik mesin cetak, mesin potong, mesin laminasi. Entah ini kemajuan apa justru kemunduran. Tapi kalo masalah mental saya jauh lebih matang. Usahakan di awal karier kita harus dapet bos yang tukang ngomel. Supaya kedepannya kita bisa lebih santai menghadapi para bos-bos kita yang pastinya nggak kalah nge bete in nya. Alah paling kalo kalian jadi bos, kalian juga bakal nge bete in kayak bos-bos pada umumnya. Karena mungkin itu salah satu kunci sukses menjadi bos. Asal nggak seenaknya aja njatuhin harga diri karyawan di depan client. Sorry yang barusan sedikit curhat.
Ya itu aja sih yang mau saya sampaikan. Di dunia desainer mah nggak betah kerja disatu tempat itu uda biasa terjadi. Saya sering ngelamar di perusahaan A B C D dan saingan saya adalah para om-om desainer. Yang penting jangan pernah puas sama apa yang didapetin. Kita hidup di dunia kreatif, dan sayangnya jaman semakin canggih sehingga lukisan manual tangan kamu harganya bakal kalah sama wallpaper bahan sticker yang gambarnya hasil download di google. Jadi ya terus belajar. Karena udah jadi takdir kita sebagai manusia untuk belajar. Sering-sering travelling supaya perustakaan visual kita juga terus bertambah.
Dan ingat pesan ibu peri, jangan terlalu nyaman pada suatu kondisi. Karena justru rasa nyaman itulah yang membuat kita berhenti berkembang. Bukan karena nggak pernah dipupuk atau nggak pernah disiram loh ya. hehe.Yaudah deh, sekian dulu tulisan sok tau saya ini. Semoga kalian tak bosan membacanya serta tidak melaporkan tulisan saya sebagai tulisan asusila karena saya nulisnya dengan bertelanjang. Mari ki di'!!
Banyak hal yang wajib dipelajari oleh seorang desainer grafis. Bukan hanya mendesain sebuah grafis seperti namanya, namun juga teknik menelejawantahkan desain tersebut kedalam sebuah media. Para desainer grafis yang masuk kedalam sebuah agency advertising bisa dikatakan sudah sesuai kamarnya. Namun yang terjebak masuk kedalam usaha jasa percetakan berkedok advertising macam saya bisa dikatakan salah masuk kamar.
Contoh nya, ketika kita menjumpai client pada agency advertising (sesungguhnya), client akan meminta dibuatkan sebuah promosi dengan budget tertentu. Disanalah kerja seorang desainer untuk menentukan konsep, media, sampai desainnya. Namun pada agency advertising (ala-ala) kita mendapat email dari client, buat flyer, booklet, spanduk, neonbox, dan lain-lain yang sudah ada desain nya. Nah kita tinggal ngelay-out terus diproduksi sesuai perintah client. Itulah kenapa saya bilang saya salah kamar.
Tapi setiap hal yang buruk pasti ada sisi baiknya. Maklum orang jawa, udah sugesti mikir kayak gitu. Orang kecopetan apa tabrakan aja masih ada untungnya. Untung STNK nggak di dompet, untung kepalanya nggak kebentur aspal. Padahal posisi udah kena musibah. Hehe. Tapi itulah. Karena bekerja di agency advertising ala-ala ini saya bisa mengasah kemampuan ngelay-out saya yang masih payah rupanya. Ngelay-out beda sama ngedesain loh ya. Ngelayout itu cuma ngatur file biar bisa gampang di produksi, nggak makan bahan banyak, dan memudahkan tukang finishing motong atau ngejilid hasil cetakan.
Oh iya, satu lagi mamen, saya jadi bisa ngutak-atik mesin cetak, mesin potong, mesin laminasi. Entah ini kemajuan apa justru kemunduran. Tapi kalo masalah mental saya jauh lebih matang. Usahakan di awal karier kita harus dapet bos yang tukang ngomel. Supaya kedepannya kita bisa lebih santai menghadapi para bos-bos kita yang pastinya nggak kalah nge bete in nya. Alah paling kalo kalian jadi bos, kalian juga bakal nge bete in kayak bos-bos pada umumnya. Karena mungkin itu salah satu kunci sukses menjadi bos. Asal nggak seenaknya aja njatuhin harga diri karyawan di depan client. Sorry yang barusan sedikit curhat.
Ya itu aja sih yang mau saya sampaikan. Di dunia desainer mah nggak betah kerja disatu tempat itu uda biasa terjadi. Saya sering ngelamar di perusahaan A B C D dan saingan saya adalah para om-om desainer. Yang penting jangan pernah puas sama apa yang didapetin. Kita hidup di dunia kreatif, dan sayangnya jaman semakin canggih sehingga lukisan manual tangan kamu harganya bakal kalah sama wallpaper bahan sticker yang gambarnya hasil download di google. Jadi ya terus belajar. Karena udah jadi takdir kita sebagai manusia untuk belajar. Sering-sering travelling supaya perustakaan visual kita juga terus bertambah.
Dan ingat pesan ibu peri, jangan terlalu nyaman pada suatu kondisi. Karena justru rasa nyaman itulah yang membuat kita berhenti berkembang. Bukan karena nggak pernah dipupuk atau nggak pernah disiram loh ya. hehe.Yaudah deh, sekian dulu tulisan sok tau saya ini. Semoga kalian tak bosan membacanya serta tidak melaporkan tulisan saya sebagai tulisan asusila karena saya nulisnya dengan bertelanjang. Mari ki di'!!
Sunday, 9 February 2014
#1 Week in Bali
Hai selamat malam semua. Sugeng ndalu. Sugeng rawuh. Sugeng tanggap warso. Sugeng apa ajalah. Lama juga nih saya nggak cuap-cuap di blog saya. Blog nyampah yang isinya pergunjingan dan perdebatan panjang di dunia saya sendiri. Yah itung-itung mengurangi beban pikiran saya lah mengenai orang-orang di sekitar saya yang notabene nya nyentrik-nyentrik
Ngomong-ngomong masalah orang-orang disekitar saya jadi rindu sama mereka. Hari ini udah genap 8 hari saya menetap di pulau dewata Bali. Sedikit mendadak memang karena saya tipe pengambil keputusan yang spontan. Jadi ya kesempatan untuk bekerja di Bali tidak mungkin saya tangkis begitu saja. Apalagi saya memang sudah kebelet merantau. Entah kemana juga bakal saya jabani. Bukan karena saya identik dengan jamban loh ya. Karena sudah tertanam dalam otak saya bahwa hidup itu singkat, dan akan lebih singkat lagi jika kita tidak mencoba keluar dari zona nyaman.
Tapi ya itu tadi, banyak yang harus kita tinggalkan. Yang pertama adalah bantuan. Baik itu bantuan finansial dari keluarga, maupun bantuan-bantuan kecil dari teman-teman. Seperti nganter pergi ke tempat A, B, C, D. Bantuin dengerin keluh kesah kita tentang masalah cinta-cinta an atau masalah keluarga. Maupun bantuan nalangi duit jajan kalo kebetulan kantong lagi kempes.
Saya percaya dibalik hal yang buruk pasti ada hal yang baik. Selalu. Jangan pernah ragu akan hal itu. Nah saya sekarang disini, nongkrong dikosan 3 meter x 3 meter untuk menjadi lebih yakin akan kepercayaan saya itu. Sehingga kehilangan komunitas yang kita cintai. Jauh dari keluarga. Atau jauh dari cinta juga bukan hal yang perlu ditangisi 3 hari 3 malam. Karena prinsipnya kita sama-sama masih ada di dunia. Lain ceritanya kalo ternyata saya adalah manusia istimewa yang hanya ada satu di dunia. Kemudian ketika dunia semakin porak poranda karena kondisi alam yang memburuk saya diterbangkan ke planet mars untuk memulai kehidupan baru disana. hehe. Kayal banget.
Tapi tenang saja. Saya tidak pernah lupa akan kata-kata saya terhadap teman-teman saya. Jangan pernah terlalu nyaman pada satu kondisi. Karena itu, baru seminggu saya bekerja saya sudah menyiapkan rencana lain untuk mengembangkan kemampuan pribadi saya. Karena sebagai manusia kita punya sifat tamak. Tapi tamak untuk mengembangkan kemampuan dan belajar hal-hal baru saya rasa adalah sesuatu yang positif.
Yah kita lihat saja sejauh mana saya bisa bertahan di kota perantauan ini. Lalu apa saja yang akan saya dapatkan. Kita bertemu lagi di post berikutnya. Pamit rumiyin mas-mas mbak-mbak, mangewu mangewu, sing penting trimo enak.tabi'.
Ngomong-ngomong masalah orang-orang disekitar saya jadi rindu sama mereka. Hari ini udah genap 8 hari saya menetap di pulau dewata Bali. Sedikit mendadak memang karena saya tipe pengambil keputusan yang spontan. Jadi ya kesempatan untuk bekerja di Bali tidak mungkin saya tangkis begitu saja. Apalagi saya memang sudah kebelet merantau. Entah kemana juga bakal saya jabani. Bukan karena saya identik dengan jamban loh ya. Karena sudah tertanam dalam otak saya bahwa hidup itu singkat, dan akan lebih singkat lagi jika kita tidak mencoba keluar dari zona nyaman.
Tapi ya itu tadi, banyak yang harus kita tinggalkan. Yang pertama adalah bantuan. Baik itu bantuan finansial dari keluarga, maupun bantuan-bantuan kecil dari teman-teman. Seperti nganter pergi ke tempat A, B, C, D. Bantuin dengerin keluh kesah kita tentang masalah cinta-cinta an atau masalah keluarga. Maupun bantuan nalangi duit jajan kalo kebetulan kantong lagi kempes.
Saya percaya dibalik hal yang buruk pasti ada hal yang baik. Selalu. Jangan pernah ragu akan hal itu. Nah saya sekarang disini, nongkrong dikosan 3 meter x 3 meter untuk menjadi lebih yakin akan kepercayaan saya itu. Sehingga kehilangan komunitas yang kita cintai. Jauh dari keluarga. Atau jauh dari cinta juga bukan hal yang perlu ditangisi 3 hari 3 malam. Karena prinsipnya kita sama-sama masih ada di dunia. Lain ceritanya kalo ternyata saya adalah manusia istimewa yang hanya ada satu di dunia. Kemudian ketika dunia semakin porak poranda karena kondisi alam yang memburuk saya diterbangkan ke planet mars untuk memulai kehidupan baru disana. hehe. Kayal banget.
Tapi tenang saja. Saya tidak pernah lupa akan kata-kata saya terhadap teman-teman saya. Jangan pernah terlalu nyaman pada satu kondisi. Karena itu, baru seminggu saya bekerja saya sudah menyiapkan rencana lain untuk mengembangkan kemampuan pribadi saya. Karena sebagai manusia kita punya sifat tamak. Tapi tamak untuk mengembangkan kemampuan dan belajar hal-hal baru saya rasa adalah sesuatu yang positif.
Yah kita lihat saja sejauh mana saya bisa bertahan di kota perantauan ini. Lalu apa saja yang akan saya dapatkan. Kita bertemu lagi di post berikutnya. Pamit rumiyin mas-mas mbak-mbak, mangewu mangewu, sing penting trimo enak.tabi'.
Thursday, 16 January 2014
Gemini
Halo, selamat malam semua. Gimana nih kondisi kalian di awal 2014 ini? Yah semoga kalian bisa jaga kesehatan di tengah dinginnya udara dan kencangnya angin akhir-akhir ini. Banyak hal yang terjadi di awal tahun 2014. Tentu saja yang terjadi di negara kita. Gunung Sinabung yang meletus lagi, Jakarta yang kebanjiran lagi, sampe Manado yang banjir bandang. Yah setidaknya nggak cuma kehidupan kita aja yang dramatis. Ibu pertiwi pun tak mau kalah dramatisnya.
Ngomong-ngomong ini post pertama saya di tahun 2014 lho. Wah menyenangkan sekali punya tempat untuk menyampaikan aspirasi. Alih-alih membahas soal politik, ekonomi, dan hankam saya malah asyik membicarakan kehidupan orang lain. Yang tentu saja sebagian besar ada di kehidupan saya. Yah mau diapakan lagi, hidup saya tidak bisa jika tidak mengamati kehidupan orang lain. Karena saya yakin, saya bisa belajar banyak dari kehidupan orang lain.
Pada post-post terakhir saya di bulan Desember kemarin saya sibuk membicarakan teman-teman SMA saya. Individu-individu yang memiliki kemungkinan besar untuk menghabiskan malam tahun baru bersama saya. Namun ternyata perkiraan saya meleset. Saya mengkhianati mereka dengan pergi bersama teman-teman organisasi saya. Menyebalkan? Bukan, itulah pilihan. Dan saya harap saya tidak menyesali pilihan tersebut.
Sesungguhnya aneh juga jika kita berpikir mengenai identitas kita. Tentu mayoritas dari kita adalah orang muslim, tapi mengapa kita begitu semangat memperingati tahun baru masehi. Sesuatu yang berbeda dari ajaran yang kita ketahui. Tapi itulah hidup, jangan terlalu banyak dipikirkan, jalani saja. Jika tidak bahagia di akhirat, setidaknya kita sudah bahagia di dunia. Terdengar atheis? Tapi inilah realita.
Sebagian besar waktu saya di tahun 2013 saya dedikasikan untuk keluarga. Terkadang saya berperang dengan batin saya mengenai apa yang sedang saya lakukan dan apa yang akan saya lakukan. Namun sebagian besar jawaban dari pertanyaan saya hanyalah omong kosong. Sampai pada waktunya saya baru menyadari bahwa saya terlalu banyak mengeluh. Bukan mengeluh dalam arti kekanakan, namun mengeluh kepada tuhan.
Dari hobi saya belajar dari kehidupan orang lain saya baru paham akan arti kata bersyukur. Teman saya mungkin tidak seberuntung saya. Beberapa sudah yatim, ada yang tidak akur dengan keluarganya, ada yang menyimpan kehidupan pribadinya rapat-rapat dari keluarganya. Namun saya tidak demikian. Tapi saya masih saja mengeluh mengapa saya dilahirkan dari keluarga ini. Padahal kawan-kawan saya itu bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Sedangkan saya, terisolasi dalam suasana hati yang hitam.
Banyak mungkin yang menggambarkan saya sebagai sosok periang penuh semangat dan peduli pada orang lain. Namun itulah yang saya pelajari mengenai pencitraan. Saya yang sebenarnya adalah manusia yang naif, pendendam, dan sangat anti disalahkan, bersifat defensif, dan selalu ingin mendapat sorotan. Itulah mengapa saya percaya seutuhnya akan zodiak saya. Gemini. 2 sosok dalam satu bintang.
Namun terlalu banyak berpikir membuat saya buta akan realita. Teman saya pernah mengajarkan saya mengenai realita. Saya harus segera bangun dari tidur panjang saya dan menghadapi realita tersebut. Bahwa saya bukan remaja belasan tahun lagi. Saya punya tanggung jawab tidak hanya untuk hidup sendiri. Dan realita bahwa jika saya diusir, saya tidak punya apa-apa. Realita itu yang akan saya hadapi sekarang. Walau sudah terlambat untuk menyadarinya.
Segala sesuatu berjalan tidak baik akhir-akhir ini. Ini bukan keluhan, tapi ini realita. Penyemangat nomer satu saya yaitu teman-teman saya terjebak dalam masalah pelik mereka sendiri. Saya yang dulu akan meluangkan waktu saya untuk mencampuri urusan mereka. Melakukan inter'Friend'tion, gabungan dari kata intervention dengan sisipan friend.
Namun keadaan saya belum baik untuk melakukan itu sekarang. Saya hanya tidak bisa melihat apa yang ada di sekitar saya menjadi hancur bercerai berai. Tapi saya tidak dalam kondisi prima untuk menyatukannya. Apapun yang mereka putuskan sebenarnya itu adalah hak mereka. Mereka tidak memiliki kewajiban untuk menjaga hubungan baik satu sama lain. Tidak ada undang-undang yang mengatur itu. Namun setidaknya berhentilah mengganggu saya.
Bukan karena saya kalian berhenti menyapa. Bukan karena saya kalian menyimpan dendam. Dan bukan karena sayalah cinta itu ada. Jalani hidup kalian dengan baik. Tapi bagaimana pun teman adalah penyemangat yang terbaik untuk menjalani hidup. Tapi masalahnya saya tidak bisa mencarikan teman yang seperti itu untuk kalian. Jadi silahkan carilah teman yang sesuai kriteria kalian.
Saya selalu berusaha optimis menatap realita yang ada. Saya berusaha menyingkirkan sifat naif yang tampaknya sudah melekat pada diri saya. Jika mungkin saya boleh membuat resolusi ditahun ini, saya hanya ingin lebih dewasa. Namun saya tetaplah Gemini yang tampak bersemangat penuh gairah namun pemarah didalam. Dan sebenarnya ingin menjadi lebih dewasa adalah harapan yang sama sekali tidak dewasa.
Yah mau diapakan lagi. Saya tidak punya wewenang mengatur kehidupan orang lain. Saya bukan pemain catur yang dengan mudah mengatur bidak-bidak caturnya. Saya hanyalah saya, berusaha sebaik mungkin menjadi orang yang baik dan teman yang asyik. Sejarah pertemanan saya selalu berakhir singkat karena saya tidak pernah menetap disatu tempat lebih dari 3 tahun. Jadi jika saya bisa punya teman banyak, saya tidak akan rela melepasnya. Walau mereka menyimpan rahasia dibelakang saya.
Yaaah lagi-lagi inilah realita yang ada. Semakin bertambah usia kita semakin jauh juga kita dengan teman-teman kita. Yang ada hanyalah partner bisnis, teman kerja, atau tetangga sebelah rumah. Sangat disayangkan kalau semua yang saya banggakan hanya akan menjadi kenangan. Sudah dulu ah ngomong seriusnya. Ntar dikira saya mau ikutan nyaleg lagi. Ngomongin calegjadi inget pemilu. Jadi keinget juga kalo si Satria bergitar mau nyapres. Duh. Baiklah. Sekian. Jaga kesehatan kalian baik-baik ya. Maturnuwun,
Ngomong-ngomong ini post pertama saya di tahun 2014 lho. Wah menyenangkan sekali punya tempat untuk menyampaikan aspirasi. Alih-alih membahas soal politik, ekonomi, dan hankam saya malah asyik membicarakan kehidupan orang lain. Yang tentu saja sebagian besar ada di kehidupan saya. Yah mau diapakan lagi, hidup saya tidak bisa jika tidak mengamati kehidupan orang lain. Karena saya yakin, saya bisa belajar banyak dari kehidupan orang lain.
Pada post-post terakhir saya di bulan Desember kemarin saya sibuk membicarakan teman-teman SMA saya. Individu-individu yang memiliki kemungkinan besar untuk menghabiskan malam tahun baru bersama saya. Namun ternyata perkiraan saya meleset. Saya mengkhianati mereka dengan pergi bersama teman-teman organisasi saya. Menyebalkan? Bukan, itulah pilihan. Dan saya harap saya tidak menyesali pilihan tersebut.
Sesungguhnya aneh juga jika kita berpikir mengenai identitas kita. Tentu mayoritas dari kita adalah orang muslim, tapi mengapa kita begitu semangat memperingati tahun baru masehi. Sesuatu yang berbeda dari ajaran yang kita ketahui. Tapi itulah hidup, jangan terlalu banyak dipikirkan, jalani saja. Jika tidak bahagia di akhirat, setidaknya kita sudah bahagia di dunia. Terdengar atheis? Tapi inilah realita.
Sebagian besar waktu saya di tahun 2013 saya dedikasikan untuk keluarga. Terkadang saya berperang dengan batin saya mengenai apa yang sedang saya lakukan dan apa yang akan saya lakukan. Namun sebagian besar jawaban dari pertanyaan saya hanyalah omong kosong. Sampai pada waktunya saya baru menyadari bahwa saya terlalu banyak mengeluh. Bukan mengeluh dalam arti kekanakan, namun mengeluh kepada tuhan.
Dari hobi saya belajar dari kehidupan orang lain saya baru paham akan arti kata bersyukur. Teman saya mungkin tidak seberuntung saya. Beberapa sudah yatim, ada yang tidak akur dengan keluarganya, ada yang menyimpan kehidupan pribadinya rapat-rapat dari keluarganya. Namun saya tidak demikian. Tapi saya masih saja mengeluh mengapa saya dilahirkan dari keluarga ini. Padahal kawan-kawan saya itu bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Sedangkan saya, terisolasi dalam suasana hati yang hitam.
Banyak mungkin yang menggambarkan saya sebagai sosok periang penuh semangat dan peduli pada orang lain. Namun itulah yang saya pelajari mengenai pencitraan. Saya yang sebenarnya adalah manusia yang naif, pendendam, dan sangat anti disalahkan, bersifat defensif, dan selalu ingin mendapat sorotan. Itulah mengapa saya percaya seutuhnya akan zodiak saya. Gemini. 2 sosok dalam satu bintang.
Namun terlalu banyak berpikir membuat saya buta akan realita. Teman saya pernah mengajarkan saya mengenai realita. Saya harus segera bangun dari tidur panjang saya dan menghadapi realita tersebut. Bahwa saya bukan remaja belasan tahun lagi. Saya punya tanggung jawab tidak hanya untuk hidup sendiri. Dan realita bahwa jika saya diusir, saya tidak punya apa-apa. Realita itu yang akan saya hadapi sekarang. Walau sudah terlambat untuk menyadarinya.
Segala sesuatu berjalan tidak baik akhir-akhir ini. Ini bukan keluhan, tapi ini realita. Penyemangat nomer satu saya yaitu teman-teman saya terjebak dalam masalah pelik mereka sendiri. Saya yang dulu akan meluangkan waktu saya untuk mencampuri urusan mereka. Melakukan inter'Friend'tion, gabungan dari kata intervention dengan sisipan friend.
Namun keadaan saya belum baik untuk melakukan itu sekarang. Saya hanya tidak bisa melihat apa yang ada di sekitar saya menjadi hancur bercerai berai. Tapi saya tidak dalam kondisi prima untuk menyatukannya. Apapun yang mereka putuskan sebenarnya itu adalah hak mereka. Mereka tidak memiliki kewajiban untuk menjaga hubungan baik satu sama lain. Tidak ada undang-undang yang mengatur itu. Namun setidaknya berhentilah mengganggu saya.
Bukan karena saya kalian berhenti menyapa. Bukan karena saya kalian menyimpan dendam. Dan bukan karena sayalah cinta itu ada. Jalani hidup kalian dengan baik. Tapi bagaimana pun teman adalah penyemangat yang terbaik untuk menjalani hidup. Tapi masalahnya saya tidak bisa mencarikan teman yang seperti itu untuk kalian. Jadi silahkan carilah teman yang sesuai kriteria kalian.
Saya selalu berusaha optimis menatap realita yang ada. Saya berusaha menyingkirkan sifat naif yang tampaknya sudah melekat pada diri saya. Jika mungkin saya boleh membuat resolusi ditahun ini, saya hanya ingin lebih dewasa. Namun saya tetaplah Gemini yang tampak bersemangat penuh gairah namun pemarah didalam. Dan sebenarnya ingin menjadi lebih dewasa adalah harapan yang sama sekali tidak dewasa.
Yah mau diapakan lagi. Saya tidak punya wewenang mengatur kehidupan orang lain. Saya bukan pemain catur yang dengan mudah mengatur bidak-bidak caturnya. Saya hanyalah saya, berusaha sebaik mungkin menjadi orang yang baik dan teman yang asyik. Sejarah pertemanan saya selalu berakhir singkat karena saya tidak pernah menetap disatu tempat lebih dari 3 tahun. Jadi jika saya bisa punya teman banyak, saya tidak akan rela melepasnya. Walau mereka menyimpan rahasia dibelakang saya.
Yaaah lagi-lagi inilah realita yang ada. Semakin bertambah usia kita semakin jauh juga kita dengan teman-teman kita. Yang ada hanyalah partner bisnis, teman kerja, atau tetangga sebelah rumah. Sangat disayangkan kalau semua yang saya banggakan hanya akan menjadi kenangan. Sudah dulu ah ngomong seriusnya. Ntar dikira saya mau ikutan nyaleg lagi. Ngomongin calegjadi inget pemilu. Jadi keinget juga kalo si Satria bergitar mau nyapres. Duh. Baiklah. Sekian. Jaga kesehatan kalian baik-baik ya. Maturnuwun,
Subscribe to:
Posts (Atom)